
"Loh papa, mama." kaget Vanya dan Vano barengan saat baru menampakkan kakinya di lantai bawah tapi melihat kedatangan mama Vani dan papa Wijaya, tak lupa pula ada Farrel yang mengekor di belakang mereka.
"Halo sayang apa kabar, mama kangen banget sama kamu." sapa mama Vani sambil memeluk Vanya, dan hal itu menyadarkan Vanya agar menutupi trauma yang tadi dia rasakan agar tidak di ketahui orang tuanya.
"Kabar Vanya baik ma, kalau mama sama papa gimana?" balas Vanya.
"Mama sama papa juga Alhamdulillah baik." jawab mama Vani.
"Kamu gak mau peluk papa?" tanya papa Wijaya pura pura sedih.
Mendengar sindiran papanya, Vanya pun melepaskan pelukan mamanya dan segera berhambur ke dalam pelukan papanya.
"Vanya kangen banget tau sama papa." ucap Vanya dalam pelukan papanya.
"Papa juga kangen banget sama kamu, kapan kapan kalian nginap di rumah papa lagi ya biar rame."
"Iya nanti kalau Vanya liburan Vanya nginap di rumah papa."
Sementara Vano yang melihat istrinya berpelukan itu pun menahan diri agar tidak cemburu kepada mertuanya sendiri, yang notabenenya adalah papa kandung Vanya.
"Oh iya ini mama bawain makanan kesukaan kamu, mama sendiri loh yang masak. Kamu makan gih, seperti kamu belum makan siang." ujar mama Vani yang membuat Vanya lepaskan diri dari papanya dan beralih menatap rantang yang di bawa mama Vani.
"Wah kebetulan sekali ma, Vanya belum makan. Kita makan sama sama yuk." ajak Vanya.
Sebenarnya ini waktu sudah sore, tapi karena sedari siang tadi Vanya belum makan jadi ya Vanya menyebutnya makan siang.
"Ya udah ayo kita makan sama sama." setuju papa Wijaya, ya meskipun dia masih kenyang tapi gak enak juga kalau nolak permintaan putrinya. Toh jarang jarang juga mereka makan bersama.
Begitu pula mama Vani, dia juga masih kenyang tapi ya mau gimana lagi.
"Yuk kak." ajak Vanya yang melihat Farrel hanya diam saja sedari tadi.
"Aduh kakak masih kenyang, princess makannya sama papa mama aja ya, lain kali aja kalau makan sama kakak." tolak Farrel.
"Rel..." tekan mama Vani sambil menatap tajam Farrel yang membuat nyali Farrel menciut.
"Lo mau turutin permintaan istri gw, atau lo aja yang gw jadiin santapan makan malam buat buaya buaya gw." mama Vani aja udah bikin nyali Farrel menciut, ini lagi di tambah bisikan Vano yang emmm...
__ADS_1
"Iya udah ayo, kakak sudah lapar kok." ucap Farrel dan berlalu mendahului mereka semua menuju meja makan.
"Sri, tolong kamu siapkan makanan ini di meja makan." perintah Vanya pada Sri yang kebetulan ada di sana.
"Baik nyonya." jawab Sri dan segera mengambil rantang yang ada di tangan mama Vani.
"Itu pelayanan di rumah kamu nak?" tanya mama Vani.
"Iya ma, emang kenapa?" tanya balik Vanya.
"Kok cantik gitu, kamu gak takut di godain suami kamu."
"Hahaha... mama ini ada ada aja, dia itu sudah menikah, dan suaminya juga kerja di sini jadi sopir." jawab Vanya.
Ya, pak Udin itu adalah suaminya Sri, ya meskipun umur mereka agak jauh, tapi kata Sri yang tua lebih menggoda.
"Ooh baguslah kalau gitu, mama cuma khawatir aja sama kamu."
"Mama tenang aja, Vanya itu tipe tipe cewek yang suka brantas yang namanya pelakor. Jadi mama gak usah khawatir ya."
"Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya papa Wijaya kepo, dan yang lainnya yaitu Vano dan Farrel pun menajamkan pendengarannya agar mendengar jawaban dari Vanya dan mama Vani.
"KEPO." kompak mama Vani dan Vanya.
"Hahaha... sabar pa, sabar. Orang sabar di sayang tuhan." ledek Farrel.
"Diam kamu." tegas papa Wijaya yang membuat Farrel seketika diam.
"Kamu dari tadi kok diam aja sih Van?" tanya papa William pada Vano.
"Lah Vano gak di ajak ngobrol jadi ya diam aja." jawab santai Vano.
"Iya juga sih."
Mereka pun makan dengan di iringi candaan candaan receh yang mereka ciptakan sehingga membuat Vanya bisa melupakan masalah yang tadi hampir membahayakan dirinya.
Dan orang yang paling bersyukur di sini adalah Vano, dia bersyukur akhirnya istrinya bisa tertawa lagi dan becanda ria. Kenapa Vano gak kepikiran tadi buat mengumpulkan keluarga mereka biar bisa bersama sama seperti ini, tapi harus tanpa Vano, kalau ada Vano yang ada malah Vano sendiri yang pusing.
__ADS_1
Malam semakin larut, papa Wijaya dan mama Vani pun pulang tak lupa juga Farrel yang ikut pulang. Vanya sekarang sedang duduk di meja belajarnya katanya sih tadi mau mengerjakan PR, tapi entah lah itu benar atau tidak, yang pasti Vano tak mau mengganggu Vanya dulu.
Dan soal truma yang Vano curigai itu, Vano belum berani untuk menanyakannya, biarlah Vanya tenang dulu nanti akan dia tanyakan jika ada momen yang tepat. pikir Vano.
Vano berbaring di ranjang sambil menunggu Vanya menyelesaikan tugasnya, tapi matanya tak bisa di ajak kerjasama, akhirnya Vano pun tertidur duluan. Vanya yang melihat Vano sudah tidur pun segera menyelesaikan tugasnya dan setelah itu dia menyusul Vano ke alam mimpinya.
-
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari pun berganti. Farrel sudah menguasai semua ilmu beladiri dan berbagai macam senjata. Dan Vano juga sudah menyempurnakan racun yang akan dia berikan kepada bibi Farrel.
Sekarang langkah Vano adalah melacak di mana keberadaan bibi Farrel dan siapa juga yang selama ini ada di belakang bibi Farrel. Vano tak akan melepaskan bibi Farrel meskipun ke ujung dunia pun akan Vano cari dia, karena bibi Farrel sudah berani beraninya mengusik ketenangan orang yang sangat sangat Vano cinta.
"Rel bulan berapa bibi lo masuk ke penjara?" tanya Vano yang tengah fokus mengotak-atik keyboard komputer di depannya dengan Farrel yang ada di samping nya melihat keahlian Vano.
"Gw lupa tanggalnya yang pasti bulan Februari 2019." jawab Farrel.
"Di tahan di negara ini kan?" tanya Vano lagi.
"Iya, tapi setelah setengah tahun ada seseorang yang membantu bibi gw kabur dari sel."
Mendengar jawaban yang Farrel berikan itu sudah sangat cukup untuk Vano melakukan aksinya untuk mencari Fen Wang.
"Hmmm, menarik juga." ucap Vano dengan seringainya.
"Kenapa Van, apa lo udah nemuin di mana tempat persembunyian bibi gw."
"Lebih dari itu, bahkan gw sudah tahu siapa yang selama ini bantuin bibi lo." jawab Vano memandang layar komputer yang ada di depannya.
Farrel ikutan juga memandang ke arah di mana pandangan Vano tertuju, tapi Farrel itu ngerti apa pun yang ada di sana.
"Siapa Van?" tanya Farrel ingin tahu.
"White Devil."
...***...
Senin nih, boleh minta vote nya yang nganggur gak😂
__ADS_1