
Pagi harinya kaki Vano sudah agak bisa ajak berjalan, meskipun harus pelan pelan. Sekarang Vano tengah bersantai sambil minum kopi di balkon kamar hotel sambil menunggu Vanya bangun.
Drrtt drrtt drrtt...
Dering handphone Vano, Vano melihat ternyata yang menghubungi dirinya adalah Lucas. Vano segera mengangkat panggilan video call dari Lucas.
'Hal...'
'VANO.'
Ucapan Vano terpotong oleh teriak banyak orang dari sebrang telefon sana.
'Kalian kok bisa barengan?' tanya Vano melihat teman temannya serta teman Vanya bersama dengan Lucas.
'Nih liat, kita lagi ada di depan mansion Lo. Tapi lo nya gak ada.' balas Lucas mengarahkan kamera handphone pada mansion Vano.
'Sorry gw gak ada bilang sama kalian kalau gw lagi jalan jalan ke Korea.' Ujar Vano merasa tidak enak.
'Yah, parah lo Van masak jalan jalan gak ajak ajak kita.' ucap Galang mendramatisir.
'Gw kan mau babymoon masak iya mau ajak kalian semua, yang ada nanti kalian bakal gangguin kita.' balas Vano.
'Ehh tunggu dulu deh, lo kan lagi di Korea sama Vanya dan besok kan ada konser BTS di sana. Berarti kalian..." ucap Sonya menggantung.
'Nah tepat sekali, gw ke sini gara gara nurutin kemauan bumil yang mau nonton konser BTS.'
'Wah wah gak bisa nih, parah si Vanya ke Korea gak ajak ajak kita.' sahut Sisil heboh.
'Tau tuh, mana orangnya kok gak muncul?' tanya Sonya.
"SAYANG..." teriakkan suara Vanya dari dalam kamar.
"IYA AKU DI BALKON." jawab Vano sambil berteriak juga.
'Panjang umur tuh.' ucap Rangga yang melihat kedatangan Vanya.
"Itu siapa sih yang Vc?" tanya Vanya duduk di samping Vano dan menyenderkan kepalanya di bahu Vano karena dia masih ngantuk.
'VANYA, lo parah banget sih. Masak nonton konser gak ajak ajak kita.' suara cempreng Sisil membuat Vanya menoleh pada layar handphone Vano.
'Ehh kalian, sorry gw gak bilang bilang sama lo. Soalnya Vano ngajaknya mendadak.' balas Vanya yang menjadikan Vano sebagai alasan.
'Pokoknya nanti kalau lo ketemu sama jimin bilangin dapat salam dari Sonya orang paling cantik se-Jakarta.' ucap Sonya.
'Iya Van, gw juga titip salam sama namjoon bilangin dapat salam dari Sisil yang bodoh, biar nanti di ajarin matematika.' sambung Sisil.
'Udah udah kalian ini, sana telfon Vanya sendiri buang buang kuota gw aja." sela Lucas yang punya handphone.
'Dih pelit.'
__ADS_1
'Biarin.'
'Van lo kalau ke Korea kok gak bilang bilang sih sama gw, gw kan sendirian di sini gak ada teman.' mendramatisasi Lucas.
'Nah itu banyak temennya.' balas Vano.
'Ini mah beda, orang tadi kita gak sengaja ketemu di depan mansion Lo. Lagian nih ya, gw tuh kesini tadi niatnya mau numpang sarapan ehh tau taunya lo gak ada di sini.' cerocos Lucas.
'Ya sorry, lo ke rumah mama aja, sarapan di sana. Sekalian kan dapat temen Vino.'
'Dih ogah gw temenan ama bocil yang meresahkan itu, mending gw sendirian dari pada temenan ama adik lo.'
'Ya sabar nanti kalau gw pulang gw bawain lo oleh oleh deh.'
'Gw juga mau kali Van.' sahut Rangga.
'Gw juga mau.'
'Gw juga.'
Timpal yang lainnya.
'Iya nanti kita bawain kalian oleh oleh. Udah dulu ya gw ama Vanya mau mandi.' pamit Vano.
'Kalian jangan bikin otak gw traveling deh.' sahut Rangga.
'Udah ahh, mau gw matiin.'
'Ehh... bentar bentar, untuk teman teman ku tersayang, kalian tenang aja pulang dari sini aku bawain kalian album terbaru BTS.' ucap Vanya membuat Sonya dan Sisil girang, tapi tidak dengan Vano.
Vano tahu harga album itu berapa, meskipun tak sampai menguras kantongnya tapi ayo lah itu sangat mahal.
'Beneran Van, yes makasih Vanya sayang. Cepat cepat ya pulangnya.' girang Sonya dan Sisil.
'Ya udah gw tutup dulu ya bye...' Vanya menutup sambungan telepon.
"Udah?" tanya Vano dengan muka datar.
"Udah, kenapa sih mukanya kok gitu?" heran Vanya.
"Tauk." cuek Vano dan pergi meninggalkan Vanya di sana sendirian.
"Dih, dia kenapa sih." heran Vanya sambil memikirkan apa kesalahan yang dia buat pagi ini.
"Ooh gw tahu." ingat Vanya.
Vanya segera berlari mengejar Vano yang sudah masuk ke dalam kamar hotel.
"Vano sayang, nanti uangnya aku ganti dengan sesuatu yang kamu suka ya.." teriak Vanya pada Vano yang sudah berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Mendengar itu Vano pun kembali lagi moodnya seperti tadi, tapi dia tidak menjawab ucapan Vanya karena ingin menjahili Vanya.
"Vano.." pangil Vanya sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Vano sayang..." pangil Vanya lagi karena Vano tidak menjawab panggilannya.
"Kok gak ada jawaban ya, jangan jangan Vano kenapa kenapa lagi di dalam." gumam Vanya yang berfikiran yang tidak tidak.
"Vano aku dobrak ya pintunya." ucap Vanya dan bersiap akan mendobrak pintu.
"Kyaaa..." teriak Vanya.
Ceklek.
Pintu terbuka dari dalam kamar mandi.
"Apa, mau mandi bareng?" tanya Vano yang melihat Vanya tengah mengambil ancang-ancang untuk mendongkrak pintu.
"Kamu, kamu gak papa?" tanya Vanya.
"Menurut kamu?" balik tanya Vano.
"Ya, ya aku kira kamu kenapa kenapa, habisnya di pangil pangil dari tadi gak di jawab jawab." balas Vanya.
"Aku tadi diam karena amu jahilin kamu, ehh kamunya malah mau dobrak pintu. Emang bisa?" goda Vano.
"Ya, ya, ya gak bisa lah." jawab Vanya.
"Huuu gitu aja pakai sok sok mau dobrak pintu. Ingat kamu lagi hamil jadi jangan bertindak anah aneh."
"Iya maaf."
"Ya udah sana kamu tunggu aku di sofa, atau kamu mau kita mandi bareng?" goda Vano sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan sih kamu, aku tunggu di sofa aja." salting Vanya dan segera pergi ke sofa sebelum di seret Vano.
"Istri gw emang beda." gumam Vano sambil menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam kamar mandi kembali.
-
Vanya dan Vano sudah bersiap dengan pakaian couple. Hari ini mereka berdua memakai Coat berwarna coklat dan sepatu boot yang juga berwarna coklat untuk Vanya dan sepatu sneaker untuk Vano dengan warna yang sama coklatnya.
Mereka berdua tengah menunggu Fira dan Farrel yang masih bersiap di dalam kamar.
Mereka menunggu Fira dan Farrel di cafe yang bersebrangan dengan hotel. Cafe ini bernuansa out dor. Banyak tanaman yang menghiasi cafe itu. Untung nya sekarang salju tidak turun jadi mereka bisa menikmati makan di sana.
"Sorry kalian nunggu lama ya." ucap Fira saat sampai di sana bersama Farrel.
...***...
__ADS_1