My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 104


__ADS_3

Sampai dalam kamar Vano segera mengunci pintu dan membawa Vanya ke arah ranjang.


"Kamu mau ngapain?" tanya Vanya.


"Ya kan kamu udah bilang tadi siang, sekarang aku tagih lah." sambil tangannya menari nari di punggung Vanya, yang berhasil membuat Vanya merasakan ada sengatan listrik yang menjalar.


"Emmhh." lengkuh Vanya.


"Kenapa hmm, enak?" goda Vano.


Vanya tidak menanggapi ucapan Vano yang membuat Vano semakin melancarkan aksinya. Tangan Vano pindah ke dada bagian atas Vanya, dan Vano pun mengoda dua buah benda kembar itu dari luar baju Vanya yang membuat Vanya semakin belingsetan.


"Van." Des** Vanya.


"Kenapa hmm?" Vano tak merasa bersalah sedikitpun, dia tetap melancarkan aksinya, menggoda benda yang akhir akhir ini menjadi favoritnya.


Vanya di buat melayang oleh tangan Vano, Vanya merangkul leher Vano dan merem** rambut Vano untuk menyalurkan kenik***** yang Vano berikan.


Vano membuka baju Vanya dan melemparnya ke segala arah hingga bagian atas Vanya hanya tinggal b** yang berwarna hitam.


"Gemes banget sih." mere*** dada Vanya dengan kuat.


"Ahh." de****n Vanya keluar.


Vano membuka b** yang Vanya kenakan dan membuangnya lagi ke segala arah, setelah itu dia memainkan hingga puas.


Setelah puas dan berhasil membuat Vanya terbang melayang layang di atas awan, tangan Vano turun dan menyelinap masuk ke dalam celana pendek yang Vanya kenakan.


"Van." larang Vanya mencegah tangan Vano.


"Kenapa hmm?" tanya Vano dengan deep voice nya.


"Jangan ya, bagaimana nanti kalau ada yang tahu. Kan kita lagi di rumah mama dan papa."


"Kamu yakin suruh aku berhenti di tengah jalan gini hmm?" melepaskan tangan Vanya dan melancarkan aksinya untuk masuk ke dalam celana Vanya dan mengoda benda yang ada di sana.


"Emmhh, Van." Des** Vanya.


Vano tersenyum smirk melihat Vanya yang keenakan di buatnya.


Vano pun mengeluarkan tangannya dan celana pendek Vanya dan bersiap untuk membuka celana Vanya, tapi....


"Loh kok ada darah?" gumam Vano bingung yang membuat Vanya sadar dari kenikmatan yang Vano berikan dan segera menatap tangan Vano.


"Tunggu." Vanya pun segera berlari ke kamar mandi dengan mengunakan celana pendek saja tanpa atasan.


"Agrrr." frustasi Vano mengacak-acak rambutnya saat menyadari darah yang ada di tangannya itu adalah darah tamu bulanan Vanya.


Vanya keluar dari kamar mandi memakai jubah mandi yang di dapat dari kamar mandi. Dilihat Vano yang menggulung tubuhnya dengan selimut seperti menahan sesuatu. Vanya pun mengabaikan Vano dan segera pergi ke walk in closed untuk berganti baju.


"Van." pangil Vanya menghampiri Vano yang posisinya masih sama seperti tadi.

__ADS_1


Vano diam saja tak menghiraukan Vanya yang tengah memangilnya.


"Vano sayang." pangil Vanya dengan embel-embel sayang, karena biasanya Vano akan luluh jika dia memanggil Vano seperti itu.


"Apa." tuh kan benar, Vano langsung jawab pangilannya.


Vano menatap Vanya dengan kesal dan menahan sesuatu yang ingin di tuntaskan.


"Maaf ya, aku gak tahu kalau bakal kayak gini." ucap Vanya merasa bersalah.


"Hufft." Vano menghela nafasnya dan bangun dari posisi tidurannya.


"Iya, ini juga bukan salah kamu." jawab Vano berusaha mengerti dengan keadaan Vanya.


"Maaf." Vanya menundukkan kepalanya.


"Iya gapapa, tapi kamu bantuin aku ya." mohon Vano.


Vanya mengangkat kepalanya menatap Vano bingung, Vanya bingung maksud dari bantuin aku itu apa.


"Dia udah bangun yank, jadi karena kamu lagi ada tamu bulanan maka kamu harus bantuin aku buat tidurin dia." jelas Vano mengarahkan tangan Vanya ke adiknya.


"Tapi..."


"Plis yank, kamu tega liat aku gini, ini sakit banget." mohon Vano dengan melas.


Kalau sudah kayak gini Vanya bisa apa selain menuruti keinginan Vano.


-


Keesokan harinya, Vanya dan Vano pergi ke sekolah bersama. Saat ini mereka sedang berada dalam mobil yang Vano kemudikan sendiri.


"Van nanti gimana kalau anak anak tahu." tanya Vanya.


"Ya biarin aja, mau gimana lagi." santai Vano menjawab pertanyaan Vanya tanpa ada beban.


"Tapi Van, bisa gempar kalau mereka tahu kita udah nikah, apalagi teman teman kamu sama teman teman ku." takut Vanya.


"Udah kamu tenang aja, kita bilang nanti sama mereka kalau kita itu pacaran. Beres kan?" menoleh ke arah Vanya yang duduk di jok samping kemudi.


"Tapi..."


"Udah jangan kamu pikirkan, bawa santai aja." mengelus rambut Vanya guna untuk memenangkan ketakutan yang Vanya alami.


"Hufft serah kamu lah." mau bagaimana pun Vanya akan tetap kalah kalau bicara kayak gini.


Mereka pun terus melanjutkan perjalanan dengan di iringi candaan candaan receh yang mereka buat sehingga tidak terjadi keheningan di dalam mobil.


Mobil Vano memasuki gerbang sekolah yang membuat seisi sekolah heboh, lantaran mobil yang Vano pakai itu adalah mobil keluaran terbaru yang harganya sangat fantastis.


"Wah mobil siapa tuh, pasti cogan."

__ADS_1


"Dan pastinya orang kaya dong."


"Moga saja itu pemiliknya bidadari cantik, biar mata bisa refreshing, bosen liat yang buluk buluk mulu."


"Enak aja kita di bilang buluk."


Bla bla bla.


Kehebohan di pagi hari yang pelakunya adalah murid murid cewek dan cowok.


Vano memakai kacamata hitamnya di ikuti Vanya juga yang tak mau kalah. Vano turun lebih dulu dari mobil dan akan membukakan pintu mobil untuk Vanya.


"Vano." kaget mereka semua.


Bagaimana bisa seorang Vano yang biasanya datang terlambat dengan motor sport kesayangannya bisa datang sepagi ini, apalagi sekarang tidak menguntungkan motor melainkan menggunakan mobil sport terbaru.


Vano berlari memutari mobil dan membukakan pintu samping kemudi dan keluarlah Vanya yang membuat mereka semua semakin tercengang.


"Loh, Vanya." kaget mereka lagi.


"Kok bisa mereka barengan?"


"Bukannya mereka musuh ya?"


"Aduh serasi banget."


"Aduh cantik banget sih Vanya."


"Vano juga ganteng banget sih."


Dan bla bla bla.


Bagi Vanya dan Vano hal seperti itu sudah biasa sudah seperti makanan sehari hari bagi Vanya dan Vano.


"Yuk yank." mengandeng tangan Vanya dengan mesra tak lupa masih dengan kacamata hitam yang bertengger di mata keduanya.


"Wow serasi banget sih." ucap salah satu siswi yang melihat Vanya dan Vano. Dan ucapan itu di benarkan oleh yang lainnya.


Vano dan Vanya berjalan melewati lorong sekolah yang terdapat banyak siswa siswi yang sedang duduk santai ataupun sedang menghibah.


Bak pasangan model, mereka berdua berjalan penuh dengan aura aura kemesraan dan itu semakin membuat mereka yang melihat berteriak histeris.


"Aaaa mesra banget sih."


"Meleleh hati eneng bang."


Dan masih banyak lagi lainnya.


"VANYA." teriakkan seseorang dari belakang Vanya dan Vano yang berhasil menghentikan langkah keduanya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2