
Pagi ini Vanya sudah siap untuk berangkat ke sekolah sambil membawa barang-barangnya buat tinggal di rumah kedua orang tuanya nanti.
"Pagi ma, pa." sapa Vanya saat sampai di meja makan untuk sarapan.
"Pagi sayang." jawab mama Fara dan papa William kompak.
"Vino mana ma, kok gak ada?" tanya Vanya karena dia tidak melihat keberadaan adik iparnya.
"Dia belum turun, tadi bangunnya kesiangan." jawab mama Fara.
"Ooh."
"Oh iya nanti mau papa yang antar atau kamu mau bawa mobil sendiri?" Tanya papa William.
"Vanya bawa mobil sendiri aja pa." jawab Vanya lembut.
"Ya udah hati hati ya nyetirnya."
"Iya pa."
"Nanti kamu setelah pulang dari sekolah mau langsung pergi ke rumah orang tua kamu atau mau mampir ke sini lagi?" tanya mama Fara.
"Vanya langsung berangkat ke sana aja ma. Soalnya kalau mampir ke sini lagi takutnya nanti kesorean." jawab Vanya.
"Ya udah asal kamu hati hati, jaga diri kamu baik baik ya. Nanti kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan bilang sama mama atau papa ya." ucap papa William.
"Iya pa, makasih udah perhatian kepada Vanya. Vanya beruntung banget bisa punya mertua yang penyayang seperti kalian." ucap Vanya.
"Kamu ngomong apa sih sayang, kamu itu udah mama sama papa anggap seperti anak sendiri." balas mama Fara.
"Iya betul itu kata mama, kami itu sayang sama kamu melebihi rasa sayang kami ke Vano." timpal papa William.
"Makasih ma pa Vanya beruntung banget bisa masuk di keluarga ini." ungkap Vanya.
"Kami juga beruntung banget bisa punya menantu seperti kamu. Udah cantik, pintar masak, sopan dan yang pasti otaknya pinter." balas mama Fara.
"Pagi semua, orang ganteng datang." ucap Vino menghampiri meja makan dengan seragam lengkapnya.
"Pagi juga sayang."jawab papa William dan mama Fara.
"Pagi juga Vino." jawab Vanya.
"Kakak cantik jadi pulang ke rumah Om Wijaya?" tanya Vino saat melihat barang bawaan Vanya yang banyak.
"Iya nanti sehabis pulang sekolah kakak langsung pergi ke sana." jawab Vanya.
__ADS_1
"Yah... Vino sendirian lagi dong." mengerucutkan bibirnya seperti bebek.
"Gak usah lebay, orang di rumah rame gini kok di bilang sendiri." ucap mama Fara membalas ucapan Vino.
"Mana, orang Vino cuma sendiri."
"Trus mama papa sama para pelayan ini kamu anggap apa hmm?"
"Iiiss maksud Vino tuh temen buat Vino ajak bermain gitu."
"Ya kan kamu bisa ajak mama buat main trus bisa ajak papa juga kalau udah ada di rumah." ucap Vanya agar adik iparnya itu tidak merasa sendiri.
"Iisss kak Vanya gak tahu aja, papa tuh selalu sibuk berkerja trus mau ngajak mama juga mamanya gak bisa main PS kayak kak Vanya." curhat Vino pada Vanya.
Vanya yang mendengar itupun merasa kasian sama Vino karena tidak ada teman buat main.
"Mangkanya cari teman buat di ajak main ke rumah." saran papa William kepada anaknya.
"Kan Vino gak punya teman kalau di rumah, dan itu semua juga salah papa." sungut Vino.
"Lah kok salah papa, perasaan papa gak ngapa-ngapain deh." heran papa William.
"Kalau bukan karena papa beli semua tanah yang ada di kompleks ini pasti Vino juga punya teman tetangga yang di ajak main." dengan nada ngegas.
"Oh iya papa lupa, kita kan gak punya tetangga ya." sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lah, kok malah minta black card?" gumam Vanya bingung yang masih di dengar oleh mereka semua yang ada di situ.
"Tauk tuh, orang lagi ngomongin temen kok sekarang malah minta black card." cibir mama Fara.
"Kan mama udah janji sama Vino kalau papa mau ngasih satu black card lagi buat Vino." jawab Vino mengingatkan.
"Kan mama yang janji kenapa mintanya sama papa." balas papa William memancing emosi anaknya.
"Ya kan papa yang punya black card banyak."
"Tapi kan papa gak janji. Lagian kamu kan udah papa kasih black satu."
"Udah gak ada." jawab Vino cuek.
"Lah gak ada kemana?" tanya papa William kaget. Bisa bisanya kartu penting kayak gitu bisa gak ada.
"Udah Vino buang." jawab Vino.
"APA."
__ADS_1
"Papa gak salah dengar kan sayang, anak kamu bohong kan." kaget papa William, dan dia menanyakan kebenarannya kepada istrinya.
Mama Fara pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Vino kamu jangan becanda ya, kamu kira nyari uang itu mudah a..."
"Kan emang mudah, papa tinggal mantengin laptop trus tinggal suruh orang sana sini udah dapat uang banyak." potong Vino.
"Ya Allah dosa apa aku ini hingga punya anak modelan kayak gini." pusing papa William.
"Iiiss seharusnya tuh papa bersyukur punya anak kayak Vino, Vino itu ganteng. Banyak juga cewek cewek yang ngejar ngejar Vino." ucap Vino lagi yang membuat semua orang geleng-geleng kepala.
"Udah terserah kamu papa udah pusing, pokoknya papa gak akan pernah ngasih kamu black card lagi. Yang satu aja sudah di hilangin masak minta lagi." keputusan papa William.
"Ya udah kalau papa gak mau ngasih Vino black card lagi juga gapapa. Tapi mulai nanti malam Vino gak mau tidur sendiri lagi di kamar, Vino mau tidur sama mama aja." balas Vino mengancam papanya.
"Gak bisa gitu dong." ucap papa William yang tidak setuju dengan ancaman anaknya.
"Bisa lah, apa yang gak bisa Vino lakuin."
"Kamu kok ngeselin sih."
"Mangkanya beri Vino black card."
"Iya iya nanti papa kasih." akhirnya papa William mengalah, dari pada nanti Vino harus tidur di kamarnya kan.
"Yes." senang Vino dalam hati.
"Gitu dong kan papa jadi makin ganteng, tapi masih ganteng Vino." puji Vino setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Cih, kalau ada maunya aja muji muji." sindir papa William yang tak di tanggapi oleh Vino. Dasar anak Dajjal 😂
"Udah udah ayo kita makan, udah siang kalian harus berangkat." ucap mama Fara.
"Iya mama cantik." jawab Vino menurut.
"Semoga aja nanti rumah tanggaku bisa harmonis seperti ini." ucap Vanya dalam hati setelah melihat keharmonisan keluarga mertuanya, meskipun mereka sering bertengkar.
"Oh iya kamu udah ijin sama Vano kan kalau kamu mau nginap di rumah mama kamu." tanya mama Fara sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suami dan anaknya.
"Udah ma." Jawab Vanya setenang mungkin agar mereka tidak curiga kalau dia tengah berbohong.
"Bagus lah, takutnya nanti Vano kalau pulang malah nyariin kamu kesini."
Mendengar itupun Vanya merasa tidak enak karena telah berbohong, tapi mau bagaimana lagi.
__ADS_1
Akhirnya mereka sarapan dengan tenang, setelah itu mereka semua berangkat ke tempat tujuan masing-masing kecuali mama Fara yang tetap stay di rumah.
...***...