
Vano celingukan mencari sosok yang dia rindukan selama beberapa hari ini, siapa lagi jika bukan istrinya.
"Eemm..." Vano berdehem.
"Kenapa Van?" tanya papa Wijaya.
"Vanya mana pa?" tanya Vano.
"Oh Vanya dia tadi pergi ke rumah sakit mau jemput..." belum selesai papa Wijaya berbicara Vano sudah memotongnya.
"Ke Rumah sakit." Potong Vano yang di angguki oleh papa Wijaya serta mama Vani.
"Ya udah kalau gitu Vano pamit pergi dulu ma pa." pamit Vano dan segera menyalimi kedua mertuanya.
"Loh kamu mau kemana Van? Kamu gak mau sarapan dulu di sini."
"Enggak deh ma Vano pergi dulu Assalamualaikum." tolak Vano dan segera berlari keluar rumah.
"Waalaikum salam." jawab mama Vani dan papa Wijaya.
"Vano kenapa sih pa?"
Papa Wijaya hanya mengangkat bahu tidak tahu.
Mereka pun melakukan sarapan hanya berdua saja tanpa anak juga menantunya.
-
Setelah keluar dari rumah mertuanya, Vano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap cepat sampai di rumah sakit
"Ehh tunggu tunggu." Vano menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Rumah sakitnya yang mana? Aduh Vano buru buru boleh tapi bodoh jangan." mengatai dirinya sendiri.
Vano mencari ponsel guna menelfon anak buahnya yang bertugas untuk mengawasi Vanya.
"Halo bos." sapa orang di sebrang telepon.
"Apa nama rumah sakit yang Vanya datangi waktu itu?" tanya Vano.
"Rumah sakit XXX bos." jawab anak buah Vano.
Tut ...
Setelah mematikan telfon dengan anak buahnya, Vano melakukan sambungan telepon lagi dengan asisten Rudi.
"Halo tuan muda." sapa asisten Rudi.
"Gimana udah siap kan?" tanya Vano.
"Sudah tuan."
__ADS_1
"Bagus, suruh semua orang yang bekerja di sana kembali ke tempat mereka jangan sampai salah satu dari mereka ada di mansion utama." perintah Vano.
"Segera saya laksanakan tuan muda." jawab asisten Rudi.
Tut....
Hei buat kalian semua tolong ajarin Vano sopan santun dong, masak sama orang tua ngelamak gitu. 😂
Setelah meletakkan ponselnya ke dalam saku jaketnya, Vano segera menjalankan mobilnya kembali menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh anak buahnya tadi.
-
Sampai di parkiran rumah sakit Vano turun dengan langkah cepat Vano masuk ke dalam rumah sakit. Banyak pasang mata yang melihat kearah Vano. Terutama kaum hawa, mereka menatap kagum ke arah Vano, bahkan ada yang mengedipkan matanya manja, tapi bukan Vano namanya jika dia akan tergoda oleh wanita wanita itu. Hanya satu nama yang ada di hati Vano, yaitu VANYA FAIROSA WIJAYA.
Sampai di dalam rumah sakit Vano bingung mau kemana, dia lupa tidak menanyakan kepada anak buahnya di mana ruangan laki laki itu.
"Hufft... sabar Vano sabar. Lo jangan buru-buru gini, lo harus tenang biar lo gak bodoh bodoh banget." gumam Vano.
Vano pun mengambil ponselnya di saku jaket, tapi saat akan memencet tombol panggilan dia melihat Vanya sedang merangkul lengan laki laki yang dia yakini laki laki itu sama dengan yang berada dalam foto waktu itu.
"****." darah Vano mendidih melihat pemandangan di depannya.
Di mana wanita yang sangat dia cintai bahkan sekarang dia sangat merindukan wanita itu. Tapi lihatlah sekarang wanitanya itu tengah mengandeng mesra lengan seorang laki-laki bahkan kalau di lihat Vanya tengah tersenyum bahagia.
Vano berjalan dengan cepat menuju ke arah Vanya, setelah sampai dia dengan gerakan cepat melepas paksa pegangan tangan Vanya dan laki laki itu yang tak lain adalah Farrel.
"Vano." kaget Vanya saat melihat wajah Vano di depannya.
"Ikut gw." menyeret tangan Vanya secara paksa untuk mengikutinya.
"Apaan sih Van, lepasin." tolak Vanya berusaha melepaskan cengkraman di tangannya.
Bukannya melepaskan, Vano malah semakin kuat mencengkram pergelangan tangan Vano hingga Vanya merasa sakit di pergelangan tangannya.
"Gw gak suka di bantah." ucap Vano menatap tajam Vanya.
Nyali Vanya pun menciut, akhirnya dia mengalah saja dari pada mereka harus menjadi perhatian orang orang yang ada di sana.
"Oke oke aku ikut kamu, tapi berhenti dulu." ucap Vanya.
Mendengar itupun Vano menghentikan langkahnya dan menatap ke arah wajah Vanya.
"Lepasin dulu tangannya, sakit tauk." ucap Vanya.
Vano pun menurut saja apa yang Vanya katakan, Vano melepaskan pergelangan tangan Vanya.
Setelah terlepas Vanya berbalik dan hendak menghampiri Farrel yang tertinggal di belakangnya tapi segera di hentikan oleh Vano.
Vano menatap Vanya dengan tajam, seolah melarang Vanya untuk menghampiri Farrel.
"Hany sebentar, setelah itu aku janji akan ikut kamu." ucap Vanya memberi pengertian kepada Vano dengan sabar.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun akhirnya Vano membiarkan Vanya menemui Farrel.
"Kak Vanya pulang dulu ya, kakak nanti pulangnya di antar sopir gapapa kan?" Vanya merasa gak enak kepada Farrel.
"Iya gapapa kamu gak usah khawatir dengan kakak." Jawab Farrel dengan senyuman yang menghiasi wajahnya yang membuat Vano mencibir kesal.
"Ngapain coba pakai senyum senyum segala, masih tampan an juga muka gw." gumam Vano dengan bibir komat kamit kayak mbah dukun.
"Ya udah Vanya pergi dulu ya." pamit Vanya.
"Iya kamu hati hati ya, nanti kalau suami kamu berbuat kasar sama kamu, kamu bilang sama aku biar aku ajak dia balapan." sambil mengusap rambut Vanya yang membuat orang yang melihatnya dari jauh kebakaran jenggot.
"Kok balapan sih." ucap Vanya dengan cemberut.
"Ayo pulang." menyeret Vanya pergi meninggalkan Farrel.
"Kakak Vanya pulang duluan daaa... hmpppp"teriak Vanya yang mendapat sumpalan tangan di mulutnya dari Vano.
"Lemppasiun." ucap Vanya berusaha melepaskan tangan Vano yang ada di mulutnya.
Vano pun melepaskan tangannya setelah keluar dari dalam rumah sakit.
"Huh huh. Kamu gila ya, gimana nanti kalau aku kehabisan nafas trus mati." ucap Vanya setelah pernafasannya kembali normal.
"Ya jangan dong, masak gw harus jadi duda muda sih kan gak lucu. Lagian juga orang nafas tuh pakai hidung bukan pakai mulut." Vano membalas ucapan Vanya.
"Kamu gak sadar apa, tadi tangan kamu itu bukan cuma nutup mulut aku aja tapi juga hidungku. Sadar dong tangan kamu itu Segede gajah bukan semut." omel Vanya.
"Emang iya? Ya udah maaf deh."
Vanya menyilangkan tangannya di depan dada sambil menatap ke arah lain.
"Maafin ya ya ya." mohon Vano.
Setelah beberapa saat Vano sadar, kenapa malah dia yang minta maaf kan seharusnya tadi dia yang marah.
"Kok malah gw yang minta maaf." ucap Vano yang berhasil membuat Vanya menatap ke arah Vano.
"Lah emang kamu yang salah."
"Gak ada, gw gak ada salah. Udah ayo kita pulang, kita selesaikan masalah ini di kamar." menarik tangan Vanya dan memasukkan Vanya kedalam mobil.
Setelah itu Vano menyusul masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya.
...***...
Apa nih di kamar 😂
Ada yang tau?
3 part sehari nih gada niatan beri vote gituðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1