My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 139


__ADS_3

Vano dan Vanya sudah sampai di parkiran mall, seperti biasa Vano keluar dulu dari mobil dan setelah itu dia membukakan pintu mobil untuk Vanya.


"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Vanya menatap mall.


"Mau ngising." jawab ngasal Vano.


"Kamu seriusan ke sini cuma mau ngising, kenapa gak di rumah aja tadi Van." Vanya menganggap jawaban Vano serius.


"Untung cinta." gumam Vano yang samar samar di dengar oleh Vanya.


"Apa kamu bilang?"


"Oh enggak, udah yuk kita masuk aja." mengaitkan tangannya dengan tangan Vanya.


Mereka memasuki mall dengan bergandengan tangan mesra. Saat ada segerombolan cewek cewek yang menatap Vano lapar, Vanya dengan cerdik segera merangkul lengan Vano dan menyenderkan tubuhnya di badan Vano. Vano yang mengerti bahwa istri tengah jeles pun dengan senang hati merangkul pinggang Vanya agar lebih dekat ke padanya.


"Kita mau nonton?" tanya Vanya saat Vano membawanya ketempat pembelian tiket film.


"Iya, kamu mau nonton film apa biar aku yang beli tiket kamu tunggu di sana aja." ujar Vano sambil gadunya menunjukan ke bangku yang ada di sana.


"Emmmm...."


"Bagaimana kalau makmum 2 aja." ide Vanya.


"No no no, gak ada nonton horor horor an." tolak Vano.


"Kenapa kamu takut ya..." menggoda Vano.


"Gak ada, ngapain takut."


"Ya udah kalau gak takut kita nonton itu saja."


"Gak, kita nonton Dear Nathan Thank You Salma aja." ucap Vano yang tak menerima bantahan.


"Trus ngapain tadi pakek nanya mau nonton apa, orang kamu sendiri yang nentuin." jengkel Vanya.


"Ya itu buat formalitas aja." jawab Vano.


"Iya deh terserah kamu aja, udah cepat sana aku tunggu di sini." mengusir Vano.


Vano pun segera pergi membeli tiket dan tak lupa juga dia membeli camilan buat teman nonton nanti di dalam. Idaman banget bukan😂

__ADS_1


"Udah yuk." ajak Vano setelah mendapatkan apa yang dia cari.


Mereka pun segera masuk ke dalam bioskop karena film akan segera di mulai, Vano memilih tempat paling pojok dan belakang sendiri dan ada lagi yang bikin Vanya geleng-geleng kepala, Vano membeli enam tiket agar di samping mereka berdua ada jarak dua bangku dari orang orang.


"Kamu ngapain pakek beli enam tiket segala, buang buang duit tau gak." omel Vanya.


"Ya biarin, dari pada harus berdekatan dengan orang yang gak di kenal." jawab Vano bodo amat.


Vanya pun tak mau bertanya lagi, nanti yang ada malah makin panjang urusannya.


Mereka nonton dengan Vano yang ada saja kelakuannya, dari yang mendekap Vanya dengan erat sampai menciumi seluruh wajah Vanya dan tangan nya mengerpe gerpe itu Vanya. Dan Vanya pun membiarkan saja apa yang di lakukan Vano, Vanya tetap fokus ke film yang tayang di depannya.


-


Selesai nonton, mereka mengelilingi mall, dan itu pun kemauan Vanya. Sebenarnya Vano malas kalau harus keliling mall, karena dia tahu wanita jika sudah berada di dalam mall mereka akan lupa waktu. Bahkan bisa saja sehari keliling mall pun mereka tidak sadar.


"Kamu mau beli apa yank?" tanya Vano ke sekian kalinya.


"Gak tahu, kita jalan aja nanti kalau di depan ada yang menarik biar aku bilang." udah gitu mulu jawaban Vanya dari tadi, hingga Vano merasa kakinya sudah lelah berjalan mengelilingi mall dan belum mendapatkan apapun.


"Kita istirahat dulu ya, kaki aku udah pegel." ajak Vano.


"Eemmm.. ya udah deh ayok."


"Kamu gak ada niatan mau beli apa gitu, masak dari tadi muter-muter mulu." ucap Vano bertanya pada Vanya.


"Eemmm... gak ada sih, orang di rumah barang barang ku sudah banyak." jawab Vanya yang membuat Vano hampir serangan jantung saja.


"Terus kalau gak mau ada yang di beli, ngapain tadi muter-muter di sini. Sabar Vano sabar, orang sabar tiap malam dapet jatah." batin Vano, mana mungkin Vano ngomong secara terang terangan, yang ada nanti dia bisa di gantung hidup hidup sama Vanya.


Rasanya Vano nyesal sendiri ngajak Vanya ke mall, tau akan begini mending tadi ajak jalan-jalan memutari kota naik motor aja biar gak capek. pikir Vano yang menyesali keputusannya.


"Terus sekarang kamu mau apa?" tanya Vano dengan sabar.


"Eemmm kita cari makan yuk." ajak Vanya merasa perutnya sudah keroncongan.


"Ya udah kamu mau makan di mana?" tanya Vano.


"Terserah."


DUAR.

__ADS_1


Dah lah Vano ingin menghilang saja dari bumi, dari pada harus berhadapan dengan makhluk yang namanya perempuan.


"Ya udah ayo kita pergi." ajak Vano.


"Ayok."


Mereka pun pergi meninggalkan mall, dalam perjalanan Vano memutar otaknya lagi. Vano bingung harus ngajak Vanya makan di mana, apakah harus ngajak makan di pinggir jalan seperti waktu itu lagi, atau dimana.


"Kamu gak ada keinginan makan apa gitu?" tanya Vano siapa tau aja kan Vanya mau menjawab.


"Eemmmm... bagaimana kalau kita cari nasi Padang aja, tapi jangan di tempat yang mewah, kita makan di pinggir jalan aja." jawab Vanya yang membuat Vano lega.


"Ya udah nanti kalau kamu liat warungnya kamu bilang sama aku."


Mereka melanjutkan perjalanan dengan melihat pinggir pinggir jalan mencari penjual nasi Padang.


"Nah itu Van." tunjuk Vanya pada pedagang yang ada di sebrang jalan.


Vano mengikuti arah yang Vanya tunjuk, dan dia melihat memang di sana ada warung nasi Padang, tapi sepertinya di sana agak susah untuk parkir mobil karena tempat yang agak sempit dan sangat dekat dengan jalan raya.


"Parkir nya susah deh yank." ucap Vano.


"Ya kita parkir di situ aja." menunjuk di depannya ada sebuah lahan yang kosong.


Vano pun menuruti saja kemauan Vanya, Vano memakirkan mobilnya di situ. Dan ya, seperti biasa Vano selalu keluar dulu dari mobil baru setelah itu Vanya.


"Yank aku mau ambil uang dulu, karena uang cas aku tinggal seratus. Kan di sana nanti gak bisa bayar pakai kartu." ijin Vano.


"Ya udah aku tunggu kamu di sini aja." ucap Vanya karena males mengikuti Vano.


"Ya udah nih kunci mobilnya, nanti kalau kelamaan kamu masuk aja." ujar Vano.


Setelah itu Vano pun segera pergi ke ATM yang ada di sebelah dia memakirkan mobil tadi. Dan setelah selesai dia kembali menghampiri Vanya yang tengah menatap ke arahnya.


"Aku nyebrang dulu ya." teriak Vanya pada Vano yang baru keluar dari ATM.


Belum sempat Vano menjawab Vanya sudah keburu ingin menyebrang jalan, Vano melihat dari ada kendaraan yang melaju dengan kencang seperti ingin menabrak Vanya, dengan segera Vano berlari untuk menyelamatkan Vanya.


"VANYA.." teriak Vano sambil menarik tangan Vanya untuk menghindari mobil yang sudah dekat itu.


Vanya diam dalam pelukan Vano, dia kaget mengetahui dirinya hampir saja ketabrak mobil. Orang yang mempunyai mobil itu berhenti di samping Vano yang tengah memeluk Vanya dan membuka kaca jendelanya.

__ADS_1


"Tante Fen."


...***...


__ADS_2