My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 138


__ADS_3

"Vano cepat mand...i." ucap Vanya saat keluar dari kamar mandi, tapi apa yang di lihatnya, ternyata Vano masih tetap sama seperti tadi sebelum dia ke kamar mandi.


"Ya ampun Vano, bangun dong ini udah siang." menguncang tubuh Vano dengan kasar, tak peduli lagi jika Vano akan marah kepadanya.


"Apa sih yank, aku masih ngantuk." ucap Vano yang merasa terganggu tidurnya.


"Bangun, cepat mandi. Ini udah siang." perintah Vanya.


"Bentar 5 menit lagi." jawab Vano dan kembali menarik selimut yang tadi melorot.


"Vano, bangun gak." tegas Vanya sambil melotot menatap Vano.


"Iya iya ini bangun, bawel banget." dengan berat hati Vano pun segera beranjak pergi ke kamar mandi, dari pada di omeli ayang lagi.


"Baju kamu aku taro di sini ya." teriak Vanya.


"Iya." jawab Vano.


Vanya pun memutuskan untuk keluar dari kamar menuju meja makan, dia akan menunggu Vano di situ aja dari pada di kamar nanti pusing.


"Heran deh, secapek apa sih dia, sampai sampai jam segini aja baru bangun." heran Vanya.


Vanya menunggu Vano di meja makan sambil scroll beranda Inst*gr*m untuk melihat update an para suaminya. 1 jam sudah Vanya di sana, tapi Vano belum menampakkan batang hidungnya juga.


"Ini Vano mandi atau ngapain sih, lama bener." gumam Vanya, Vanya pun memutuskan untuk naik melihat Vano di kamarnya.


"Lama banget sih mandinya." ucap Vanya saat memasuki kamar tapi tidak melihat keberadaan Vano.


"Lah kok gak ada, ini juga bajunya masih di sini." heran Vanya, masak iya Vano mandi sampai saju jam.


"Jangan jangan..." Vanya pun segera berlari ke kamar mandi, beruntungnya pintu kamar mandi tidak di kunci dan Vanya pun segera membukanya. Dan terlihatlah...


"VANO..." garang Vanya.


Bagaimana tidak, Vanya menunggu Vano di bawah sambil hampir jamuran, ehh yang di tunggu malah enak enakkan tidur di atas closed sambil bersandar di dinding dengan nyamannya.


Vano yang mendengar teriakkan Vanya pun kaget dan langsung berdiri dan tak menyadari kalau di samping ada dinding sehingga dahinya kejeduk dinding.


"Auw." keluh Vano.


"Ehh kamu gak papa?" panik Vanya dan segera melihat keadaan jidat Vano.


"Maaf aku gak bermaksud bikin kamu kaget, lagian kamu kenapa malah tidur di sini sih." ucap Vanya sambil tangannya mengelus jidat Vano yang memerah.


"Atit." manja Vano.


"Atututu maaf ya, sini aku obatin." Vanya menggeret tangan Vano agar keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Setelah itu dia mengobati dahi Vano yang agak memerah.


"Masih sakit?" tanya Vanya perhatian.


"Atit." rengek Vano.


"Lagian kamu kenapa malah tidur di kamar mandi sih, bukannya mandi malah tidur kamu ini. Emang masih kurang tidur nya tadi hmm?" cerocos Vanya.


"Aku masih ngantuk makanya aku tidur, orang aku tidurnya mau subuh jadi ya masih ngantuk." jawab Vano.


"Hah, mau subuh. Emang kamu semalam ngapain aja, jangan kerja mulu kasian tubuh kamu itu juga butuh istirahat." nasihat Vanya, padahal Vanya gak tahu aja semalam Vano tidak bisa tidur karenanya.


"Aku itu gak bisa tidur semalam, jadi ya aku kerja lah dari pada gak ngapa ngapain."


"Orang tinggal tidur aja, ngapain pakek acara gak bisa tidur segala."


"Kan aku udah bilang semalam, kalau aku tuh gak bisa tidur tanpa kamu. Aku itu udah biasa tidur sambil peluk kamu trus nen** juga. Dan semalam rasanya hampa gak ada kamu." jelas Vano.


Mendengar itu Vanya pun semakin merasa bersalah.


"Maafin aku ya, karena keegoisan ku kamu jadi kayak gini." minta maaf Vanya.


"Ini bukan salah kamu kok, akunya aja yang lebay." balas Vano tak mau menyalahkan Vanya.


"Ya udah sekarang kamu mandi ya, trus habis itu kita sarapan, ya meskipun sudah siang sih." suruh Vanya.


"Gak mau, dingin." tolak Vano.


"Ya kan emang airnya udah dingin, aku siapin air hangat nya lagi ya." bujuk Vanya.


"Gak mau." tolak Vano lagi.


"Terus kamu maunya gimana?" tanya Vanya dengan sabar.


"Kamu yang mandiin aku." pinta Vano.


Plak.


"Sembarang kalau ngomong, udah sana mandi, jangan tidur lagi." suruh Vanya setelah menampar lengan Vano yang ada di pinggangnya.


"Iiiss.. sakit tauk." kesal Vano dan melepaskan pelukannya.


"Pokoknya aku gak mau mandi kalau bukan kamu yang mandiin." tiduran lagi di ranjang.


"Vano bangun." menarik tangan Vano.


"Gak mau." tolak Vano.

__ADS_1


"Iya iya ayo aku mandiin kamu." ngalah Vanya, dari pada nanti Vano gak bangun bangun.


"Beneran ya?" tanya Vano gak percaya.


"Iya, udah ayo cepat." ajak Vanya.


Dengan semangat 45 Vano pun segera mengikuti Vanya ke kamar mandi. Bukan cuma Vano aja yang mandi, tapi Vanya akhirnya ikut mandi lagi akibat ulah Vano yang terus mengoda Vanya. Mereka mandi berdua tidak dengan waktu yang sebentar, tapi hampir 30 menit barulah mereka selesai mandi.


"Sayang..." rengek Vano.


"Apa, gak usah anah aneh lagi. Pakai bajunya sendiri." garang Vanya.


Mendengar itu Vano pun mengerucutkan bibirnya lucu, dan tak segera memakai pakaiannya. Hal itu pun membuat Vanya kesal sendiri, akhirnya Vanya pun mengalah lagi, dia memakai kan pakaian untuk Vano.


Setelah di rasa rapi, mereka pun pergi ke meja makan untuk memakan masakan yang Vanya buat, Vano sangat suka dengan masakan Vanya. Dia begitu lahap memakannya, hingga nambah 2 kali.


"Enak banget yank." puji Vano di tengah acara makannya.


"Abisin dulu makanannya baru ngomong." ucap Vanya.


Mendengar peringatan yang Vanya berikan, Vano pun langsung diam dan lanjut makan tanpa suara.


-


"Van jalan yuk." ajak Vanya.


"Mau jalan kemana hmm?" tanya Vano yang tengah fokus pada ponsel di tangannya.


"Ya terserah, pokoknya gak di rumah aja." jawab Vanya.


"Ya udah ayok."memasukkan ponselnya ke saku.


"Bentar aku ambil tas dulu." Vanya pun segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas selempang yang berukuran kecil.


Karena tadi pakaian mereka sudah rapi dan cocok buat jalan jalan, jadi ya tak perlu ganti baju lagi. Hanya perlu pakai sepatu itu aja.


Tak lupa Vano memakai topi agar jidatnya yang agak benjol dikit tidak kelihatan.


"Yuk." ucap Vanya saat memasuki mobil.


Tanpa menjawab Vano pun segera melajukan mobilnya menuju lanan ibu kota yang lumayan padat.


"Kita mau ke mana?" tanya Vano.


"Terserah." Jawab Vanya.


Vano tak bertanya lagi karena dia takut hal serupa waktu mereka cari makan dulu terulang lagi. Vano segera melajukan mobilnya ke arah mall, dia ingin ngajak Vanya nonton di bioskop aja dari pada dia pusing.

__ADS_1


...***...


__ADS_2