
Vano dan Vanya tengah membersihkan toilet, tiba tiba Vanya teringat akan olimpiade yang akan di ikuti Vano. Vanya akan mencoba untuk membujuk Vano agar mau mengalah dengannya, apapun akan Vanya lakukan demi mengikuti olimpiade itu.
"Emmm.. Van." pangil Vanya.
"Hmm."
"Eemm gimana ya ngomongnya."
Vano pun menghentikan kegiatannya dan menatap ke arah Vanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Eemm... boleh gak kalau kamu gak ikut olimpiade matematika itu biar aku aja yang ikut." ucap Vanya sambil menunduk.
"CK. Kenapa sih lo ngebet banget pengen ikut olimpiade? Masih kurang tuh teropi di rumah lo, kalau kurang tuh ambil di rumah gw." jawab Vano.
"Kamu gak tau Van betapa pentingnya olimpiade ini buat aku. Aku mohon Van bantu aku, kamu ngalah ya sama aku. Aku janji bakal lakuin apa aja buat kamu." Mohon Vanya sambil memandang Vano.
"Dari dulu kan udah gw bilang gw gak mau ya gak mau. Lagian salah sendiri kenapa waktu di tes gak ngerjain soalnya dengan benar."
"Iya aku tau aku salah, aku mohon Van kasih kesempatan olimpiade ini buat aku ya. Plis..."
"Kalau gw bilang gak ya gak. Maksa banget sih." jawab Vano dan melanjutkan kegiatannya tadi.
Vanya pun gak akan tinggal diam dia memegang lengan Vano.
"Van ayo lah kali ini aja aku mohon." ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Cih. Gak usah nangis, air mata lo gak bakal ngerubah keputusan gw." sambil menghempaskan tangan Vanya kasar hingga membuat Vanya terjungkal ke belakang.
Vano yang melihat kelakuannya yang membuat Vanya terjungkal itu pun merasa bersalah, tapi Vano pura pura gak peduli pada Vanya dan tetap melanjutkan kegiatannya.
Vanya pun bangkit sambil membersihkan rok abu-abunya yang kotor.
"Van."
"Vano."
"Apaan sih gw bilang gak ya gak ngotot banget sih jadi cewek."
"Tapi Van. Aku butuh banget olimpiade ini."
"Buat apaan sih, butuh uangnya tar gw kasih uang berapa sih bilang aja."
Vanya yang merasa di rendahkan oleh Vano pun merasa sedih.
__ADS_1
"Ya udah kalau kamu gak mau gapapa. Maaf sudah maksa kamu. Oh iya bagian ku udah selesai kan, aku kembali ke kelas dulu." pamit Vanya dan berlalu keluar kamar mandi tanpa memandang Vano dengan muka menunduk.
"Entah kenapa lo ngeyel banget Van, sepenting itu kah olimpiade ini." ucap Vano memandang punggung Vanya yang menghilang di antara tembok-tembok kamar mandi.
-
Jam pulang sekolah pun tiba, Vanya sedang berada di parkiran tepatnya di dekat motor Vano. Sebenarnya Vanya masih canggung saat bertemu Vano karena kejadian di kamar mandi tadi tapi ini perintah dari mamanya kalau malam ini di suruh makan malam di rumah keluarga Wijaya.
"Van." pangil Vanya saat melihat Vano mendekat ke arahnya.
Vano pun berhenti di depan Vanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mama nyuruh kita buat makan malam di rumah."
"Oh iya."jawab singkat Vano dan segera menghampiri motornya.
"Lo mau bareng gw gak?" tawar Vano.
Vanya yang mendengar itu pun sangat antusias karena dia akan berusaha mengingatkan momen di mana dulu saat dia pulang bareng Vano.
"Emang boleh?" bukannya menjawab Vanya malah balik bertanya.
"Hmm. Udah ayo, kita langsung ke rumah mama Vani aja dari pada bolak balik." ucap Vano.
"Terserah kamu saja." jawab Vanya.
-
Di perjalanan tanpa rasa canggung Vanya memeluk pinggang Vano yang membuat Vano panas dingin.
"Bisa lepasin tangan lo gak." ucap Vano.
"Gak bisa, aku takut jatuh." ucap Vanya bohong."
"Hufft. Serah lo deh."
Saat di depan belokan menuju gang rumah keluarga Wijaya tiba tiba ada kucing yang menyebrangi jalan yang membuat Vano ngerem mendadak.
Vanya yang refleks pun sampai badannya maju ke depan dan tanpa di sengaja tangannya memegang ****s Vano.
"Oh, ****." umpat Vano saat merasakan ****s nya menegang.
"Van lepasin tangan lo gw mohon."
__ADS_1
Vanya pun melihat tangannya dan.
"Oh maaf aku gak sengaja." jawab Vanya tanpa rasa bersalah.
Vano pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Vanya. Saat sampai di depan gerbang Vanya langsung turun tanpa menunggu di bukain gerbangnya oleh pak satpam.
Vano pun heran kenapa Vanya turun padahal kan pintu masuk dengan gerbang itu jaraknya rumayan jauh.
"Eemm thanks udah ngasih Tebengan buat gw." ucap Vanya tiba tiba sambil menatap Vano.
Deg
Jantung Vano berdetak mendengar kalimat itu. Seketika bayangan bayangan bermunculan di kepala Vano dan Vano pun merasa pusing yang amat menyiksa.
"Auw. Aaa.." teriak Vano sambil memegangi kepalanya yang masih terbalut helm.
"Van, Vano kamu kenapa Van?" panik Vanya saat melihat Vano kesakitan.
"Kepala gw sakit banget. Aaa.." teriak Vano dan pingsan hingga dia terjatuh dari motor beserta motonya yang ikut roboh.
Vanya pun panik dia segera membuka helm Vano dan berteriak memanggil satpam untuk membantu Vano.
"Pak satpam cepat tolongin Vano."
Satpam yang mendengar teriakkan Vanya pun segera keluar dan betapa terkejutnya dia saat melihat tuan mudanya sudah tak sadarkan diri.
Pak satpam segera mengangkat motor Vano yang menindih salah satu kaki Vano.
Mama papa Vano yang kebetulan sudah datang dari tadi dan mendengar teriakkan Vanya pun keluar dan syok ketika melihat keadaan anaknya yang di bopong orang orang dengan keadaan pingsan.
"Ya ampun Vano kamu kenapa nak." panik mama Fara sedangkan papa William segera menghubungi dokter agar segera memeriksa anaknya.
Mama Vani yang melihat keadaan Vano pun ikutan panik. Bagaimana pun Vano sudah di anggap seperti anak kandungnya sendiri.
Vano di bawa ke kamar Vanya dan tak lama dokter datang dan segera memeriksa keadaan Vano.
Setelah selesai memeriksa Vano dokter menuliskan resep obat untuk di tebus.
"Dok gimana keadaan suami saya?" tanya Vanya yang sedari tadi gak bisa tenang memikirkan keadaan Vano.
"Tuan Vano...."
...***...
__ADS_1
...Dah ya segini dulu mata ku dah sepet. Maaf bila banyak typo😂...
...Good night all....