My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 40


__ADS_3

"Dok gimana keadaan suami saya?" tanya Vanya yang sedari tadi gak bisa tenang memikirkan keadaan Vano.


"Tuan Vano keadaannya baik baik saja. Ini hanya efek dari amnesianya saja." jelas dokter.


"Terimakasih dok mari saya antar." ucap papa Wijaya berlalu dan di ikuti dokter itu.


"Van maafin aku ya." ucap Vanya sambil duduk di sebelah ranjang tempat Vano berbaring.


"Sebenarnya apa yang terjadi tadi sayang?" tanya mama Fara.


"Sebenarnya tadi Vanya melakukan sesuatu yang aku lakukan dulu saat Vano sebelum hilang ingatan ma." Jawab sedu Vanya.


"Mangkanya kamu jangan memaksa Vano untuk kembali ingatannya, jadi begini kan akibatnya." Marah mama Vani.


Bukannya marah sih tapi lebih ke gak enak sama besarnya, karena kelakuan anaknya menantunya jadi pingsan.


"Aku gak bermaksud bikin Vano pingsan ma."


"Udah jeng jangan marahi menantu kesayangan ku, nanti Vano juga sadar sendiri." sela mama Fara membela menantu cantiknya.


"Udah udah ayo keluar biar Vano istirahat." ucap papa William yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.


"Vanya mau jaga Vano saja pa."


"Ya udah nanti kalau ada apa-apa kamu pangil kita di bawah ya." ucap papa William.


"Iya pa."


Tinggallah Vanya sendiri di dalam kamarnya dan Vano yang terbaring pingsan.


"Van kapan kamu ingat aku. Katanya kamu cinta sama aku." ucap Vanya sambil memegang tangan Vano dan menciuminya.


Karena kelelahan Vanya pun tertidur di samping Vano sambil duduk dan tangan yang tetap setia memegang tangan Vano.


-


Sore harinya papa Wijaya membangunkan Vanya dari alam mimpinya dan menyuruh Vanya untuk datang ke ruangan kerjanya.


Vanya pun beranjak ke ruang kerja papanya tanpa dia sadari mata yang terpejam dari tadi telah terbuka dan memandangi punggungnya.


"Ngapain papa William manggil Vanya?" ucap Vano setelah sadar dan mengumpulkan nyawanya.


"Kok aku jadi khawatir gini ya." kekhawatiran Vano muncul tiba-tiba saja tanpa bisa di cegah.


"Enggak Vano, stop pikirin Vanya. Sekarang yang harus lo pikirin adalah kenapa lo kok bisa pingsan."

__ADS_1


Vano terus berusaha mengingat kejadian tadi sebelum pingsan dan itu malah membuat kepalanya semakin pusing.


"Auw. ssstt. Nama sakit banget sih kepala gw." keluh Vano sambil memegangi kepalanya.


Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah papa mamanya.


"Vano mana yang sakit, kenapa kepalanya di pegangin kayak gitu." tanya mama Fara khawatir.


"Vano gapapa ma. Vano hanya berusaha mengingat kenapa Vano bisa pingsan tadi." jelas Vano.


"Kamu gak usah mikirin hal itu. Itu hanya akan membuat kamu sakit kepala." saran papa William kepada anaknya.


"Iya pa. Oh ya pa ma, kenapa tadi papa Wijaya manggil Vanya?" tanya Vano.


"Papa juga gak tahu, mungkin masalah keluarga."Jawab papa William.


"Kalau masalah keluarga kenapa kita gak boleh tau." tanya mama Fara yang merasa ada yang aneh dengan besannya.


Papa William yang tau akan masalah keluarga Wijaya pun berusaha mengalihkan perhatian istri dan anaknya.


"Kamu mau makan apa Van biar papa ambilin."


"Astaghfirullah mama sampai lupa nanyain anak mama udah makan apa belum." ucap mama Fara sambil menepuk jidatnya dan telah lupa akan pertanyaan nya tadi.


"Enggak usah pa, Vano makan di bawah saja bersama sama." jawab Vano.


"Ooh adik kamu bentar lagi sampai tadi dia ada latihan Taekwondo jadi mama sama papa tinggal." jelas mama Fara.


"Ooh gitu ya udah mama sama papa turun dulu aja Vano mau cuci muka dulu."


Mama pap Vano pun pergi meninggalkan Vano yang termenung di atas ranjang.


"Kok ada yang aneh ya dengan keluarga ini." pikir Vano.


Setelah itu Vano ke kamar mandi untuk mencuci mukanya tanpa mandi karena dia malas.


-


Vanya masuk ke ruangan kerja papanya dan di sambut papa Wijaya dengan menyuruh Vanya duduk berhadapan dengan meja kerjanya.


"Ada apa papa manggil Vanya?" tanya Vanya sambil memandangi wajah papanya yang menatapnya dengan serius.


"Kamu pasti tau untuk apa papa memanggil mu kalau bukan seperti biasanya." jawab papa Wijaya dengan datar.


"Maaf pa." jawab Vanya sambil menunduk.

__ADS_1


" Gimana kamu ikut kan olimpiade bulan ini?" tanya papa Wijaya.


Vanya hanya menjawab dengan gelengan kepala tanpa mau memandang wajah papanya.


"Kenapa kamu gak ikut Vanya. Kan papa sudah bilang kalau kamu gak bisa ikut atau pun menang dalam olimpiade ini papa gak akan membiayai pengobatan Dia."


Mendengar itu Vanya segera mengangkat kepalanya.


"Jangan pa, Vanya mohon papa jangan lakukan itu. Vanya janji akan berusaha agar bisa ikut olimpiade lagi." Mohon Vanya dengan air mata yang perlahan menetes.


Wijaya yang melihat anaknya menangis pun mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena takut gak akan sanggup melihat air mata yang jatuh dari anak tersayangnya.


Wijaya menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar.


Hufft


"Baiklah papa tunggu kabar dari kamu. Tapi kalau sampai kamu tidak berhasil, jangan salahkan papa bila terjadi sesuatu dengan Dia."


"Baik pa Vanya janji Vanya akan berusaha sebaik mungkin." jawab mantap Vanya.


"Bagus. Ya udah ayo ke bawah untuk makan." ajak papa Wijaya.


Mereka pun keluar dan ruangan itu.


Sementara Vano yang mendengar sepenggal pembicaraan papa dan anak itu pun cepat cepat sembunyi di balik dinding ruangan kerja mertuanya.


Saat Vanya dan papanya telah menuruni tangga baru Vano keluar dari tempat persembunyiannya.


"Hufft untuk saja gak ketahuan." ucap Vano sambil mengelus dadanya.


"Tapi apa ya yang mereka maksud tadi."


Flashback on:


Vano keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian baru berjalan menyusuri rumah mertuanya yang tidak kalah megah dari rumah orang tuanya.


Saat melewati sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat yang dia yakini itu adalah ruangan kerja mertuanya. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang berbicara serius, Vano mendekati ruangan itu dan berusaha mendengar percakapan antara dua orang yang berada di dalamnya.


"Baiklah papa tunggu kabar dari kamu. Tapi kalau sampai kamu tidak berhasil, jangan salahkan papa bila terjadi sesuatu dengan Dia." ucapan yang pertama dia dengar dari mertua laki laki nya.


"Baik pa Vanya janji Vanya akan berusaha sebaik mungkin." jawaban yang keluar dari mulut Vanya.


"Bagus. Ya udah ayo ke bawah untuk makan."


Ucapan papa Wijaya dan pergerakan langkah papa Wijaya dan Vanya yang mau keluar dari ruangan membuat Vano cepat cepat bersembunyi di balik dinding ruangan kerja itu.

__ADS_1


Flashback off.


...***...


__ADS_2