My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 242


__ADS_3

Saat ini hari di mana Vanya akan melakukan cek up ke dokter kandungan. Vanya kali ini di temani Vano saja, sebenarnya tadi kedua orang tuanya dan juga mertuanya ingin ikut tapi di larang oleh Vanya karena itu nanti akan menggangu kenyamanan rumah sakit.


Karena Vanya tahu bagaimana hebohnya mertuanya itu, pasti nanti mereka akan membawa pengawal ke sini.


"Sudah siap yank?" tanya Vano yang sedari tadi menunggu Vanya di sofa yang ada di kamar mereka.


"Iya bentar lagi." jawab Vanya sama seperti tadi.


Vano melihat jam tangannya, sudah satu jam lebih dia menunggu Vanya yang sedari tadi sibuk memilih pakaian yang akan dia pakai, belum lagi memoles wajah dan mengatur rambutnya itu. Rasanya Vano ingin marah saja, tapi dia ingat kalau yang lagi dia tunggu itu istri sekaligus calon ibu dari anak anaknya, kalau orang lain mah mungkin sudah Vano tendang ke segitiga Bermuda.


"Dah yuk." ajak Vanya setelah selesai dengan semua kegiatannya.


"Yakin gak ada yang tertinggal lagi, aku masih sanggup loh buat nunggu kamu." tanya Vano yang membuat Vanya agak tersindir dikit, ingat dikit tidak banyak.


"Apaan sih, kalau gak suka ya tinggal berangkat duluan aja." balas Vanya dan berlalu meninggalkan Vano.


"Hufft...sabar sabar."


Vano menyusul Vanya, tapi sebelum itu dia menyempatkan diri untuk pamit pada Sri terlebih dahulu agar nanti kalau ada orang yang mencarinya tidak pernah bingung menjawab.


"Dasar lama." Sindir Vanya saat Vano memasuki mobilnya.


"Lah gak salah nih, perasaan dari tadi situ deh yang lama." batin Vano, mana mungkin sih Vano berani bicara seperti itu pada ibu negara.


"Iya sayang maaf ya, tadi ada kendala dulu di dalam." balas Vano dan menghidupkan mobilnya.


Mereka pergi meninggalkan perataran mansion mewah Vano menuju jalan yang lumayan macet hari ini mungkin karena weekend.


"Habis dari rumah sakit nanti kamu mau jalan jalan mana?" tanya Vano menoleh sebentar pada Vanya.


"Aku mau ke markas boleh?" tanya Vanya.


"Hah, mau ngapain ke sana. Mendingan kita ke mall aja yuk belanja kebutuhan bayi."


"Gak mau, aku maunya ke markas." kekeh Vanya.

__ADS_1


Hufft Vano menyesal telah bertanya seperti itu, seharusnya tadi dia langsung aja bawa Vanya ke mall. Kalau sudah gini kan jadi ribet.


"Kenapa gak mau?" galak Vanya.


"Mau kok mau, apa sih yang enggak buat mommy." balas Vano yang tak mau mengambil banyak resiko.


"Gitu dong Dad." balas Vanya senang.


"Ehh keknya seru deh yank kalau panggilan kita ganti mommy sama Daddy, kan sekalian belajar biar nanti kalau anak kita sudah lahir jadi terbiasa." usul Vano.


"Eemm boleh juga." setuju Vanya.


"Oke berarti mulai sekarang aku pangil kamu mommy dan kamu panggil aku Daddy."


"Baik Daddy." balas Vanya.


Mereka pun mengisi perjalanan menuju rumah sakit dengan candaan candaan receh yang mereka ciptakan untuk mengisi suasana dalam mobil, hingga tak terasa mobil mereka sudah memasuki area parkir rumah sakit.


"Dah yuk." ajak Vano mengandeng tangan Vanya memasuki rumah sakit.


"Permisi dok." sapa keduanya saat memasuki ruangan dokter kandungan.


"Mari mari silahkan masuk, pasti ini tuan Vano sana nyonya Vanya ya?" tebak dokter kandungan itu dengan benar.


"Iya dok." jawab keduanya.


Mereka pun di persilahkan untuk duduk dan di tanyai beberapa pertanyaan yang di keluhkan oleh Vanya akhir akhir ini. Setelah itu Vanya di persilahkan untuk berbaring di atas ranjang pasien untuk melakukan USG.


"Ini janinnya, saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tiga jadi anda harus tetap menjaga pola makan anda dengan baik, agar janinnya tetap sehat di dalam perut." jelas dokter itu.


Vanya dan Vano memperhatikan layar monitor yang menampilkan gambar hitam putih yang burem, Vano meminta agar rekaman itu di cetak.


"Ini saya resepkan vitamin untuk anda silahkan di tebus di apotek." lanjut dokter kandungan itu.


"Baik dok."

__ADS_1


Setelah selesai memeriksakan kandungan Vanya, kali ini Vano menempati janjinya untuk mengajak Vanya ke markas WD.


Sebenarnya Vano mau mau saja ke sana, toh sudah lama juga dia tidak berkunjung ke markas. Tapi yang dia khawatirkan adalah Vanya melihat adegan adegan yang tak patut untuk di lihat oleh mata.


Sampai di sana Vano segera membawa Vanya masuk ke dalam, tujuan Vano kali ini adalah melihat keadaan bibi Fen yang masih setia dengan menyiksa dirinya sendiri.


"Ayo kita ke kamar bentar, aku gak mau kamu pakai pakaian seperti itu." ajak Vano karena Vano melihat pakaian Vanya kali ini agak terbuka dan di gak suka apa yang menjadi miliknya di pandang oleh orang lain.


"Sana kamu pilih pakaian yang lebih tertutup dari yang ini." perintah Vano yang langsung di turuti oleh Vanya.


Vanya memilih baju mana yang cocok untuk dia kenakan kali ini. Banyak macam pakaian yang ada di lemari kamar Vano, pandangan Vanya jatuh pada Dres dengan panjang di bawah laut atau bisa di bilang midi dress kalau orang indo menyebutnya.


"Gimana bagus gak?" tanya Vanya meminta pendapat Vano.


"Iya ini bagus." balas Vano sambil tersenyum.


"Ya udah yuk, aku mau ke ruangan bawah tanah."Ajak Vanya menyeret Vano keluar dari kamar.


Tak lupa Vano memakaikan masker pada Vanya untuk berjaga jaga jikalau nanti Vanya tak suka mencium bau amis di ruang bawah tanah sana.


Seperti biasa, saat mereka akan menuju ke sana pasti Vano memerintahkan beberapa bodyguard untuk berjaga di depan mereka serta di belakang mereka.


"Gimana keadaan tuh nenek tua?" tanya Vano pada salah satu bodyguard.


"Kondisinya sudah sangat mengenaskan tuan, bahkan sekarang kedua kalinya sudah tidak berfungsi lagi." jawab bodyguard itu yang membuat semburat senyuman kepuasan ada di wajah Vano.


"Aku mau melihatnya boleh?" tanya Vanya.


"Yakin kamu gak papa nanti?"


"Iya Vano sayang, percaya deh sama aku. Lagian ini yang minta anak kamu." balas Vanya sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.


Vanya juga heran, entah mengapa dia sangat ingin sekali ke sini. Padahal waktu pertama kali ke sini dulu dia sangat mual saat mencium bau darah kering yang ada di ruangan bawah tanah. Tapi sekarang dia malah menyukainya.


Sampai di sana Vanya sangat syok dan tak tega melihat keadaan bibinya Farrel itu. Keadaan sangat mengenaskan dengan kedua kaki yang hampir terlepas dan kulit di tubuhnya yang sudah hampir tidak ada. Bahkan jika orang tidak tahu, mereka tak akan mengira kalau itu adalah Fen Wang bibinya Farrel. Lantaran wajahnya yang sudah tidak bisa di kenali.

__ADS_1


...***...


__ADS_2