My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 147


__ADS_3

"Siapa kamu berani beraninya ngomong gitu sama saya, saya laporin kamu sama pak William biar kamu di keluarkan dari sini?" ancam mamanya Cindy.


Mendengar itu nyali pak Anang pun menciut.


"Kamu.." menunjuk muka Vanya.


Vanya yang di tunjuk pun santai santai saja, ngapain harus takut. Ingat kata Vano, kalau Vano akan selalu ada di belakang Vanya apapun yang terjadi.


"Kamu gak lihat wajah cantik anak saya yang lecet gara gara ulah kamu." marah mamanya Cindy.


"Baguslah biar gak cantik lagi." balas Vanya santai yang membuat mamanya Cindy geram.


"Kamu..."


"Iya Tante cantik, dari tadi kamu kamu mulu, nih kenalin. Vanya Fairosa Wijaya putri tunggal keluarga Wijaya orang terkaya nomor 2 dan calon mantu kesayangan keluarga William keluarga terkaya nomor satu di negara ini." sombong Vanya yang sepertinya ketularan Vano.


Mama dan papanya Cindy pun kaget mendengar ucapan Vanya, dia gak tahu kalau Vanya adalah anak orang kaya bahkan lebih kaya darinya. Mereka kira Vanya adalah adalah salah satu murid yang mendapatkan beasiswa.


"Kenapa Tante kok diam." tantang Vanya.


"Mana sih wajah lo yang lecet coba sini gw liat." lanjut Vanya menatap Cindy dengan senyuman yang manis tapi rada serem.


"Ma..." rengek Cindy agar mamanya tidak goyang untuk menjatuhkan Vanya.


"Kamu tenang aja sayang, apapun yang terjadi dia tetap salah jadi harus di kasih hukuman. Lagian kalau orang tuanya tahu dia juga bakal di hukum karena sudah mencoreng nama keluarganya. Dia juga pasti nanti di tolak sama keluarga William jika tahu kelakuan calon menantunya kayak gini." ucap mamanya Cindy memandang Vanya rendah.


"Silahkan di coba Tante." santai Vanya.


"Oh iya, bukannya Om lagi ada kerja sama sama perusahaan papa saya ya. Gimana Om mau lanjut atau tidak?" lanjut Vanya bertanya kepada papanya Cindy yang sedari tadi diam.


"Dari mana kamu tahu?" balik tanya papanya Cindy.


"Saya tahu semua tentang perubahan papa saya, kan saya satu satunya pewaris keluarga Wijaya jadi ya saya bisa dong membatalkan kerjasama itu." Vanya mengeluarkan ancamannya.


"Jangan." spontan papanya Cindy menjawab.


"Kenapa Om, takut?"


"Kamu masih bau kencur jangan berani beraninya ngancam suami saya ya, udah pa jangan takut sama dia. Kita harus menuntut keadilan buat putri kita." sela mamanya Cindy yang tetap kekeuh pada pendiriannya.


"Tapi ma..."

__ADS_1


"Pa, papa gak lihat wajah anak kita, dia terluka pa, dan itu semua karena dia." menunjuk Vanya lagi.


"Aduh Tante, tangannya gak usah pakai nunjuk nunjuk segala, saya potong baru tau rasa." dengan santainya Vanya meladeni keluarga prik di depannya ini.


"Pa, sakit..." rengek Cindy sambil memegang pipinya yang ada bekas cakaran agar papanya tetap melanjutkan rencana mereka tadi.


"Iya sayang, papa akan lakuin apa pun buat kamu." luluh papanya Cindy.


"Cih, bod*h sekali." batin Vanya yang menyayangkan sikap papanya Cindy.


"Saya mau kamu tangung jawab atas apa yang kamu lakukan pada anak saya."Ucap papanya Cindy.


"Caranya?" balas Vanya santai.


"Kamu harus di keluarkan dari sekolah ini."


"Wow, siapa anda mau ngeluarin saya?" tantang Vanya.


"Saya adalah salah satu donatur di sekolahan ini."


"Dan papa saya juga donatur di sini, anda mau apa?" balas Vanya.


Prinsip Vanya, kalau ada orang yang menyombongkan kelayakannya maka Vanya harus lebih sombong darinya. Vanya mendapatkan prinsip ini waktu dia dekat dengan Vano yang notabenenya si kang sombong.


"Tapi kamu sudah melakukan tindakan yang dapat mempermalukan keluarga mu jadi saya yakin orang tua kamu juga gak bakal peduli sama kamu."


"Anda terlalu yakin tuan." ujar Vanya.


"Pa, dia itu ketua OSIS di sini, masak iya ketua OSIS kelakuannya kayak gitu." adu Cindy lagi yang membuat Vanya begitu muak.


"Pak Anang, apakah sekolahan ini tidak salah pilih, masak anak kayak gini di jadikan ketua OSIS, mau jadi apa sekolahan ini." ucap papanya Cindy.


"Bener tuh pak, mendingan anak saya yang jadi ketua OSIS." sahut mamanya Cindy.


"Maaf ibu, kami milih ketua OSIS yang wajahnya masih muda bukan kayak Tante Tante yang gincunya sebelas dua belas sama pewarna makanan." balas pak Anang, karena dia sudah tidak ragu lagi untuk melawan orang tuanya Cindy ini setelah melihat tingkahnya yang kayak gini.


"Kamu berani ngatain anak saya Tante Tante." marah mamanya Cindy.


"Maaf ibu, saya gak bilang gitu. Tapi kalau anak ibu merasa ya bagus lah."


"Kamu berani sama saya, papa telfon tuan William bilang kalau kepala sekolah di sini tidak becus dalam bekerja, biar dia di keluarkan dari sini. Sekalian bilangin juga kalau ketua OSIS di sini tingkahnya udah kayak preman, biar sekalian dia di keluarkan dari sini." ucap mamanya Cindy yang membuat Cindy tersenyum meremehkan ke Vanya.

__ADS_1


"Siapa yang mau di keluarkan?" ucap seseorang yang baru masuk ke dalam ruang kepala sekolah tanpa ijin.


"Vano." kaget Cindy.


Sedangkan Vanya yang melihat kedatangan Vano pun merasa kemenangan sudah ada di depan mata, Vanya yakin pasti ini ulah kedua temennya.


"Saya tanya, siapa yang mau di keluarkan dari sini?" tanya Vano lagi.


"Dia," Jawab mamanya Cindy sambil nunjuk Vanya.


"Ma udah ma." Cindy berusaha menghentikan aksi mamanya karena di sana ada Vano, bisa bisa nanti yang ada semua yang sudah dia rancang kembali kepadanya. Tapi mamanya Cindy tak menghiraukan ucapan Cindy.


"Masak dia udah bikin anak saya celaka masuk rumah sakit tapi dia gak mau tanggung jawab." lanjut mamanya Cindy berfikir kalau Vano akan membantunya.


"Apakah Tante tahu siapa yang sudah bikin anak Tante masuk rumah sakit?" tanya Vano lagi.


"Ya tahu lah, itu dia kan." menunjuk Vanya lagi.


Sedangkan Vanya yang di tunjuk pun duduk dengan santai sambil kedua tangannya berada di depan dada.


"Mampus gw." batin Cindy yang tidak bisa menghentikan mamanya.


"Ma udah ma." ucap Cindy agar mamanya diam.


"Apaan sih kamu, tadi katanya kamu mau dia di keluarkan dari sekolahan ini, biar kamu gak ada saingannya." ucap jujur mamanya Cindy yang membuat Vanya semakin tersenyum manis, sangat manis.


"Asal om dan tante tau, yang bikin anak Tante masuk rumah sakit itu saya bukan dia. Dia hanya mencakar pipi anak Tante, dan itu pun menurut saya tidak parah jadi gak ada yang perlu di keluarkan dari sekolah ini." jelas Vano.


"Apa." kaget mamanya Cindy, pasalnya yang Cindy bilang Cindy masuk rumah sakit itu karena di cekik oleh Vanya dan ternyata anaknya ini bohong.


"Kamu jangan bohong, kamu jangan membela dia. Di bayar berapa kamu sama dia hah." tetap saja tak mau mengakui kesalahan anaknya.


"Apa tante bilang tadi, di bayar? Halo... uang saya sudah banyak, jadi mana mau saya di bayar buat masalah kayak gini. Coba Tante tanyakan pada anak Tante sendiri kejadian yang sebenarnya itu gimana?"


"Dan satu lagi, kalian gak berhak untuk mengeluarkan pak Anang ataupun Vanya dari sekolah ini, karena yang berhak hanya saya." tambah Vano.


"Emang kamu siapa bisa ngomong gitu?" tanya papanya Cindy yang sedari tadi diam.


"Saya Geovano Alexander William..."


"APA."

__ADS_1


...***...


__ADS_2