
Farrel, Fira dan anak buahnya sudah sampai di sebuah bangunan gedung tua. Mereka segera masuk ke dalam gedung itu untuk menemui bibinya Farrel.
"Selamat datang keponakan ku tersayang." sambut Fen Wang pada Farrel.
"Gak usah basa-basi, cepat katakan di mana Vanya." ucap Farrel dengan tegas.
"Ouuhh sabar dulu dong, kamu gak mau kangen kangenan sama bibimu yang baik ini."
"Cih, katakan apa maumu?"
"Kamu tahu aja kalau bibimu ini lagi mengharapkan sesuatu."
Fen Wang mengambil sesuatu dari tasnya. Dia mengeluarkan sebuah map yang berisi beberapa kertas beserta bulpoin.
"Bibi akan kasih Vanya ke kamu asal kamu mau tanda tangan pengalihan semua harta yang di wariskan sama kamu menjadi atas nama bibi." ucap Fen Wang sambil menyerahkan map itu pada Farrel.
Farrel menerima dan membacanya dengan teliti. Sedangkan Fira yang berada di sebelah Farrel sudah bersiap untuk perang, karena dia yakin kalau Farrel akan langsung menghabisi bibinya itu agar tidak membuang waktu.
"Apakah tidak ada pilihan lain selain ini?" tanya Farrel.
"Ya itu terserah kamu, kalau kamu mau Vanya mati ya kamu gak usah tanda tangan." jawab Fen Wang santai.
"Hei lepasin tangan kamu." ucap Fen Wang karena Farrel tiba tiba mencengkram kerah bajunya.
"Anda jangan berani sentuh Vanya, atau anda akan tahu akibatnya." tekan Farrel sambil mengertakkan giginya.
Anak buah Fen Wang pun mendekat bersiap untuk menyerang Farrel, tapi di larang oleh Fen Wang.
"Rel udah Rel, mendingan lo tanda tangan aja kasian Vanya kalau sampai dia kenapa napa. Kalau soal harta nanti bisa di cari lagi, tapi kalau nyawa..." ucap Fira menggantung sambil memegang tangan Farrel agar melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju bibinya.
"Huh." Farrel melepaskannya dengan kasar sambil membuang nafas.
Fen Wang pun di tahan oleh anak buahnya agar tidak jatuh ke lantai.
"Tuh dengerin apa kata cewek kamu, nyawa lebih penting dari pada harta. Emang kamu mau kehilangan orang yang kamu sayang seperti kamu kehilangan kedua orang tua kamu." ucap Fen Wang mengingatkan Farrel dengan kejadian beberapa tahun silam.
"Dan itu semua gara gara anda." balas Farrel menunjuk wajah Fen Wang.
"Kamu jangan asal nuduh ya." elak bibinya Farrel.
"Dari mana dia tahu." pikir Fen Wang.
"Anda tidak perlu repot-repot untuk menutupi hal itu nyonya Fen, saya sudah tahu semuanya." sambil menaikkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Udah saya gak punya banyak waktu buat debat dengan anda, saya akan tanda tangan tapi saya minta Vanya di bawa ke sini dulu." lanjut Farrel.
Fen Wang kebingungan, bagaimana caranya dia membawa Vanya. Sedangkan untuk. Nyentuh seujung rambut Vanya aja tidak boleh.
"Kalau soal itu kamu tenang aja, kamu tanda tangan dulu, Vanya masih dalam perjalanan menuju ke sini." bohong Fen Wang.
"Baiklah kalau gitu." final Farrel.
"Dasar bodoh." maki Fen Wang pada Farrel dalam hati.
"Tapi gimana tanda tangannya di sini gak ada meja, boleh pinjam punggung anda tidak?" pinta Farrel.
"Oh iya boleh silahkan." setuju Fen Wang tanpa berpikir terlebih dahulu, karena di depan matanya sudah berisikan harta, harta dan harta.
Farrel tersenyum smirk dan segera menyuruh Fen Wang untuk berbalik badan dan segera meletakkan map itu di punggung Fen Wang.
"Gimana sudah belum?" tanya Fen Wang karena merasa Farrel tidak merasa ada pergerakan tangan Farrel di punggungnya.
"Bentar." jawab Farrel.
Farrel sudah menyiapkan apa yang Vano buat di kukunya dan siap untuk menyuntikkan nya pada Fen Wang.
"Ehh ada semut." ucap Farrel dan...
Farrel menyuntikkan ramuan itu dan seketika tubuh Fen Wang bergetar. Dan Farrel pun segera menjauhkan tubuhnya dan Fen Wang.
"Hei apa yang kalian lakukan pada nyoya kami?" tanya salah satu anak buahnya menunjuk Farrel.
"Menurut mu? Gak lama lagi bos kalian bakal memberikan pertujukan yang seru." jawab Farrel.
"Serang aja Rel, kita gak punya banyak waktu." bisik Fira.
"Gas.."
"Serang...kyakk..."
Bug bug bug.
Mereka pun adu jotos di gedung tua itu yang sudah jelas di depan mata kalau Farrel dkk lah yang bakal menang, secara anak buah yang Fen Wang bawa itu skill bela diri nya masih di bawah anggota WD.
Bug krak bug.
Mereka terus berantem hingga semua anak buah Fen Wang terkapar tak berdaya di lantai yang usang itu, sedangkan anggota WD hanya beberapa saja yang luka itu pun tidak terlalu parah.
__ADS_1
"Kalian bawa nih orang gila ke markas, dan jangan lupa juga semua anak buahnya. Saya sama Farrel mau pergi membantu Vano." perintah Fira dan segera pergi bersama Farrel.
Keadaan Fen Wang saat ini seperti orang gila yang sudah kronis, dia mencakar pipinya sendiri, menjambak rambutnya, membenturkan kepalanya di lantai dan masih banyak lagi tingkahnya yang membuat anggota WD bergidik ngeri. Seganas itukah ramuan yang Vano buat hingga reaksinya langsung saat itu juga. pikir para anggota WD.
-
"Van, gw masuknya lewat mana?" tanya Lucas via Wh**sApp.
Ya, sekarang Lucas sudah berada di belakang mobil Vano yang terparkir jauh dari mansion Marvel.
Kalian jangan masuk dulu, tunggu perintah dari gw. Gw masih mau cari tahu alasan kenapa Marvel nyulik Vanya.
Balas pesan Vano.
Lucas pun memutuskan untuk menunggu di dalam mobil sambil mengisi beberapa peluru ke dalam pistol yang pelurunya sudah habis untuk persiapan nanti. Dia menyimpannya di balik jas hitam yang dia pakai, tak hanya satu yang dia bawa, melainkan langsung lima pistol sekaligus. Dan tak lupa pula dia juga membawa pisau lipat yang dia letakkan di saku jas celana. Lucas juga menghubungi anak buahnya agar bersiap terlebih dahulu sebelum beraksi nanti.
-
"Gimana, apakah kelinci kecilku sudah sadar?" tanya Marvel pada tangan kanannya.
"Sepertinya sudah tuan, karena obat bius yang kita gunakan kepadanya itu hanya bertahan paling lama tiga jam, dan ini sudah lebih dari 3 jam dari penculikan tadi." jawab tangan kanan Marvel.
"Kalau gitu antar saya ke sana." pinta Marvel berdiri dari kursi kebesarannya.
"Baik tuan."
Mereka pun berjalan menuju kamar yang di tempati oleh Vanya dan Vano.
Sementara itu Vano masih bermanja manja memeluk tubuh Vanya dengan erat.
"Van lepasin deh, enggap akunya." mohon Vanya.
"Gak mau." tolak Vano dengan nada yang menggemaskan.
"Vano jangan mulai deh, kamu udah kelamaan di sini. Nanti keburu ada yang masuk."
"Kalau ada yang masuk ya kita ketangkap." balas Vano santai sambil mendusel duselkan kepalanya di leher Vanya.
"Tapi Van..."
Tak tak tak.
Ceklek.
__ADS_1
...***...