My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 126


__ADS_3

"Van gw langsung pamit pulang aja, gak kuat gw kalau nanti di kerjain adik lo lagi." bisik Farrel pada Vano yang duduk di sebelahnya.


Sekarang mereka lagi duduk duduk santai di ruang televisi sehabis makan tadi.


"Gimana adik gw, masih mau lo bilang gemesin?" tanya Vano dengan agak mengejek dikit.


"Sial** jadi selama ini lo ngerjain gw."


"Menurut lo." sambil tersenyum mengejek.


"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya mama Fara yang sedang membolak-balik majalah di pangkuannya.


"Kita gak ngomongin apa apa kok, ya gak Van?"


"Siapa bilang, bukannya lo tadi lagi ngomongin Vino."


"Aaaww, sakit beg*." Vano kesakitan karena kakinya di injak sama Farrel.


"Mama omongan kak Vano gak baik, kan kuping Vino jadi tercemar."adu Vino pada mamanya.


"Dih tercemar, kali ahh." decih Vano.


"Vano." tekan mama Fara agar Vano diam.


"Iya iya Vano yang salah." Vano mengalah dari pada nanti makin panjang.


"Van lo setiap hari kalau ketemu adik lo gini." bisik Farrel lagi pada Vano.


"Hmm." jawab Vano.


"Eemm ya udah Om Tante Farrel mau pamit pulang dulu." pamit Farrel sebelum nanti dia kena di kerjain Vino lagi.


"Loh kok kak Farrel pulang sih, padahal kan Vino masih mau main sama kak Farrel." pura pura sedih dengan kepergian Farrel.


'Gw pergi juga supaya gak lo kerjain.' batin Farrel.


"Vano sama Vanya juga mau pamit dulu ma, soalnya masih ada yang mau Vano kerjain di rumah." pamit Vano juga.


"Mau ngerjain apaan lo Minggu Minggu gini, jangan bilang lo mau gempur adik gw." tuduh Farrel.


"Kepo." balas Vano.


"Kok pada pulang semuanya sih, kan Vino jadi gak ada temennya lagi." sedih Vino.


"Nanti kan kamu bisa main ke rumah kakak." ucap Vanya yang sedari tadi diam, karena merasa kasian sama Vino.


"Gak, gak usah main main ke rumah kakak, nanti malah yang ada bikin rusuh aja." larang Vano.


"Mama...." adu Vino.


"Vano..." tekan mama Fara lagi.


"Iya iya anak mama cuma Vino doang, Vano anak pungut dah."


"Ayo sayang kita pulang." menggandeng tangan Vanya.


"Vano pamit dulu ma, pa. Assalamualaikum." Salim pada mama Fara dan papa William.

__ADS_1


"Assalamualaikum ma, pa." Salim Vanya.


"Farrel juga pamit dulu Tan, Om." pamit Farrel.


"Kalian hati hati di jalan, kalau ada apa-apa langsung kabarin papa." ujar papa William yang sedari tadi hanya diam.


"Iya pa, Om." jawab barengan mereka bertiga.


"Kok gak ada yang pamit ke Vino sih." ucap Vino yang merasa tak di anggap.


"Pa, kok rumah papa jadi serem sih, kok cuma ada suaranya doang gak ada wujudnya." ucap Vano sambil bergidik geri melihat sekitar rumah.


"Yuk yank kita pulang di sini serem." menarik tangan Vanya keluar rumah di ikuti Farrel di belakangnya yang menahan tawa.


"Dada Vino kak Vanya pulang dulu, nanti kita ketemu lagi." ucap Vanya agak berteriak karena sudah jauh.


"Iya kakak cantik, nanti kita koling koling lagi ya." balas Vino.


Vano membawa Vanya masuk ke dalam mobil, meskipun Vanya masih marah sama Vano tapi dia nurut saja dari pada berantem di sini kan gak lucu.


Sementara Farrel, dia juga memasuki mobilnya dan mereka pun segera keluar dari gerbang yang menjulang tinggi yang melingkari rumah mewah keluarga William.


"Vano, Vano, gw gak akan biarin lo bahagia setelah apa yang keluarga lo lakuin sama keluarga gw." ucap seseorang dari dalam mobil yang memantau kepergian Vano dari rumah keluarga William.


"Kalian semua kejar mobil yang depan." perintah orang itu melalui earphone yang ada di telinganya.


Setelah memerintah anak buahnya, orang itu pun segera menancap gas mengikuti mobil Vano dari kejauhan.


-


"Yank." pangil Vano sambil fokus memegang kemudi.


Tak ada jawaban, Vanya malah menatap keluar mobil menatap jalanan.


"Ayang liat sini dong, masak masih marah sih, aku beneran gak selingkuh loh." bujuk Vano agar Vanya menatap dirinya.


Tetap saja Vanya tak merespon ucapan Vano.


Pandangan Vanya fokus pada beberapa mobil yang ada di belakangnya, yang kalau di perhatikan sedari mereka pisah sama mobil Farrel mobil di belakang itu sepertinya tengah mengikuti mobil Vano.


"Aya...."


"Van." Vanya memotong ucapan Vano dengan suara agak panik.


"Apa yank kamu udah maafin aku, makasih sayang ku." ucap Vano senang.


"Bukan itu Van..." kesal Vanya.


"La trus apaan?"


"Itu mobil di belakang kita kayaknya lagi ngikuti kita deh." melihat ke belakang.


"Masak sih." melihat kaca spion, dan ternyata benar ada beberapa mobil di belakang yang tengah mengikuti mobil Vano.


"Kamu tenang ya, sekarang kamu pegangan." ucap Vano dalam mode serius.


"Aku telfon papa aja ya." usul Vanya.

__ADS_1


"Gak usah, aku bisa selesaikan ini sendiri asal kamu nurutin apa yang aku katakan."


"Tapi Van..."


"Udah kamu tenang aja jangan panik. Penganan yang kuat." perintah Vano.


Vano menoleh kearah arah Vanya memastikan bahwa Vanya sudah melakukan perintahnya, setelah di rasa aman Vano pun menarik gas dan mobil pun melaju dengan kencang menyalip nyalip kendaraan yang ada di depan mereka.


"Seperti dia sudah tahu kalau kita ikuti bos." lapor salah satu orang yang mengikuti Vano pada bos mereka.


"Tetap ikuti jangan sampai lolos, setelah sampai di tempat yang aman kalian culik wanitanya."


"Baik bos."


Seseorang itu pun senyum sambil menarik salah satu sudut bibirnya.


-


"Van jangan kencang kencang aku takut." takut Vanya, meskipun dia suka membawa mobil dengan kecepatan tinggi, untuk saat ini Vanya sangat takut karena ini terlalu kencan baginya.


"Kamu tutup mata aja kalau takut, ingat tetap pegangan yang kuat." ucap Vano fokus menghadap jalanan yang ada di depannya.


Vano mengarahkan mobilnya ke jalanan yang sepi agar tidak membahayakan pengguna jalan yang lain, tiba tiba satu mobil yang ada di belakangnya mau menyalip mobil Vano, tapi jangan harap Vano akan membiarkan hal itu terjadi.


"Cih, segitu doang kemampuan Lo." ledek Vano saat mobil tadi tidak bisa menyalip mobilnya.


"Van plis aku takut."


Vano menoleh ke Vanya, di mana dia sedang memejamkan matanya rapat, merasa Vanya sangat ketakutan Vano pun menarik tubuh Vanya dengan satu tangannya kedalam pelukannya.


"Udah kamu tenang ya, percaya sama aku." ujar Vano menengkan Vanya.


Vanya yang merasa pelukan Vano pun membuka matanya, Vanya berusaha melepaskan pelukan Vano karena takut akan menggangu konsentrasi Vano.


"Udah kamu gini aja." mengeratkan pelukannya sambil tetap fokus mengemudi.


"Nanti ganggu kamu."


"Asal kamu gak banyak gerak, kamu gak bakal ganggu aku."


Tiba tiba dari arah kanan di pertigaan depan ada sebuah mobil yang tiba tiba menghadang mobil Vano.


"Sia*." umpat Vanya melepaskan tangan Vanya dan segera memutar setir mobil ke arah kira.


"VANO." teriak Vanya.


Ciiitttt...


Vano memutar setir mobil hingga mobil berbalik arah.


"Si*l kita dikepung." umpat Vano sangat mengetahui di setiap jalan ada mobil yang menghadang mereka.


Vanya pun semakin ketakutan saat melihat banyak mobil di depannya, dia jadi teringat saat dia di culik dulu.


"Sayang. Hei liat aku." Vanya mengangkat dagu Vanya agar menatap dirinya.


Vanya menatap Vanya dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Jangan takut, aku ada di sini. Aku gak akan biarin mereka memegang kamu seujung rambut pun." Vano meyakinkan Vanya agar tidak panik.


...***...


__ADS_2