
"Emang biasanya berapa lama?"
"Eemmm paling dikit sih lima hari biasanya." jawab Vanya.
"What." lemes sudah badan Vano setelah mendengar itu.
Vano pindah posisi menjadi tiduran di samping Vanya dengan menatap langit langit kamar.
"Kenapa lama banget yank." keluh Vano.
"Itu gak lama loh, biasanya aja malah ada yang sampai 16 hari."
"Tapi itu bagi aku lama banget sayang." muncullah sifat manja Vano.
Tadinya Vanya yang mau di manja ehh sekarang malah kebalikannya.
"Ya trus mau gimana lagi Vano sayang ku cinta ku." menggapit kedua pipi Vano.
"Ya gak tahu, pokoknya itu lama."
"Bagaimana kalau nen** aja." usul Vanya.
Mendengar itu jiwa semangat Vano pun kembali berkobar lagi.
"Mau mau." antusias Vano.
"Ya udah sini."
Akhirnya Vano pun nen** hingga mereka berdua tertidur sampai pagi.
Vanya dan Vano menikmati masa masa kebahagiaan mereka, tanpa mereka ketahui bahwa di sana ada seseorang yang tengah merencanakan sesuatu untuk mereka berdua.
-
Pagi ini matahari tidak menampakkan dirinya karena terhalang oleh awan mendung. Vanya masih asik tertidur sedangkan Vano, dia sudah terbangun dari tadi dan mendusel dusel di perut Vanya sehingga membuat Vanya merasa kegelian.
"Eemmh, Van." Vanya bangun dari mimpi indahnya.
"Hmm." jawab Vano masih asik dengan kegiatannya.
"Kamu ngapain sih, geli tauk."
"Aku tuh lagi berinteraksi sama anak kita sayang." ucap Vano menghentikan kegiatannya.
"Sayangnya papa, cepat tumbuh dong papa gak sabar nih buat ketemu anak papa." berbicara di hadapan perut Vanya yang sudah tak terhalangi oleh kain apa pun.
"Eemmm Van." pangil Vanya ragu.
"Ada apa hmm?" masih asik dengan Perut Vanya yang masih rata.
"Aku boleh gak ngomong sesuatu?"
Mendengar nada bicara Vanya yang sepertinya akan serius, Vano pun menghentikan kegiatan dan fokus menghadap ke wajah istrinya.
__ADS_1
"Kamu mau ngomong apa, perasaan dari tadi udah ngomong deh." gurau Vano.
"Eemmm aku takut kamu nanti marah."
"Emang kamu mau ngomong apa sih, asal itu gak yang berlebihan aku gak bakal marah." menyamakan posisinya dengan Vanya, sehingga memudahkan Vano untuk menatap wajah Vanya lebih jelas lagi.
"Eeemmm... kamu udah pingin banget ya punya anak?" tanya Vanya.
"Ya ingin banget lah yank, siapa coba yang tak ingin punya anak." jawab Vano.
"Emang kenapa sih?" lanjut Vano.
"Bo-boleh gak kalau kita tunda dulu punya anaknya sampai kita lulus SMA." ujar Vanya ragu ragu.
Seketika ekspresi wajah Vano berubah. Dari yang tadinya banyak senyum sekarang datar tak menunjukkan ekspresi senang atau sedih.
"Van." pangil Vanya lantaran Vano cuma diam saja.
Vanya meraih tangan Vano untuk di genggam nya tapi dengan cepat Vano menghempaskan tangan Vanya dengan kasar. Vano bangun dari ranjang dan di ikuti Vanya.
"Van." takut Vanya, lantaran wajah Vano sekarang sangat menyeramkan bagi Vanya.
"Apa, kamu gak mau punya anak dari aku." ucap Vano dengan nada tinggi.
"Gak gitu Van, aku cuma..."
"Cuma apa, kamu takut kalo nanti kamu hamil gak ada cowok lagi yang mau incar incar kamu?" tuduh Vano.
"Halah gak usah banyak alasan." setelah mengucapkan itu Vano pergi meninggalkan Vanya ke kamar mandi.
"Van." Vanya berusaha mengejar Vano, tapi karena langkah Vano yang lebar Vanya pun tidak bisa mengejar Vano, karena Vano sudah keburu masuk ke kamar mandi.
Brak.
Vano membanting pintu dengan keras nya membuat Vanya hampir jantungan.
"Astaghfirullah." refleks Vanya.
Mendengar gemercik air dari kamar mandi yang menandakan Vano lagi mandi, Vanya pun pergi ke walk in closed untuk menyimpan seragam sekolah Vano. Dan setelah itu Vanya pergi ke dapur untuk masak buat sarapan.
Vano keluar dari kamar mandi tak mendapati keberadaan Vanya, Vano segera memakai seragam sekolahnya yang sudah Vanya siap kan. Setelah selesai dia segera turun ke bawah guna berangkat sekolah.
Vano melewati meja makan yang terdapat Vanya sedang menata makanan di meja.
"Van sarapan dulu." pangil Vanya pada Vano.
Vano menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Vanya tanpa ekspresi.
"Aku sarapan di sekolah aja." melanjutkan langkahnya, tapi setelah itu Vano berhenti dan membalikkan badannya.
"Oh ya, kamu berangkat sekolah sendiri bisa kan." setelah mengatakan itu Vano pun pergi meninggalkan Vanya.
Mendengar ucapan Vano hati Vanya rasanya sangat sakit, tanpa dia sadari air matanya menetes.
__ADS_1
"Van." lirih Vanya.
Vanya pun segera menghapus air matanya sebelum ada yang melihat, setelah itu dia pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.
Vanya pergi ke sekolah tanpa sarapan, dia hanya membawa dua kotak bekal untuk dirinya dan Vano. Bagaimana pun Vanya kepikiran dengan sikap Vano yang berubah kepadanya, makanya dia tak nafsu buat makan tadi.
Vanya sampai di halaman luas sekolah dan segera pergi menuju kelas Vano untuk mencari kebenaran Vano, tapi yang di cari tidak ada di kelas. Vanya tak putus asa, dia naik ke atap di mana tempat biasa Vano nongkrong sama teman temannya. Tapi hasilnya tetap nihil, tak ada siapapun di sana bahkan teman teman Vano pun tak ada di sana, mungkin karena masih pagi. pikir Vanya.
Vanya pergi ke kelasnya meletakkan semua barang barang nya, setelah itu dia keluar membawa satu kotak bekal yang akan dia berikan pada Vano. Vanya pergi ke parkiran motor untuk mencari motor Vano, tapi dia tidak melihat keberadaan motor Vano.
"Kok motor Vano gak ada sih, perasaan Vano udah berangkat dari tadi deh." gumam Vanya berjalan menuju gerbang untuk menegur murid murid yang berpakaian tidak rapi dan tidak lengkap sambil menunggu kedatangan Vano.
Kriiiing...
Bel masuk berbunyi, bertepatan dengan motor sport yang di kendarai Vano dkk memasuki gerbang sekolah.
Vanya tersenyum lega, melihat orang yang di tunggunya sedari tadi sampai juga.
Vano melepaskan helm full face nya dan segera berlalu dari sana di ikuti teman temannya tanpa menyapa Vanya atau pun hanya sekedar menatap wajah Vanya.
"VANO." pangil Vanya dengan keras lantaran posisi Vano yang sudah jauh dari nya.
Vano berhenti, dan membalikkan badannya menghadap Vanya.
"Van." ulang Vanya lagi setelah sampai di hadapan Vano.
Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir indah Vano, hanya alis sebelah Vano saja yang terangkat menandakan apa.
"Kamu udah sarapan belum, ini aku bawain makanan buat kamu." menyodorkan kotak bekal yang Vanya bawa.
Vano menatap tangan Vanya tanpa ingin mengambil apa yang Vanya berikan kepadanya.
"Van." ucap Vanya memohon agar Vano mau mengambil makanan yang dia berikan.
Akhirnya Vano pun mengambil makanan yang Vanya berikan, tapi setelah itu dia memberikannya pada Galang.
"Nih buat lo." setelah mengatakan itu Vano pergi meninggalkan Vanya tanpa rasa bersalah.
"Yang sabar ya Van." ucap Rangga tak tega melihat sikap Vano pada Vanya.
"Lo tenang aja nanti kita bakal ngomong sama Vano agar dia gak kayak gini lagi ke lo, ya meskipun kita gak tahu sih apa masalah kalian." ucap Galang yang sama tak teganya pada Vanya.
"Iya makasih ya kalian udah baik banget." terharu Vanya kepada kedua teman Vano.
"Ya udah kita susul Vano dulu."
Galang dan Rangga pun ikut pergi meninggalkan Vanya.
Murid murid yang melihat kejadian itu pun pada berghibah ria membicarakan hubungan Vanya dan Vano.
Hati Vanya sakit melihat sikap Vano yang seperti ini. Apalagi Vano sampai tak mau menerima makanan yang dia masak tadi pagi.
...***...
__ADS_1