
Hiks hiks hiks...
Vano masih menangis di pelukan Vanya.
"Udah ya jangan nangis, kalau kamu berhenti nangis nanti aku kasih deh apapun yang kamu mau." bujuk Vanya.
"Beneran?" antusias Vano mendengar ucapan Vanya, dan seketika tangisannya mereda.
"I-iya." jawab Vanya ragu.
"Keknya gw salah ngomong deh." batin Vanya menangis.
"Aku mau n*n." pinta Vano.
"Hah?" cengoh Vanya.
"Iiiss ayo aku mau n*n." rengek Vano.
"Yang lain aja ya..."
"Gak mau, pokonya aku mau n*n." ucap Vano tak bisa di bantah.
"Kan tadi udah."
"Tapi kan sekarang belum."
"Yang lain aja ya..." tawar Vanya lagi.
"Iiiss gak mau, Vano maunya n*n titik gak pakai koma." ucap Vano dengan mata yang sudah berkaca-kaca lagi.
"Hufft... iya iya ayo n*n." Vanya mengalah dari pada nanti bayi besar nangis lagi.
"Makasih ayang. Emuah." mengecup bibir Vanya dan segera membuka baju tidur Vanya.
"Eehh biar aku saja yang buka." cegah Vanya karena kalau Vano yang buka bajunya, bisa bisa sampai dia telanjang semua tubuh bagian atasnya.
"Kelamaan." balas Vano dan segera menanggalkan pakaian atas Vanya hingga telanjang bulat.
"Waaahh." kagum Vano melihat kedua benda yang ada di hadapannya.
"Jangan di lihatin." ucap Vanya karena dia merasa malu.
Vano segera melahap salah satu benda itu dengan rakus seperti bayi yang setahun tidak minum.
Ciahhh ilah author lebay.
Tanpa mereka sadari sekarang posisi mereka sudah berbaring di ranjang dengan mulut Vano yang tetap setia melahap secara bergantian kedua benda kesukaan Vano.
Di tengah kegiatan Vano, diam diam Vano memperhatikan kondisi Vanya yang sepertinya sudah larut dalam permainan yang dia buat. Merasa ada kesempatan Vano melancarkan aksinya hingga acara gelut di atas ranjang pun terjadi hingga Vano puas.
__ADS_1
Skip.
Pagi hari Vano terbangun lebih dulu dari biasanya. Vano sudah rapi dengan pakaian seragam dan sekarang tengah membawakan makanan sarapan untuk dirinya dan Vanya ke dalam kamar.
"Sayang bangun yuk." ucap Vano membangunkan Vanya dengan lembut.
"Eemmhh..." lengkuh Vanya membuka matanya secara perlahan.
Vanya menyipitkan matanya yang terkena sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela.
"Pagi sayang." sapa Vano.
"Pagi juga bee." balas Vanya dengan suara yang masih serak.
Vanya bangun di bantu Vano dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aaaa..." Vano menyuapkan satu sendok nasi goreng beserta lauknya.
Vanya menerima suapan Vano.
"Siapa yang masak, kamu?" tanya Vanya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
"Hehehe bukan." cengir Vano.
"Kirain kamu, padahal tadi kalau kamu yang masak mau aku kasih hadiah."
"Hadiah?"
"Apa tuh hadiahnya, apakah main seharian di kamar?" tebak Vano dengan pikiran yang mes*m.
"Sembarang. Kamu ini otak isinya apaan sih, perasaan gituan mulu isinya."
"Ya kan siapa tau yank."
"Udah ahh sini aku mau makan sendiri." mengambil sendok yang ada di tangan Vano dan segera melahap nasi goreng itu dengan lahap.
"Loh yank jangan di abisin, aku belum makan." cegah Vano.
"Biarin, kamu makan di kantin aja nanti." tetap melanjutkan makannya hingga satu piring munjung tadi habis tak tersisa sebutir nasi pun.
"Yank, kamu lapar apa doyan?" heran Vano.
"Ya aku lapar lah, kamu gak tahu kalau tenagaku itu habis kamu kuras semalaman." balas Vanya sewot.
"Perasaan aku deh yang main, kamu cuma nikmati aja. Tapi kok kamu yang laper?" goda Vano.
"Vano..."
"Iya sayang."
__ADS_1
"Jangan mulai deh."
"Lah emang aku ngapain?"
"Tauk ahh, aku kesel sama kamu."
"Perasaan setiap hari kesel mulu, tapi nanti ujung ujungnya juga nempel kek lem." goda Vano lagi.
"Udah sana kamu balikin nih piringnya aku mau mandi." usir Vanya.
"Ya udah sana kamu mandi, tapi sebelum itu kamu minum ini dulu." menyodorkan segelas air putih.
Vanya menerimanya dan meneguknya hingga tandas.
"Udah sana pergi." usir Vanya.
Bukannya pergi Vano malah meletakkan nampan yang dia gunakan untuk membawa makanan tadi di atas meja.
"Kamu mau ngapain?" waspada Vanya saat Vano berdiri di hadapannya.
Tanpa ba bi bu Vano langsung mengangkat tubuh polos Vanya beserta selimut yang melilit di tubuh Vanya.
"VANO...." teriak Vanya kaget.
"Hmm."
"Turunin aku, aku bisa jalan sendiri." berontak Vanya.
"Emang kamu bisa jalan?"
"Ya bisa lah..."
"Auw." ringis Vanya saat Vano tiba tiba menurunkan dirinya dari gendongan Vano.
"Tuh, masih mau ngeyel juga."
Vano segera mengangkat Vanya kembali dalam gendongannya dan kali ini Vanya tidak berontak.
"Aku udah siapin air hangat buat kamu mandi, aku tunggu di luar ya, nanti kalau kamu butuh sesuatu pangil aku." ucap Vano lembut setelah mendudukkan Vanya di atas kloset.
Vanya mengangguk dan Vano pun segera berlalu pergi meninggalkan kamar mandi.
"Hufft... punya suami gini amat." gumam Vanya melihat penampilan dirinya di dalam cermin.
Bagaimana tidak, penampilan Vanya kali ini udah seperti jal**g yang habis di sewa. Rambut yang berantakan leher sampai dada penuh dengan bekas kissm**k Vano semalam.
"Tapi asik juga sih hihihi..." cekikikan Vanya.
Setelah itu Vanya pun segera mandi dan berendam sebentar untuk menghilangkan stres yang dia rasa.
__ADS_1
...***...