My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 34


__ADS_3

Saat sampai di rumah Vanya segera memakan spaghetti nya karena dia sudah sangat kelaparan.


Setelah membersihkan tempat makannya Vanya pun menunggu kehadiran Vano di sofa sambil belajar karena besok Vanya harus masuk sekolah.


Satu jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Vano. Vanya yang sedari tadi belajar itu pun sudah membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


"Huh. Udah jam lima Vano belum pulang juga, awas aja nanti aku kasih pelajaran." geruntu Vanya.


Hening tercipta, Vanya sudah mulai bosan menunggu kedatangan Vano pun akhirnya tertidur di sofa sambil duduk.


-


Sementara di tempat lain seseorang tengah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Vano.


"Halo bos."


"Kepung dia sekarang di jalan xxx jangan sampai lolos." perintah orang itu pada anak buahnya.


Tut...


Sambungan telepon terputus sepihak oleh orang itu.


"William William liat saja kehancuranmu berada di depan mata."ucap orang itu dengan menaikkan sebelah bibir hingga menampilkan senyum mengerikan.


"Tak akan ku biarkan kau bahagia setelah semua yang kau rebut dari ku."


" Sekarang bersenang-senanglah karena sebenar lagi salah satu anakmu akan aku kirim ke neraka."


"Hahahaha." Tawa mengelegar yang membuat siapa saja yang mendengarnya merinding.


-


Setelah mengantar Rangga sampai di apartemennya Vano segera melajukan mobilnya pulang ke apartemen karena Vano merasa bersalah karena telah meninggalkan Vanya tadi.


Saat di perjalanan tiba tiba dari arah belakang ada beberapa mobil yang mengikutinya sedari tadi.


"CK. Ada yang mau main main nih sama gw." ucap Vano tenang tanpa ada rasa takut dalam dirinya.


"Tapi gak sekarang main mainnya."


Sebenarnya Vano mau saja mengahadapi mereka tapi dia ingat nanti malam dia harus balapan jadi dia menghindari mereka dulu tapi tidak untuk lain kali.


Vano pun segera menambah kecepatan mobilnya dan menyalip beberapa kendaraan yang ada di jalan. Banyak orang yang mengumpati perbuatan Vano, tapi Vano tidak mengindahkannya.


Sementara beberapa mobil yang mengikuti Vano juga menancap gas mobil dan terus mengikuti Vano.


"Kejar dia jangan sampai lolos atau kita yang bakal di masukkan ke kandang buaya." perintah salah satu orang yang berada dalam mobil tersebut.


Kejar kejaran itu pun terus berlanjut sebenarnya dari kelompok musuh mau menembaki mobil Vano tapi karena jalanan yang rumayan rame jadi mereka tidak mengunakan cara itu.


"Cuih. Siapa sebenarnya mereka itu, kalau dari musuh geng motor gw gk mungkin mereka bawa mobil dan gak mungkin juga mereka tau kalau ini mobil gw." ucap Vano bingung dengan orang orang yang mengikutinya sambil menambahkan kecepatan mobilnya.


Saat sedang mengemudi Vano melihat di depan ada lampu lalu lintas yang sebentar lagi akan berganti dari warna hijau berganti merah.

__ADS_1


"Saatnya."Ucap Vano sambil mengangkat salah satu sudut bibirnya.


Vano menancap gasnya lagi dan bertepatan dengan dia yang baru melewati lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.


Beberapa mobil yang mengikuti Vano itu pun segera mengerem mobilnya secara mendadak kecelakaan pun tak bisa di hindari lagi, beberapa mobil itu pun saling bertabrakan.


Brak brak brak.


Suara mobil yang bertabrakan dengan mobil lainnya.


"Hahahaha." tawa Vano pecah saat melihat mobil mobil yang mengikutinya saling bertabrakan.


"Giovano Alexander William di lawan. Belum tau aja mereka skill balapan gw." Ucap senang Vano dengan sombongnya.


-


Setelah sampai di apartemennya jam menunjukkan pukul 6 sore. Vano bingung, lantaran keadaan apartemen sepi kayak gak berpenghuni.


"Kok sepi ya, masak Vanya belum pulang sih." ucap Vano.


Vano pun melangkahkan kakinya menuju kamar, saat akan menaiki anak tangga pandangan Vano teralihkan ke arah sofa.


"Lah nih anak ngapain tidur di sini. Kayak gak ada kamar aja."


Vano pun menghampiri Vanya, dia berniat untuk membangunkan Vanya agar pindah ke kamar.


Sebelum membangunkan Vanya Vano memandangi wajah Vanya yang cantik natural dengan bibir tipis merah jambu dan bulu mata yang lentik menambah nilai plus kecantikan Vanya.


"Kok aku gak tega ya mau bangunin Vanya."ucap Vano.


Vano melihat ada sesuatu di rambut Vanya pun berniat untuk mengambilnya. Vano mencondongkan tubuhnya mendekati Vanya hingga wajah Vano berhadapan dengan Vanya dengan jarak hanya beberapa senti.


Vanya yang merasa tidurnya terganggu pun berusaha membuka mata untuk melihat siapa yang berani mengganggu tidurnya.


Saat membuka mata pemandangan yang Vanya lihat adalah wajah tampan Vano yang sangat dekat dengannya.


"KYAAA.." teriak Vanya sambil mendorong Vano hingga kepala Vano terbentur meja.


"Anj*ng sakit b*go."umpat Vano sambil mengusap kepala bagian belakangnya.


"Kamu mau ngapain aku. Jangan mentang-mentang aku lagi tidur kamu mau cari kesempatan dalam kesempitan ya."ucap Vanya sambil melihat lihat pakaiannya yang ternyata masih utuh di tempat semula.


"Lo jadi cewek bar bar amat sih. Suka banget dorong orang, kemaren ****** gw sekarang kepala. Besok apa lagi."


"Salah sendiri kenapa mau perk*sa aku."jawab Vanya mantap.


"Apa lo bilang!"


"Coba ulangi lagi kagak denger gw." ucap Vano sambil mendekat kan telinganya ke arah Vanya.


"Benarkan tadi kamu mau perk*sa aku."


"Hello Vanya Fairosa Wijaya tolong dengar ya, gw gak bakalan sudi perk*sa lo. Kurang kerjaan banget. Gw tadi tuh mau ngambil sesuatu yang ada di kepala lo."

__ADS_1


"Lagian nih ya, mana ada suami perk*sa istrinya yang ada tuh emang udah kewajiban gw buat nyentuh Lo." Jelas Vano yang tanpa dia sadari terlah mengucapkan kata suami istri.


Vanya yang mendengar ucapan Vano itu pun senang karena tanpa di sengaja Vano telah mengakui bahwa dia adalah istrinya. Vanya pun menghilangkan rasa takut di perk*sa nya tadi dan teringat akan balas dendam yang akan dia lakukan kepada Vano. Tanpa mengindahkan pembelaan Vano tadi Vanya melancarkan aksinya.


"Apa tadi kamu bilang suami istri. Berarti kamu sudah menerima pernikahan ini dong ." tantang Vanya tanpa rasa takut.


"Ma maksud gw tuh..."


"Maksud gw apa hmm?" potong Vanya sambil tersenyum manisnya menatap ke arah Vano.


Vano yang melihat senyum itu pun menjadi mati kutu di buatnya.


'Sial*n kenapa gw salting sih.' batin Vano.


"Kenapa hmm."ucap Vanya lagi mengunakan kalimat kebanggaan Vano yang biasa digunakan Vano kepadanya.


"Ya-ya-ya kita kan emang suami istri tapi di atas kertas." jawab Vano gugup.


"Kamu kenapa kok gugup gitu. Aku tau sih aku memang cantik tapi gak usah salting gitu kali." ucap Vanya lagi terus berusaha menggoda Vano agar masuk ke perangkapnya.


Vano diam tidak bisa menjawab pertanyaan Vanya. Di tambah sekarang Vanya berjalan menghampirinya dengan senyuman yang manis semanis gula, salah bukan gula tapi lebih manis dari gula.


Vano yang saat ini duduk di lantai pun di hampiri oleh Vanya dan duduk di sebelah Vano.


"Lo-lo ngapain duduk di sini?"tanya Vano gugup sambil memperhatikan kegiatan Vanya.


"Kamu kenapa sih gugup banget, biasanya juga biasa aja kalau aku duduk dekat kamu."


"Ya -ya -ya...."


"Ya-ya-ya apa hmm? Dari tadi ya-ya-ya mulu, salting ya!!" Goda Vanya lagi.


Vano diam seribu bahasa.


"Kenapa aku cantik ya?"ucap Vanya sambil mengibaskan rambutnya.


'Kok aku kayak cewek murahan banget ya. Bodoh amat lah yang penting bisa balas dendam.' Batin Vanya.


Vanya terus melancarkan aksinya yang membuat Vano makin salting.


"Kamu tahu gak, kamu itu ganteng banget loh taehyung aja sampai kalah." ucap Vanya masih sambil tersenyum dengan manisnya.


Vano yang di puji Vanya ganteng itu pun membuat wajahnya merona bak kepiting rebus. Padahal pujian seperti itu sering dia dapat dari banyak wanita di luaran sana tapi entah mengapa ketika Vanya yang memujinya rasanya beda.


'Aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi sama aku Van. Aku kangen perhatian kamu.' batin Vanya.


"Muka kamu kenapa merah gitu?"tanya santai Vanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Vano.


Wajah Vanya semakin mendekat masih dengan senyumannya, terus mendekat yang membuat jantung Vano berdetak dengan kencang.


Deg deg deg


Vanya masih terus mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka menempel satu sama lain. Vano pun memejamkan matanya dan.....

__ADS_1


...***...


__ADS_2