
"Nyo-nyonya Fen wang."
Bruak.
Farrel menendang sel besi itu dengan keras sampai hampir rusak mendengar siapa yang telah berani akan menyelakai adiknya.
"Lo tahu kak siapa Fen wang itu?" tanya Vano menyimpulkan setelah melihat respon Farrel tadi.
"Dia bibi gw." jawab Farrel dengan tatapan tajam dan kosong ke depan.
Farrel berjalan menghampiri pelaku itu dan memegang dagu pelaku itu dengan keras.
"Lo bilang sama gw di mana orang yang nyuruh lo sekarang." tanya Farrel dengan mata yang sudah memerah karena amarah.
"Rel udah biar Om yang urus, Van kamu bawa Farrel." papa William memegang pundak Farrel agar melepaskan dagu pelaku itu.
"Kak udah, biar papa yang ngurus ini." menarik Farrel untuk mengikuti langkahnya keluar dari sel besi itu.
Dengan berat hati Farrel pun mengikuti langkah kaki Vano, sekarang tinggal papa William di sana dengan di temani beberapa pengawal.
"Tolong lepasin saya tuan, saya cuma di suruh." mohon pelaku itu agar di lepaskan dari siksaan ini.
"Jangan harap kamu bisa lepas setelah kamu sendiri yang cari gara gara dengan mafia WD." ucap papa William membisikkan nama mafianya yang membuat pelaku itu melebarkan bola matanya kaget, tubuh pelaku itu pun seketika bergetar karena ketakutan.
Siapa yang tidak tahu mafia WD yang berarti Williams Darkness, mafia paling kejam di daerah Italia yang kabarnya pemimpinnya sekarang telah ada di negara ini untuk memperluas kekuasaannya.
"Kenapa takut?" tangan papa William mengambil sesuatu dari saku celananya dan keluar lah pisau lipat yang mengkilat.
"Tu-tuan mau a-apa." gugup pelaku itu.
"Kalau ada pisau gini enaknya buat apa ya." mengusap usapkan bagian tajam pisau ke tangannya sendiri.
"Mengkuliti orang enak kali ya." ucap papa William lagi yang membuat pelaku itu makin ketakutan.
"Jangan tuan, jangan saya mohon." dengan takut pelaku itu memohon.
"Meskipun kamu bilang sedari tadi siapa yang menyuruh kamu pun, saya akan tetap tidak akan membiarkan kamu keluar dari sini dengan bernyawa." tegas papa William.
Mendengar itu pun pelaku itu pasrah saja, meskipun dia sujud di kaki king WD sekalipun dia gak akan bisa lolos.
"Ahh tapi kata Farrel tadi itu akan membuang buang waktu." ucap papa William lagi, setelah itu dia berdiri dan berjalan keluar dari sel besi itu dan entah pergi kemana setelahnya.
Pelaku itu pun bernafas lega, sepertinya peluang dia untuk hidup masih ada.
Sedangkan pengawal yang ada di sana hanya diam dengan ekspresi datar yang selalu menghiasi wajah mereka. Mereka hanya akan bergerak jika ada perintah dari king nya, tapi kalau waktu istirahat mereka juga boleh bergerak. Papa William tak sejahat itu pada orang orang yang setia kepadanya.
__ADS_1
Sring Sring Sring
Tak tak tak
Terdengar seperti suara besi di seret serta suara langkah kaki seseorang yang makin lama makin mendekat.
"Gimana kamu sudah siap?" tanya papa William dengan katana yang dia pegang dan di slampirkan ke leher membuat aura mafia papa William makin terlihat.
"Tu-tuan." nafas lega yang tadi pelaku itu rasakan seakan hilang bak di telan bumi, terganti dengan rasa takut, cemas dan ngeri yang dia rasa.
"Kenapa hmm? Udah saya mau basa basi, anak saya udah nunggu di luar.
Sring.
"Aaaaa." jeritan pelaku itu saat kedua kakinya di tebas bersamaan.
"PAPA CEPAT." teriakkan Vano memanggil papa William yang membuat papa William mengentikan kegiatannya.
"Karena anak saya udah manggil manggil maka saya permudah kematian kamu."
Sring.
Menebas kepala si pelaku hingga tergelinding ke lantai dan darah yang muncrat ke mana mana.
"Bereskan mayatnya kasih makan singa di belakang jangan sampai meninggalkan jejak."
Setelah mengatakan itu papa William segera pergi meninggalkan tempat yang penuh darah itu dan segera pergi ke kamar yang sudah di sediakan untuknya.
"Van gimana keren gak gw." ucap Farrel sambil memegang pistol dengan posisi yang siap menembak buah apel yang ada di sana.
"Cih gitu aja, sini coba gw yang pegang." mengambil pistol yang ada di tangan Farrel.
DOR.
Vano melakukan tembakan dan tembakannya tepat mengenai tengah tengah apel itu hingga hancur.
Prok prok prok.
"Wiih... hebat Lo." puji Farrel kagum melihat kemampuan Vano.
"Sini lo coba." memberikan pistol tadi pada Farrel lagi.
"Ambilkan apel yang baru." perintah Vano pada pengawal yang ada di dekat posisi tempat apel tadi.
"Baik Tuan muda." segera mengambil apel dan meletakkannya di tempat yang sudah di sediakan.
__ADS_1
"Caranya gimana supaya bisa pas gitu?" tanya Farrel minta ajarin Vano.
"Gini posisi tangan lo harus pas dan arahkan pistol pada benda yang akan lo tuju." mengajari Farrel.
DOR.
Tembakan Farrel tepat mengenai Apel meskipun tidak pas di bagian tengah Apel.
Mereka terus mencoba coba beberapa senjata yang ada di ruang tempat berlatih itu sambil menunggu kedatangan papa William.
"Gimana puas mainnya?" tanya papa William saat memasuki ruangan itu setelah membersihkan tubuhnya dari darah serta Mengganti pakaiannya yang membuat Vano dan Farrel menghentikan kegiatan yang tengah mereka lakukan.
"Papa udah selesai?" tanya Vano.
"Hmm."
"Om Farrel kapan bisa berlatih, seperti bibi Fen sudah gak sabar mau main main sama Farrel." tanya Farrel pada papa William.
"Terserah kamu mau mulai latihan kapan, tapi nanti yang ngelatih kamu gak harus Vano, karenakan Vano juga harus sekolah dan bantu bantu saya di perusahaan." jawab papa William yang di setujui Vano.
"Berhubung besok Minggu jadi aku mulainya Senin aja ya Om, besok mau siapin diri dulu."
"Terserah kamu. Kalian mau pulang atau mau nginap di sini aja?"
"Ya pulang lah pa, orang bini di rumah udah nungguin sedari tadi. Papa sih lama banget kerjanya."
"Padahal tadi sebenarnya papa masih merasa kurang loh."
"Oh iya Rel, kamu mau pulang ke rumah kamu atau mau ikut nginep di rumah Om?" lanjut papa William bertanya pada Farrel.
"Emang boleh Om kalau ikut nginep di rumah Om?" tanya balik Farrel.
"Ya boleh dong, kamu ini kayak sama siapa aja."
"Ya udah Om aku ikut nginep di rumah Om aja, sekalian aku mau ketemu adik Vano yang katanya gemesin." ujar Farrel seperti orang tak sabar yang membuat papa William melongo mendengarnya sedangkan Vano berusaha menahan tawanya.
"Kamu yakin gak sabar mau ketemu Vino?" tanya papa William memastikan bahwa dia tak salah dengar.
"Iya Om, kata Vano adiknya tuh gemesin banget aku kan jadi penasaran." penjelasan Farrel membuat papa William mengerti sekarang, kalau itu pasti ulah Vano.
"Ya udah ayo kita pulang." Mereka pun berjalan meninggalkan ruangan latihan dengan posisi seperti awal memasuki bangunan markas mafia WD.
"Kamu ini ada aja Van, kasian nanti Farrel kalau sampai di skak mat sama adikmu." ucap papa William berbisik pada Vano agar tak di dengar oleh Farrel.
Vano tak menjawabnya, dia hanya cekikikan tanpa suara saja, membayangkan bagaimana nanti ekspresi Farrel saat berhadapan dengan adiknya yang super imut itu, katanya.
__ADS_1
Mereka pulang ke rumah keluarga William dengan Vano dan papa William berada dalam satu mobil dan di susul Farrel yang mengendarai mobilnya sendiri di belakang mengikuti laju mobil Vano dan papa William.
...***...