
"VANYA." teriak Vano dan segera berlari menghampiri Vanya.
Vano melupakan makanan yang ada di tangannya hingga sampai dia buang ke sembarang tempat.
Byur.
Suara benda terjatuh ke dalam kolam renang.
"VANYA." teriak Cindy geram lantaran dialah yang tercebur ke dalam kolam renang.
Ya, tadi saat Vano berteriak Vanya baru mengetahui kalau di belakangnya ada kolam renang. Dan kebetulan saat itu juga Cindy hendak mendorongnya ke kolam renang. Dengan gerakan cepat, Vanya menghindar ke samping.
Vano yang berlari menghampiri Vanya pun memanfaatkan kesempatan itu untuk sekalian berbalik mendorong Cindy masuk ke kolam renang. Alhasil sekarang Cindy lah yang sudah basah kuyup seperti kucing yang di siram lantaran nakal.
"Sayang kamu gak papa kan?" tanya Vano khawatir sambil memegang kedua pundak Vanya.
"Iya aku gak papa, untung aja tadi kamu menyadarkan aku kalau di belakang aku ada kolam renang." balas Vanya.
"Syukurlah kalau begitu." lega Vano.
"Untuk kalian semua dengar," ucap Vano tiba tiba membuat semua orang fokus terhadap dirinya.
"Jangan ada yang berani di antara kalian membicarakan Vanya ataupun calon anak kita sekata pun itu," ucap tegas Vano dengan keras sehingga membuat semua orang yang ada di sana mendengarnya.
Mereka yang mendengar Vano menyebutkan kata anak kita pun syok, mereka berasumsi kalau Vano dan Vanya melakukan hal itu saat mereka masih pacaran dulu sehingga Vanya bisa sampai hamil.
"Jika kalian bilang kalau anak yang di kandung Vanya adalah anak haram, maka lidah kalian gak pantas berada di tempatnya. Saya tegaskan di sini, Vanya adalah istri saya. Saya menikah dengan Vanya waktu sehabis pulang dari perkemahan kelas sebelas. Sehabis saya keluar dari rumah sakit yang waktu itu kaki saya kepatok ular. Kita di jodohkan oleh kedua orang tua kita, dan untuk calon anak saya ini jelas bukan anak haram karena ini adalah anak saya dan Vanya setelah kita menikah. Dan jika kalian berfikir Vanya pindah sekolah daring karena Vanya tengah hamil maka itu jawaban adalah benar. Dan itu saya sendiri yang mengusulkan nya. Jadi saya tegaskan sekali lagi kalau Vanya adalah istri saya dan calon anak saya bukanlah anak haram. Kalau sampai di antara kalian bilang anak saya anak haram lihatlah apa yang akan saya lakukan nanti." ucap Vano panjang lebar.
"Kita pulang aja yuk." lanjut Vano mengajak Vanya pulang dan di angguki Vanya.
"Vanya lo gak papa kan?" tanya Sonya dan Sisil khawatir.
"Iya gw gak papa kok." balas Vanya ramah.
"Lo gak papa kan Van, sorry tadi gw ajak Sonya jadi lo sendirian di sini." ucap Galang.
"Iya gak papa, lagian gw juga gak ada yang luka kok." balas Vanya.
"Gw sama Vanya mau pulang duluan, kalian mau ikut gak?" tanya Vano.
"Ikut ajalah, toh kita udah kenyang juga." balas Rangga.
"Ya udah yuk, kita pamit ke Maya dulu." ajak Vano.
Akhirnya mereka berenam pun memutuskan untuk pulang meninggalkan pesta itu terlebih dahulu.
__ADS_1
Sedangkan Cindy dia sudah naik ke atas permukaan di bantu oleh orang yang ada di sana.
"Lo gak papa kan Cin?" tanya Kia khawatir.
"Menurut lo?" marah Cindy.
Dan setelah itu Cindy pun pergi meninggalkan pesta itu juga dengan rasa dongkol akibat kegagalan rencananya.
"Tunggu pembalasan gw Van, gw gak akan tinggal diem setelah apa yang lo lakuin ke gw." ucap Cindy saat berjalan meninggalkan pesta ulang tahun Maya tanpa berpamitan dulu kepada Maya.
-
Sampai di rumah, Vano langsung menyuruh Vanya buat membersihkan tubuhnya. Dan setelah itu gantian dirinya yang mandi.
Semenjak kejadian waktu itu, Vano jadi lebih overprotektif kepada Vanya. Vano juga jadi semakin perhatian dan tak lagi menyuruh Vanya ini itu. Malahan sekarang Vano lah yang sering menyiapkan segala kebutuhan Vanya, mulai dari baju ganti buat Vanya.
Vano juga sekarang sudah jago masak, ya walaupun gak jago jago banget tapi bisalah kalau masak mie instan. Ehh enggak canda, maksud author masak nasi goreng.
"Van." pangil Vanya.
"Kenapa hmm?" tanya Vano sambil memainkan rambut Vanya yang saat ini tengah duduk bersandar di dadanya.
"Enggak."
"Kenapa hmm, coba bilang?"
"Mama? Mama yang mana?" Bingung Vano, pasalnya Panggilan untuk kedua orang tua mereka sama.
"Mama Vani." jawab Vanya.
"Ya udah ayo kamu siap siap dulu, biar aku suruh mang Udin buat siapin mobilnya." Vano menyetujui permintaan Vanya.
"Beneran?"
"Iya sayang ku."
Cup.
Mengecup bibir Vanya karena saking gemasnya.
"Ya udah aku siap siap dulu," ucap Vanya dan segera beranjak dari posisi duduknya dengan semangat ria.
"Aku akan turutin semua permintaan kamu selama aku bisa." gumam Vano memandang kepergian istrinya.
Vano pun segera menghubungi mang Udin untuk menyiapkan mobil dan tak lupa Vano juga menyuruh mang Udin untuk mengemudikan mobil.
__ADS_1
Setelah itu dia juga pergi bersiap mengganti pakaiannya, karena tadi dia hanya memakai celana pendek dan kaos lengan pendek.
-
"Hai Cindy sayang." sapa orang itu saat mereka sudah bertemu di sebuah tempat yang sangat sepi.
"Hmm." balas Cindy cuek.
"Aduh kenapa tuh mukanya, gagal ya...." ledek orang itu.
"Diem deh lo, lo juga kenapa tadi gak mau bantuin gw."
"Loh kan tadi gw udah bantuin lo, kan tadi gw udah pergi dari sana."
"Ya tapi kan tetep aja rencananya gagal."
"Pokoknya gw gak mau tahu, kita harus cepat cepat jalanin rencana kita yang sesungguhnya. Gw udah gak sabar mau siksa Vanya." lanjut Cindy.
"Tenang dong baby, besok kita lihat situasi kalau besok ada kesempatan, kita langsung jalanin rencananya." balas orang itu.
"Pokoknya gw gak mau tahu, besok harus berhasil."
"Tenang dong, dari tadi kayaknya marah marah mulu. Btw baju lo dah ganti aja, cepet amat." ucap orang itu mengamati pakai penampilan Cindy dari atas hingga bawah seperti tengah menelanjangi Cindy.
"Apa?" garang Cindy.
"Body lo oke juga, boleh gak gw cicipi." balas orang itu.
"Enak aja, emang lo berani bayar berapa?"
"Seratus, lima ratus?" tawar orang itu.
"Lima ratus juta?" tanya Cindy tak percaya di balas anggukan oleh orang itu.
"Oke gw mau." putus Cindy tanpa berfikir panjang, bagaimana dia bisa menolak kalau mau di bayar begitu malah. Biasanya saja dia paling mahal itu hanya beberapa juga, dan itu adalah ratusan juga jelas saja Cindy gak akan menolaknya.
"Ya udah yuk." ajak orang itu.
"Ehh, tapi nanti kalau pacar lo tahu gimana?" Tanya Cindy menahan pergerakan orang itu yang hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Asal mulut lo gak bocor, gak bakalan ada orang yang tahu." balas orang itu dan langsung beranjak pergi dari sana.
Cindy pun segera mengikuti langkah orang itu, dia gak sabar nanti saat menerima uang sebanyak itu akan dia gunakan buat apa. Mungkin bisa buat beli beberapa tas branded. pikir Cindy.
Untuk selanjutnya kalian tahu lah apa yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
...***...