
Usia kandungan Vanya sudah menginjak delapan bulan, tinggal satu bulan lagi Vano akan mempunyai saingan baru. Vano banyak banyak berdoa, semoga saja nanti sifat anaknya nurun dari Vanya bukan dirinya. Kalau sampai dari dirinya mungkin Vano akan sering sering mengonsumsi mentimun buat menurunkan tekanan darahnya.
"Sayang udah siap belum?" teriak Vano dari dalam kamar, pasalnya Vanya sudah hampir setengah jam di dalam walk in closed, entah apa saja yang dia lakukan di sana.
"Iya bentar lagi." selalu itu saja jawaban Vanya sedari tadi.
Vano yang orangnya tidak mempunyai kesabaran seperti tanggo yang berlapis lapis pun beranjak ingin melihat apa yang Vanya lakukan di sana.
"Kamu ngapain sih yank lama banget. Astaghfirullah...." kaget Vano, pasalnya keadaan di dalam walk in closed sangatlah berantakan seperti kapal pecah.
Semua baju yang ada di dalam lemari sepertinya sudah keluar berserakan di lantai. Entah apa yang istrinya lakukan barusan.
"Sayang ini kenapa sampai berantakan kayak gini?" tanya Vano menghampiri Vanya yang masih menggunakan handuk mandinya.
"Hehehe aku bingung mau pakai baju yang mana, semuanya udah gak muat di tubuh aku. Yang muat cuma itu itu aja udah sering aku pakai." jawab Vanya sambil nyengir tak berdosa.
"Kenapa kamu gak bilang sama aku, tau gitukan tadi kita bisa pesan baju dulu daripada kamu berantakin ruangan ini." ujar Vano.
"Ya kan aku-nya gak kepikiran, lagian kamu juga biasanya tiap Minggu beliin aku baju kok beberapa Minggu ini enggak?" balas Vanya menyalakan Vano.
"Ya kan kamu tahu aku gak ada yang, uang aku kan kamu semuanya yang pegang. Seharusnya kamu lah yang punya inisiatif beli sendiri." balas Vano.
"Kok kamu jadi marah marah sih sama aku." sungut Vanya.
"Hufft...." Vano membuang nafasnya kasar untuk meredam amarahnya.
"Maaf aku kelepasan, udah sekarang kamu pakai baju yang ada dulu nanti kita mampir di mall buat beli baju kamu." ucap Vano.
"Ya udah cariin." perintah Vanya.
Akhirnya Vano pun juga harus pusing memilih milih baju buat Vanya, biasanya dia mudah menemukannya kalau di lemari, tapi ini beda. Tempatnya sudah tidak berbentuk lagi, sehingga menyulitkan Vano untuk mendapatkan baju mana yang pas untuk Vanya.
"Kamu ini, istri orang kaya tapi baju kekurangan." ucap Vano sambil mencari baju buat Vanya.
"Aku itu gak kekurangan baju, cuma gak muat aja." balas Vanya.
"Iya iya gak muat, lagian tuh badan besar amat." upss.... sepertinya Vano keceplosan.
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Besar?"
"Hei tuan, aku kayak gitu juga gara gara anda. Kalau saja anda gak bikin aku hamil mana mungkin tubuh aku besar kayak gini." marah Vanya.
"Aduh salah ngomong nih gw." batin Vano menggerutuki kebodohannya.
"Ehh kamu pakai ini aja." ucap Vano menyodorkan dress tanpa lengan dengan panjang selutut.
"Gak usah makasih." balas Vanya dan berlalu keluar dari walk in closed meninggalkan Vano sambil membawa satu set pakaian.
"Lah itu udah dapat, dasar wanita." ucap Vano.
Vano pun keluar dari sana dan memangil Sri agar membereskan kekacauan itu, tapi nanti setelah dia pergi dari mansion.
Vano menunggu Vanya di bawah, dia melihat Vanya datang sambil menenteng tas jinjing yang ada di tangannya. Vano akan membukakan pintu mobil bagian depan buat Vanya, tapi Vanya malah masuk ke jok belakang.
"Loh yank?" cengoh Vano.
Vanya dan membalas dan tetap duduk anteng di jok belakang.
Vano memutari mobil dan masuk ke mobil. Dan setelah itu dia melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk cek up kehamilan Vanya.
Dalam perjalanan Vano fokus nyetir sambil berfikir cara apa yang akan dia lakukan untuk meluluhkan hati Vanya. Hingga sebuah ide terlintas di otaknya.
Dinner.
Ya, sepertinya Vano nanti akan mengajak Vanya buat dinner, toh sudah lama juga Vano tidak mengajak Vanya makan berdua di luar. Vano juga nanti akan memberikan surprise buat Vanya.
Sedangkan Vanya, dia hanya diam saja dan fokus memandangi jalanan yang ramai siang ini. Vanya masih kesal sama Vano, bisa bisanya dia mengatai tubuhnya besar ya walaupun memang iya sih. Tapi kan setidaknya Vano harus menjaga perasaannya. Udah tahu kan wanita itu paling sensitif kalau membicarakan tubuhnya, mana Vanya lagi hamil lagi.
"Yank kamu mau rujak gak, tuh di depan ada." tawar Vano menoleh ke Vanya sebentar.
Vanya diam saja tak menyahuti ucapan Vano.
Vano mengambil inisiatif sendiri, dia menepikan mobilnya di samping penjual rujak buah. Setelah itu Vano turun dan membeli tiga bungkus rujak buah dengan sambal yang melimpah. Vano tahu itu kesukaan Vanya.
"Berapa pak?" tanya Vano setelah menerima satu kantong kresek yang berisi tiga bungkus rujak buah.
__ADS_1
"Empat puluh lima ribu mas." balas penjual rujak itu.
Vano merogoh saku celananya di sana dia hanya menemukan uang empat puluh ribu saja, itu pun uangnya lima ribuan.
"Bentar pak yang lima ribu saya ambilkan di mobil." ucap Vano menyerahkan uang empat puluh ribu.
"Udah mas gak papa kalau gak ada." balas bapak itu yang membuat Vano melongo, di kira Vano gak punya duit apa. Vano ini orang kaya woy, cuma lagi gak punya uang aja.
"Enggak pak, ada kok di mobil, bentar saya ambilkan dulu." ucap Vano sambil mengembalikan satu bungkus itu pada bapak itu. Karena bagi Vano gak enak menerima barang kalau belum di bayar.
Vano berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu mobilnya. Vano mencari cari uang di dasbor mobil, biasanya dia selalu meletakkan uang di sana. Tapi entah mengapa kok sekarang gak ada, mana lagi butuh butuhnya lagi.
"Nih." tiba-tiba saja ada orang yang memberikan dirinya uang seratus ribu, siapa lagi pelakunya kalau bukan ibu negara yang lagi ngambek.
"Makasih nanti aku ganti." ujar Vano dan segera pergi menuju bapak penjual rujak buah itu.
Kali ini Vano mengeluarkan jiwa sombongnya, dia menyerahkan uang seratus ribu kepada bapak penjual rujak itu, dan bilang kalau kembaliannya ambil aja.
"Kembaliannya ambil aja pak, saya orang kaya." ucap Vano dan mengambil bungkus kresek yang tadi dia serahkan kepada bapak penjual rujak itu.
Sedangkan Vanya yang berada di dalam mobil pun berusaha untuk tidak tertawa melihat suaminya yang di kira gak punya uang. Vanya pun memutuskan untuk pindah ke jok depan samping Vano sebelum Vano kembali.
"Loh kok pindah ke sini?" tanya Vano kaget saat baru membuka pintu mobil dan mendapati Vanya sudah duduk di depan.
"Kalau gak ada uang itu bilang." balas Vanya membuat Vano malu.
"Kan kamu lagi marah sama aku, jadi aku ya gak enak minta uang sama kamu." balas Vano.
"Lagian kamunya ngeselin."
"Maaf ya, aku gak bermaksud ngatain kamu tadi." ujar Vano.
"Iya aku maafin, tapi kalau lain kali di ulang lagi, aku sunat burung kamu."
...***...
Waduh Vanya kok ngeri banget ya kalau ngancem 😂
__ADS_1