
DOR DOR DOR.
"Aaa...." teriak Vanya takut, tapi Vanya tak merasakan apa-apa.
"Vanya membuka matanya dan betapa kagetnya dia saat melihat Sisil sudah tergeletak dengan darah yang mengalir dari perutnya.
"SISIL." kaget semua orang termaksud Rangga.
DOR.
"Aah."
Suara tembakan terdengar menggema lagi di penjuru gudang. Tembakan itu berasal dari Lucas yang melayangkan tembakan pada Rangga.
"Si*l." umpat Rangga saat kakinya terkena tembakan dari Lucas.
"Sil Sisil bangun Sil." ucap Vanya membangunkan Sisil.
"Va-Vanya gw minta maaf sama lo atas nama Ra-ngga." ucap Sisil terbata bata.
"Enggak lo gak usah minta maaf ini semua bukan salah Lo."
"Van ayo cepat bawa Sisil ke rumah sakit Van ayo." mohon Vanya.
Lucas mendekat dan akan menggendong Sisil tapi Sisil menolaknya.
"Gw gak ma-u ke ru-mah sa-sakit. Rang-ga." pangil Sisil terbata bata.
Rangga pun mendekat ke arah Sisil dengan bantuan Farrel.
"Ka-kamu kenapa ja-hat? A-aku kecewa sa-ma kamu." ucap Sisil pada Rangga.
"Enggak beb enggak, aku janji gak akan jahat lagi. Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku gak mau kehilangan kamu." ucap Rangga memohon pada Sisil agar Sisil bisa bertahan.
"A-ku udah g-gak ku-at, a-ku pergi du....lu." Sisil tak sadarkan diri setelah mengucapkan itu.
"Sil, Sisil bangun Sil." ucap mereka semua membangunkan Sisil.
"SISIL...." teriak Rangga menyesal.
"Maafin gw Sil, maafin gw." ucap Rangga menyesal sambil bersimpuh di tubuh Sisil.
__ADS_1
Farrel mendekat dan mengecek nadi Sisil di pergelangan tangan dan juga di lehernya.
"Sisil udah tenang di sana." ucap Farrel.
"Enggak, itu semua gak mungkin." bantah Rangga tak percaya dengan apa yang Farrel ucapkan.
"Sil kenapa sih lo pergi di saat gw belum ungkapin perasaan gw yang sebenarnya sama Lo, gw suka sama lo Sil. Cuma lo lebih memilih cowok sakit ini dari pada gw." ucap Lucas sambil memangku kepala Sisil.
"Enggak Sisil belum meninggal, kalian semua bohong." Bantah Rangga lagi.
"Ini semua gara gara lo bego, lo yang udah bunuh Sisil gw. Lo juga harus mati."
DOR DOR DOR.
Tiga tembakan sekaligus Lucas layangkan pada Rangga hingga Rangga juga meregang nyawanya saat itu juga.
"Lo gila." marah Vano pada Lucas.
"Kenapa lo gak terima, lo mau penghianat ini hidup bebas berkeliaran. Oke sekarang hanya Sisil yang dia bunuh, terus nanti siapa? Lo atau gw?" balas Lucas.
"Udah stop." lerai Vanya.
"Sisil hiks hiks hiks, kenapa lo begitu cepat tinggalin kita Sil, hiks hiks hiks." tangis Vanya menggoyangkan mayat Sisil berharap Sisil bakalan bangun.
"Sisil...." Vanya pingsan di pelukan Vano.
"Sayang, sayang bangun yank." pangil pangil Vano tapi tak mendapat sahutan dari Vanya.
"Udah biarin dia pingsan biar dia istirahat. Sekarang kita urus dulu mayat mereka berdua." ucap Farrel.
"Kalian antar mayat Sisil ke rumahnya biar di antar Farrel sama Lucas. Sedangkan mayat Rangga kalian bawa ke mansion saya." perintah Vano pada anggota WD yang ikut menyaksikan drama tersebut.
"Lo seriusan Van?" tanya Farrel tak percaya dengan keputusan Vano.
"Iya gw serius, bagaimanapun juga dia tetap sahabat gw." balas Vano yakin.
Setelah itu Vano membopong tubuh Vanya berat badannya sudah bertambah beberapa kilo ke dalam mobil. Vano pulang ke rumahnya di ikuti beberapa mobil di belakangnya yang salah satunya membawa jenazah Rangga.
Sedangkan Farrel dan Lucas menghantarkan jenazah Sisil ke rumah duka. Meskipun mereka agak takut berhadapan dengan kedua orang tua Sisil tapi mereka akan tetap mencobanya berbicara dengan baik, menjelaskan semuanya yang terjadi.
Flashback on:
__ADS_1
Sisil membuntuti motor Rangga sampai motor Rangga memasuki jalanan menuju puncak. Sisil yang tingkat keponya sangat tinggi pun mengikuti motor Rangga sampai di puncak.
Sisil heran, mau ngapain Rangga ke puncak. pikir Sisil.
Sisil terus membuntuti motor Rangga dari jauh, hingga dia melihat Rangga membelokkan motornya di gerbang villa yang paling mewah di antara yang lain.
Sisil pun ikutan turun dari mobil dan berjalan mengendap-endap memasuki villa yang juga di masuki Rangga. Sisil tersesat di sana, dia kehilangan jejak Rangga. Alhasil Sisil pun memutuskan untuk mengelilingi villa sambil melihat pemandangan yang sangat menyejukkan mata, apalagi sebentar lagi sunset bakalan muncul, Sisil semakin antusias. Syukur syukur nanti kalau dia bertemu Rangga lagi, kalau enggak juga gak papa Sisil udah senang berada di sana.
Sisil terus berjalan hingga dia mendengar ada suara yang tak asing di telinganya.
"Itu bukannya suara Vanya ya?" gumam Sisil.
Sisil pun memutuskan untuk mencari dari mana asal suara tersebut, hingga dia dapat mendengar suara itu dengan jelas dari balik jendela yang tertutup kayu bukan kaca.
Kebetulan jendela itu ada yang bolong, Sisil pun memutuskan untuk mengintip keadaan di dalam.
"Hah, itu bukannya Vanya." kaget Sisil.
"Loh, itu kan Rangga." kaget Sisil lagi untuk kedua kalinya.
Akhirnya Sisil memilih untuk mendengarkan pembicaraan mereka, hingga sekarang Sisil faham. Ternyata dalang dari penculikan Vanya bukanlah Galang tapi ternyata Rangga kekasihnya sendiri.
Sisil mendengar ada keributan di depan villa, dan Sisil pun mengintipnya. Di sana dia melihat kehadiran Farrel dan Lucas.
Sisil pun semakin yakin untuk masuk ke dalam sana. Sisil menyelinap masuk dan bersembunyi di suatu tempat yang sangat aman dan gak bakal ketahuan sama orang. Dan di tempat itu juga dia bisa memantau Vanya yang lagi di dalam gudang bersama kekasihnya.
Sisil terus mengamati keadaan di dalam hingga puncaknya saat Rangga akan menembak Vano dan juga Vanya. Sisil tak bisa diam saja di saat sahabatnya akan di bunuh oleh kekasihnya sendiri. Sisil pun berlari dan menjadikan dirinya sebagai tameng Vano dan Vanya dari tembakan Rangga.
Flashback off.
-
Sementara itu, Sonya baru saja memasuki pelataran rumah kedua orang tua Vano. Sonya turun dan berjalan menuju pintu utama rumah kedua orang tua Vano.
Saat akan memencet bel, tiba tiba pintu utama rumah kedua orang tua Vano terbuka dari dalam, dan menampilkan wajah panik mama Fara dan papa William, tak lupa dengan wajah sok cool Vino yang mengintil di belakang kedua orang tuanya.
"Malam Om, Tan." sapa Sonya mencium punggung tangan kedua orang tua Vano.
"Malam juga Son." balas keduanya.
"Om sama Tante mau kemana?" tanya Sonya basa basi.
__ADS_1
"Loh kamu belum di kasih tahu, Sisil sama Rangga meninggal dan sekarang jenazah mereka lagi menuju rumah duka. Vanya juga sudah di temukan, ternyata selama ini yang berkhianat bukan Galang melainkan Rangga." jawab mama Fara yang membuat Sonya mematung di tempat.
...***...