My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 54


__ADS_3

"Oh, shitt."


Umpat Vano.


Dia melihat Vanya sekarang tengah memakai hotpants berwarna hitam dan kaos putih polos yang agak kebesaran yang membuat Vanya semakin sexy.


Vano yang di pengaruhi oleh obat perangsang pun sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia mencengkeram tangan Vanya dan menariknya menaiki tangga.


"Van sakit Van lepasin." ucap Vanya karena Vano menarik tangannya dengan kasar.


Vano tidak menghiraukan perkataan Vanya.


"Lepasin Van sakit." Vanya berusaha menahan agar air matanya tidak turun.


Vano tetap tidak menghiraukan ringisan Vanya. Dan tetap terus menarik tangan Vanya.


Karena kamar Vanya yang lebih dekat dari pada kamar Vano, maka Vano membawa Vanya masuk ke dalam kamar Vanya.


Vano melemparkan Vanya ke atas ranjang yang berada di kamar Vanya.


Bruk.


"Auw. Kamu kenapa sih Van?" tanya Vanya sambil menahan rasa sakit yang tidak seberapa di bandingkan sakit hatinya karena di perlakukan seperti ini oleh Vano.


"DIAM." bentak Vano.


"Van... hemffp."


Vano langsung menyerang Vanya dengan ciuman yang rumayan ganas.


Vanya berusaha menolak ciuman Vano, dia mendorong dada Vano agar menghentikan ciumannya.


Vano tidak tinggal diam, dia menahan tangan Vanya di atas kepala Vanya sambil melancarkan aksinya.


"Hmmtt." desah Vanya saat Vano menggigit bibirnya Vano.


Vano memanfaatkan itu dengan memasukkan lidahnya kedalam mulut Vanya.


ciuman Vano turun ke leher Vanya hingga meninggalkan jejak kemerahan di leher Vanya. Bukan satu atau dua saja yang Vano buat, tetapi dia membuat banyak kismark di leher jenjang Vanya.


"Eemmhh." ******* Vanya yang tertahan.


Vano membuka baju Vanya dan Vanya yang sadar akan itu menahan tangan Vano.


"Aku mohon Van jangan kayak gini caranya, kamu lagi tidak sadar." Vanya menggelengkan kepalanya sambil menatap mata Vano yang berkabut gairah.


"Aku sudah tidak kuat menahannya." ucap Vano dan segera melepaskan pakaian Vanya dengan kasar.


Vano juga melepas pakaiannya dan...


Skip.


Mentari pagi keluar dari tempat persembunyiannya dengan senyum yang cerah, burung burung berkicauan menyambut pagi yang cerah ini.

__ADS_1


Di sebuah kamar yang keadaannya amat sangat kacau, baju berserakan di lantai menjadi saksi malam panjang yang memabukkan.


Dua insan yang semalam di mabuk akan gairah masih terlelap di bawah selimut tebal berwarna putih dengan tubuh yang sama sama polos tanpa sehelai benang pun yang menempel.


Entah semalam mereka tidur jam berapa yang pasti mereka sangat kelelahan di lihat dari cara tidur mereka yang pulas.


Drrtt drrtt drrtt.


Suara getaran ponsel yang berada di lantai bercampur dengan pakaian.


Vanya merenggangkan tubuhnya, sayup-sayup matanya terbuka dan melihat keadaan sekitar. Sekelebat bayangan kejadian semalam melintas di otaknya. Dia teringat bagaimana Vano semalam merenggut mahkota yang dia jaga selama ini.


Vanya menangis mengingat kejadian semalam, menangis bukan karena menyesal tetapi dia menangisi sikap Vano yang melakukannya dengan kasar tanpa ada lembut lembut nya.


"Hiks hiks hiks..." Vanya menangis dengan posisi kepala yang dia tundukkan ke pahanya dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Vanya segera berdiri dan mengambil pakaiannya yang sudah tidak berbentuk untuk menutupi tubuhnya dan segera berlari ke kamar mandi tanpa melihat keadaan handphonenya yang berdering tadi sambil menahan rasa perih di selangkangannya.


Vano terusik tidurnya, dia merasa kepalanya sangat pusing.


"Auw... kenapa pusing banget." ucap Vano dan duduk bersandar di kepala ranjang sambil memijat pelipisnya.


Setelah agak mereda Vano melihat keadaan sekitar, pemandangan yang pertama dia lihat adalah sebuah foto wanita cantik yang sedang tersenyum di atas meja samping tempat tidur.


"Tunggu."


Vano sadar akan sesuatu, dia melihat keadaan sekitar. Ini bukan kamarnya, Vano melihat tubuhnya yang polos tanpa sehelai pakaian dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Di sana ada darah yang menempel.


"Bodoh Van, apa yang udah lo lakuin semalam." sesal Vano, Vano tidak sepolos itu yang tidak mengerti dengan darah yang berada di seprai putih itu. Vano mengerti itu adalah darah keperawanan Vanya yang sudah dia ambil di bawah kesadarannya.


"Gw harus gimana sekarang." bingung Vano. Vano bingung menangapi nya.


Vano turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya dan segera memakai nya.


Sedangkan di dalam kamar mandi Vanya sudah menyelesaikan tangisannya, dia mencoba menerima apa yang sudah terjadi toh Vano juga suaminya jadi apa salahnya. Mungkin ini petunjuk dari Allah untuk rumah tangganya dengan Vano.


Vanya keluar dari kamar mandi bertepatan Vano yang sudah selesai memakai pakaiannya.


Ceklek.


Vano yang mendengar pintu terbuka itu pun menoleh dan melihat wajah Vanya yang sembab. Vano mengalihkan pandangannya, dia tak sanggup menatap wajah Vanya, dia malu dengan apa yang sudah dia lakukan semalam.


Dengan canggung Vanya berjalan menghampiri Vano.


"Lupakan kejadian semalam, angap saja kita tidak pernah melakukannya."


Deg.


Kaki Vanya lemas rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri setelah mendengar apa yang Vano katakan.


Setelah mengatakan itu Vano keluar meninggalkan Vanya di dalam kamar sendiri.


Air mata Vanya yang dia kira sudah habis di kamar mandi tadi ternyata jatuh lagi.

__ADS_1


"Ya Allah kenapa Vano memperlakukan ku kayak gini. hiks hiks hiks..."


"Apakah aku tidak pantas untuk bahagia."


Hiks hiks hiks...


"Kenapa Van, kenapa.."


Hiks hiks hiks...


"Kenapa kamu memperlakukan ku kayak gini."


Hiks hiks hiks hiks...


Vanya menangis sejadi jadinya dengan posisi terduduk di lantai sambil memukuli dadanya yang rasanya sangat sesak.


Sedangkan di posisi Vano, dia tengah berada di bawah shower yang menyala dengan pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Agrrr." Teriak Vano sambil mengacak-acak rambutnya.


"Maafin gw Van, gw gak bermaksud buat nyakitin lo. Tapi gw bingung harus bagaimana menyikapi masalah ini."


"Gw bingung Van, maafin gw."


Ucap Vano di bawah guyuran shower.


Setelah mandi Vano dan berganti baju Vano memutuskan untuk pergi dari apartemen karena dia malu untuk bertemu Vanya. Vano juga berencana untuk mencari siapa dalang yang udah menjebaknya kemarin.


Vano pergi ke club yang kemarin dia datangi dengan Galang. Vano akan menghabisi orang orang yang telah berani menjebaknya, untung saja ada Galang yang menyelamatkannya kalau tidak entahlah apa yang akan terjadi dengannya.


Vano sampai di club itu dan segera masuk untuk menemui manajer club untuk menanyakan rekaman cctv semalam.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pria yang sepertinya petugas di sana.


"Eemm saya mau ketemu dengan manajer club ini."jawab Vano.


"Apakah anda sudah membuat janji?"


"Belum."


"Maaf mas, sebaiknya anda membuat janji dulu." ucap petugas itu.


"Bilang saja Giovano Alexander William ingin bertemu." ucap Vano yang sudah tidak bisa berbasa-basi lagi.


"Ba-baik mas tunggu sebentar." petugas itu gugup dan tunduk setelah mendengar nama itu.


Bagaimana tidak takut, keluarga William adalah salah satu keluarga terkaya nomor satu di negara ini bahkan di benua Asia keluarga William menduduki peringkat pertama.


"Saya tunggu di sana." tunjuk Vano pada sebuah kursi yang ada di sana.


Petugas itu pamit pergi untuk memanggil manajer club untuk bertemu dengan Vano.


...***...

__ADS_1


__ADS_2