
Selesai sholat Maghrib Vanya belajar di kamarnya, ketika tengah fokus menghitung tiba-tiba pintu di ketuk.
Tok tok tok.
Vanya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Ada apa Van?" tanya Vanya pada Vano.
"Gw mau keluar seperti biasa nanti kalau ada orang yang ketuk pintu jangan di buka, gw udah bawa kunci sendiri." ucap Vano.
"Emang kamu mau pergi ke mana?"
"Gw mau ke acara tahlilan teman gw yang meninggal."
"Oh ya udah hati hati di jalan."
"Iya gw pergi dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Eh tunggu Van!" cegah Vanya saat Vano akan melangkahkan kakinya pergi.
"Ada ap...a." Vano diam membeku melihat apa yang Vanya lakukan.
Vanya mengambil tangan kanan Vano dan setelah itu dia mencium punggung tangan Vano.
"Gak ada apa-apa kok cuma mau salim aja. Ya udah katanya kamu mau berangkat."
"Hah. Oh iya aku pergi dulu."
Vano segera pergi dari sana sebelum ketahuan oleh Vanya bahwa dia salting.
"Hufft. Kenapa gw jadi salting ya tadi." ucap Vano sambil memasang helm full face nya.
Vano melajukan motornya menuju kediaman almarhum Yoyon teman temannya bilang kalau mereka sudah ada di sana tinggal Vano yang belum sampai.
-
"Pokoknya aku harus bisa ambil hati Vano lagi. Mumpung ada kesempatan jadi aku harus memanfaatkannya." ucap Vanya saat Vano sudah pergi dari hadapannya.
"Manfaatkan pertemanan ini dan ambil hatinya." ucapnya lagi.
Vanya masuk ke dalam kamar dan melanjutkan kegiatan belajarnya.
-
Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruangan yang bernuansa gelap terlihat seseorang sedang melakukan panggilan telepon.
"Ada berita apa?" tanya orang itu.
"Gini bos, sepertinya William tengah menikah kan anak pertamanya secara sembunyi sembunyi." jawab orang yang ada di sebrang telepon.
"Selidiki lebih dalam."
__ADS_1
"Baik bos."
Tut.
panggilin di putuskan sepihak oleh orang itu.
Prang.
Suara benda yang tak lain adalah ponsel yang di lemparkan ke arah cermin yang ada di ruangan gelap itu.
"Damn. William kita liat aja apa yang bakal saya lakukan terhadap perusahaan mu." ucap orang itu dengan murka.
Kita sebut saja dia mister X.
"Halo." ucap mister X setelah mengambil salah satu ponselnya yang berada di meja.
"..."
"Tunggu perintah dari saya, setelah itu kita hancurkan perusahaan William."
Tut.
"William, William, William." gumam orang itu sambil tersenyum misterius.
-
"Baru datang lo Van." sambut Galang saat melihat kedatangan Vano.
"Menurut lo."
Vano menatap Galang dengan tajam yang membuat bulu kuduk Galang berdiri.
"Hehehe maap Van, jangan gitu napa liat gw nya ngeri tau." ucap Galang sambil nyengir.
"Van lo di cariin sama pak RT katanya mau membicarakan soal kegiatan tahlil yang akan di laksanakan selama 7 malam." ucap Rangga saat sampai di hadapan Vano dan Galang.
"Di mana pak RT nya."
"Ada di dalam, orangnya yang pakai peci item." jawab Rangga santai.
"Ngga lo kalau mau ngelawak liat situasi napa." ucap Galang yang tak habis pikir dengan jawaban Rangga.
Sedangkan Vano yang tadi sudah berdiri dari tempat duduknya kembali duduk lagi dan menatap Rangga tanpa ekspresi.
"Lah kalian ngapain liatin gw kayak gitu, salah gw di mana?"
"Mata lo masih normal kan Ngga."
"Ya masih lah Lang, gila kali seorang Rangga orang paling tampan matanya minus."
"Trus kalau masih normal, lo liat dong gimana keadaan sekitar orang orang di sini pakai peci apa kebanyakan."
"Item." jawab singkat Rangga setelah mengikuti perintah Galang untuk melihat keadaan sekitar.
__ADS_1
"Trus tadi lo bilang pak RT orangnya yang mana?"
"Yang pakai peci item."
"Jadi maksud lo mereka semua itu pak RT gitu." ucap Galang dengan kesal sambil menunjuk orang orang yang pakai peci item.
"Ya bukan lah, lo gimana sih Lang. Mangkanya kalau pelajaran PPKn lo itu jangan bolos jadi gak tahu kan di setiap kampung itu kepala RT hanya satu."
"Lo juga kalau pelajaran biologi jangan bolos. Kalau nyebutin ciri ciri seseorang orang itu yang jelas jangan yang pasaran. Lo sebutin kek tingginya seberapa warna rambutnya apa trus idungnya pesek atau mancung gitu, nih lama lama gw pindah ke Mars, kesel banget punya teman napa kayak gini." omel Galang pada Rangga.
Sedangkan Rangga hanya bingung dengan maksud Galang, apa hubungannya pak RT dengan pelajaran biologi. pikir Rangga.
Seperti biasa Vano hanya akan diam ketika kedua temannya sedang ribut, seolah ity itu adalah makanannya setiap hari.
"Udah Van lo gw antar aja nyari pak RT nya kita tanya ke orang orang." ucap Galang sambil menyeret tangan Vano memasuki rumah almarhum Yoyon.
"Woy gw napa di tinggal." teriak Rangga dan segera mengejar Vano dan Galang.
skip.
Selesai acara tahlilan Galang minta antar Vano untuk pergi ke club karena dia ingin memergoki pacarnya yang sedang selingkuh dengan Om Om hidung belang.
"Van jangan bilang ke Rangga kalau gw minta anter lo ke club buat mergoki pacar gw yang jadi jal*ng nya Om Om." ucap Galang saat berada di sebelah Vano.
"Lah emang kenapa, biasanya juga kita apa apa selalu bertiga." jawab Vano.
"Iisss lo mah gitu, nanti gw di ejek ejek lah. Masak seorang Galang si playboy sekolah kalah sama Om Om."
"Iya nanti gw diam."
"Nah gitu dong itu baru Vano sahabat gw." sambil merangkul pundak Vano.
"Cihh. Kalau ada maunya aja baik baikin gw."
"Hehehe kayak lo gak tau gw aja." jawab Galang.
Mereka pun pergi dahulu untuk ke club malam setelah berpamitan kepada Rangga dan yang lainnya dengan alasan yang dapat di percaya.
Sesampainya mereka di club, Galang dan Vano segera masuk ke dalam.
Suasana club yang sangat mendominasi dengan musik DJ dan bau minuman beralkohol mulai masuk ke Indra penciuman Vano.
"Kalau bukan karena bantu Lo gw gak akan mau datang ke sini." ucap Vano pada Galang dengan suara yang keras agar bisa di dengar oleh Galang.
Bagi Vano club adalah salah satu tempat yang amat di benci dan semuanya yang ada di dalamnya, kecuali alkohol. Tapi Vano tidak pernah mau minum alkohol di club, dia biasanya minum alkohol di apartemennya atau di apartemen Galang atau Rangga.
"Hahaha.. Lo mau ikut gw nemuin jal*ng itu atau mau nungguin gw di kursi sana?" tanya Galang sambil menunjuk kursi yang kosong.
"Ogah gw liat begituan, lo aja yang ke sana gw tunggu in lo di kursi itu."
"Ok gw pergi dulu."
Vano tidak menjawab ucapan Galang, dia berjalan menuju kursi yang kosong tadi dan mendudukkan tubuhnya di sana.
__ADS_1
"Permisi mas mau pesan minum?"
...***...