
"Assalamualaikum ma." sapa Vanya pada mama Fara yang tengah duduk di kursi teras rumah.
"Waalaikum salam, mama tungguin loh kamu kenapa gak turun turun dari mobil tadi?" tanya mama Fara.
"Vanya tadi angkat telfon mama dulu ma, maaf jadi buat mama menunggu." merasa tidak enak.
"Ehh, enggak kok mama tadi juga sekalian menata bunga ini." sambil nunjuk bunga yang ada di atas meja.
Vanya tahu sebenarnya mama mertuanya itu sudah menunggu dia sedari tadi, tapi di tutupi dengan bilang kalau merangkai bunga padahal mah bunganya itu emang sudah rapi dari pagi Vanya liat. Mama Fara melakukan itu agar Vanya tidak merasa gak enakan.
Entahlah mengapa mama mertuanya itu baik banget sama Vanya bahkan hal sepele seperti ini saja mama Fara tidak mau menyakiti hati menantunya, Terbuat dari apa sebenarnya hati mama mertuanya ini. Tapi kenapa anaknya kok berbeda. pikir Vanya.
"Oh mama lupa ngucapin buat kamu, selamat ya sayang kamu hebat banget sih sampai bisa menang olimpiade, tingkat nasional loh itu." mama Fara memberi selamat pada Vanya.
"Makasih ma. Tapi bagi Vanya itu biasa saja, malahan menurut Vanya itu masih kurang." ucap Vanya.
Ya begitulah manusia, dia akan merasa kurang dengan apa yang sudah dia miliki tanpa melihat bahwa orang lain ingin memiliki apa yang kita miliki.
"Hei kamu gak boleh gitu, itu prestasi sudah luar biasa banget loh sayang. Kamu harus banyak banyak bersyukur ya, jangan merasa kurang terus." nasihat mama Fara.
Vanya diam mencerna ucapan mama Fara, memang benar dia selama ini selalu di didik dengan keras agar bisa mendapatkan apa yang dia mau hingga dia jadi terbiasa dengan mengejar prestasi prestasi sampai dia lupa caranya bersyukur.
"Iya ma, maaf Vanya..."
"Ssstt.... mama ngerti kok, kamu sudah terbiasa dengan itu. Tapi mulai sekarang kamu harus bisa mengontrolnya ya, dan jangan kebanyakan belajar kasihan otak kamu juga butuh istirahat." potong mama Fara yang membuat Vanya menatap mama Fara dengan pandangan tidak percaya kenapa mama Fara bisa mengetahui akan hal itu.
"Mama tahu?"
"Iya mama sama papa tahu semua tentang kehidupan kamu dari kamu lahir sampai sekarang kamu sudah menikah dengan anak mama." jawab mama Fara sambil mengelus rambut menantunya dengan sayang.
Bruk
Vanya sudah tidak bisa menahannya lagi, Vanya memeluk tubuh mama Fara dengan erat dan terisak di pelukan hangat mama Fara.
"Ssstt...udah ya jangan nangis nanti jelek loh." mama Fara berusaha menenangkan Vanya.
"Hiks hiks hiks... sebenarnya Vanya juga tidak mau seperti ini ma hiks." keluh Vanya.
"Iya mama ngerti kok, udah ya jangan nangis nanti kalau Vino liat mama bisa di laporkan ke suami kamu."
"Hiks hiks hiks..." dengan sesenggukan Vanya melepaskan pelukan mertuanya.
"Udah ya, mulai sekarang kamu jangan merasa tertekan atau apa apapun yang menggangu pikiran kamu cepat cerita sama mama. Mama sama papa sayang sama kamu seperti anak mama sendiri." sambil menghapus air mata Vanya.
Vanya mengangguk dan mengelap air matanya sambil masih sesenggukan.
__ADS_1
"Vanya boleh peluk mama lagi?" tanya Vanya memohon.
"Boleh dong kan mama orang tua kamu masak gak ngebolehin anaknya kalau mau minta peluk sih." ucap mama Fara sambil tersenyum manis ke Vanya.
Vanya pun memeluk mama Fara dengan erat, menenggelamkan kepalanya di dada mama Fara sambil memejamkan matanya menikmati pelukan hangat seorang ibu.
Setelah beberapa saat Vanya melepaskan pelukannya dan memandang sayang mama mertuanya setelah itu tanpa aba aba Vanya langsung mencium pipi mama Fara kanan dan kiri berganti.
Cup cup.
"Vanya sayang mama." ungkap Vanya.
"Mama juga sayang sama Vanya." membalas kecupan Vanya tapi tidak di pipi melainkan di dahi Vanya.
Cup.
"Dah sekarang jangan sedih lagi. Sana mandi setelah itu sesuai janji mama kita akan jalan jalan hari ini sampai kamu puas nanti mama yang traktir."
"Beneran ma?"
"Iya sayang."
"Ya udah Vanya ke atas dulu mau mandi." pamit Vanya.
"Iya udah sana."
-
Vanya dan mama Fara pergi ke sebuah mall terbesar yang ada di Jakarta. Setelah mengisi perut mereka yang sudah keroncong, mereka pergi mengelilingi mall untuk mencari barang barang yang mereka inginkan.
"Sayang sini deh." Pangil mama Fara.
"Ada apa ma?" menghampiri mama Fara yang tengah memegang sebuah tas branded keluaran terbaru dari merk terkenal.
"Kamu mau ini gak? Sepertinya ini cocok deh kalau kamu pakai." sambil menyodorkan tas berwarna putih ke Vanya.
...(foto ngambil di google)...
"Maksud mama?" tanya Vanya tidak mengerti dengan ucapan mama Fara.
"Ini mama mau beri hadiah buat kamu karena kamu menang tadi." jelas mama Fara.
"Mama serius, ini mahal loh ma." ucap Vanya tidak percaya. Bagaimana tidak harga tas itu lebih dari 0,5M dan itu menurut Vanya itu mahal banget hanya untuk sebuah tas.
__ADS_1
"Mama serius sayang, kamu suka kan?"
"Eemmm... Vanya.." bingung mau jawab apa.
"Mau ya ya plis..."
Vanya bingung kalau mau di tolak dia gak enak, tapi mau di terima itu harganya selangit.
"Tapi ma..."
"Plis... mau ya." mohon mama Fara lagi.
"Itu mahal banget loh ma, mending buat beli mobil saja." ceplos Vanya.
"Kamu mau mobil."
Nah lo, masalah tas aja belum selesai. Ini lagi mobil, emang dah mulut ini lemes banget. pikir Vanya.
"Ehh gk gitu maksud Vanya ma.."
"Udah gak papa, bilang saja kalau mau mobil nanti biar di beliin papa kalau sudah pulang." potong mama Fara santai.
"Udah ini mama beliin untuk kamu, pokonya kamu harus mau." tegas mama Fara tanpa mau di bantah.
"Hufft, nih lama lama gw jadi miliarder." gumam Vanya setelah menghela nafasnya.
"Yuk kita cari yang lain lagi." ajak mama Fara setelah membayar tas tadi.
"Hah." Vanya tak habis pikir dengan mama mertuanya, Vanya kira tadi ngajak ke mall mau belanja barang yang biasa biasa saja ternyata oh ternyata. Sultan mah beda...
"Kita nyalon aja yuk." ajak mama Fara dan segera menyeret Vanya tanpa menunggu persetujuan Vanya.
Vanya hanya menurut saja tuh mau nolak juga gak bakalan bisa.
"Selamat datang nyonya ada yang bisa saya bantu?" sambutan yang di berikan salah satu pegawai salon kecantikan yang mama Fara dan Vanya datangi.
"Saya mau ketemu yang punya salon ada kan?" ucap mama Fara.
"Ooh ada, mari silahkan di tunggu di sini saya panggilkan dulu." mempersilahkan duduk di sofa yang ada di situ.
Mereka berdua duduk di sofa yang di tunjuk pegawai tadi. Setelah beberapa saat pemilik salon itu datang di ikuti pegawai yang tadi.
...***...
Lanjut gak nih?
__ADS_1
Tapi kalau aku sempat ya ngetiknya 😂