
"Tapi Van..." ucap Rangga gantung.
"Apalagi sih Ngga, ini udah malam lo tau gak sih."
"Bukan itu." ucap Rangga.
"Trus apaan."
"Eemm gimana ya ngomongnya, gw tuh...."
"Ya elah Van lo kayak gak tau aja apa maksud Rangga. Lo juga Ngga tinggal ngomong kagak ada kuota aja apa susahnya sih, bilang aja minta beliin." potong Galang yang sudah hafal dengan kelakuan Rangga.
"Hehehe lo tau aja Lang apa yang gw mau." Balas Rangga cengengesan.
"Oh soal itu kalian tenang aja, Lang nanti lo data semua nomor anak black Crow yang aktif trus kirim ke gw tar gw beliin kuota." ucap Vano santai kek gada beban.
"ALHAMDULILLAH." Ucap serempak anak black Crow yang mendengar ucapan Vano.
"Lo seriusan Van?" tanya Galang.
Bukannya apa-apa tapi ini semua loh, SEMUA tolong di garis bawahi, sedangkan jumlah anggota black Crow aja banyak banget trus Vano kalau mau beliin kuota tuh gk mungkin cuma goceng paling tidak pasti 200 ribu soalnya Vano sudah sering membelikan mereka kuota.
"Iya, emang kenapa?" jawab Vano santai.
"Santai banget Van jawabnya. Gw jadi heran deh, sebenarnya seberapa kaya sih lo itu?" tanya Rangga.
"Gak usah susah-susah lo tanya ke Vano deh Ngga pasti gak mungkin di jawab sama dia. Mending lo tanya mbah google aja lo bilang aja 'seberapa kaya keluarga William' pasti nanti ada soalnya dulu waktu gw gabut gw ngetik gitu di pencarian google." ucap Galang.
"Wah seriusan lo Lang, sini pinjam HP lo gw mau nyari." balas Rangga sambil menyodorkan tangannya untuk meminjam handphone Galang.
"Mau ngapain lo kan punya HP sendiri."
"Ya kan lo udah tau kalau gw gak ada kuota gimana sih."
"Ya kan nanti di rumah bisa kalau udah Vano beliin kuota nya. Udah ahh gw mau pulang, BYE." Galang keluar dari basecamp di ikuti Vano di belakangnya dan anak anak black Crow yang lainnya kecuali Rangga yang melongo karena di tinggal sendiri.
"Woy Lang, Van tungguin gw." Teriak Rangga dan segera berlari untuk menyusul Vano dkk.
Akhirnya mereka semua pulang ke rumah masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari, Vano membuka pintu apartemennya dan melihat keadaan ruang tamu yang masih terang alias lampunya masih menyala.
"Ck. Ini Vanya lupa atau gimana sih, masak lampu ruang tamu masih nyala gini." omel Vano sambil melangkah menuju dapur untuk mengambil minuman.
Glek glek glek
__ADS_1
Suara Vano yang tengah meminum air putih terdengar sangat sexy.
"Hufft, emang umur gak ada yang tau. Perasaan baru kemarin masih bermain dan bercanda bareng Yoyon, sekarang dia udah di ambil sama Allah." ucap Vano sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di ruang makan.
"Gw kapan ya di panggil sama Allah, bagaimana kalau malam ini?"
"Aduh, mana ibadah gw masih bolong bolong lagi."
omongan ngaco Vano.
"Ya Allah jika nanti engkau ingin mengambil nyawaku maka beri tahu aku minimal seminggu. Ehh kedekatan, maksudnya sebulan ya Allah sebelum engkau ambil nyawaku kalau gak sebulan minimal setahun lah gak papa ya Allah agar aku menyempurnakan ibadah ku dulu ya Allah." doa Vano mendramatisir sambil mengangkat tangannya memohon kepada Allah.
"Aamiin." ucap nya setelah menyelesaikan doanya.
"Mandi dulu ahh, gerah banget mana nih ketiak udah lengket banget lagi kayak lem rajawali."
Vano beranjak menuju anak tangga untuk menuju kamarnya tapi dia samar samar mendengar ada televisi yang menyala akhirnya dia mengalihkan pandangannya kearah ruang santai yang terdapat televisi di sana.
"CK, nih anak bener bener dah, udah lampu gak di matiin sekarang televisi yang masih nyala." omel Vano lagi.
Vano pun melangkahkan kakinya untuk mematikan televisi yang sedang menyala itu tapi langkahnya terhenti di sebelah kursi panjang yang ada di sana.
"Lah, nih anak ngapain tidur di sini. Udah enak enak di kamar ada kasur yang empuk malah milih tidur di sini." ucap Vano saat melihat Vanya yang tengah tertidur di ruang televisi dengan posisi yang sedang duduk dan kepala yang bersandar pada sandaran kursi.
"Gak di bangunin kasian, tapi di bangunin tar nih anak kepedean lagi."
Vano mendekati Vanya dan berjongkok di hadapan Vanya, dipandangnya wajah cantik Vanya dan tanpa dia sadari tangannya terangkat dan merapikan anak rambut yang menghalangi pemandangan indah wajah Vanya.
"Nih bulu mata napa lentik banget sih?"
"Palsu bukan sih?"
Vano menyentuh pipi Vanya dengan hati hati agar tidak membangunkan Vanya.
"Bu*et nih muka mulus banget." ucap Vano lagi.
Vano mendekatkan wajahnya ke arah wajah Vanya untuk melihat lebih dekat lagi hingga nafas Vanya terasa di pipinya.
Deg deg deg
Vano berhenti dan menjauhkan wajahnya dari wajah Vano sambil memegangi dadanya.
"an*ir napa setiap deket Vanya jantung gw nyut-nyutan sih." ucap Vano.
"Sebenarnya lo itu siapa sih Van?"
__ADS_1
"Perasaan kita gak pernah ada hubungan apapun selain sebagai musuh tiap pagi masuk sekolah." ucap Vano memandangi wajah Vanya yang nampak tersenyum dalam tidurnya seperti tengah mimpi indah.
"Auw kenapa kepala gw pusing banget. Auw." tiba tiba kepala Vano sakit lagi.
"Auw...ssstttt. sakit banget." teriak Vano sambil memegangi kepalanya.
Vanya yang tengah tertidur pulas pun merasa terganggu dan segera membuka matanya.
Pandangan yang pertama kali dia lihat adalah Vano yang tengah duduk di atas karpet sambil memegangi kepalanya dan berteriak kesakitan.
"Ya ampun sampai ke bawa mimpi si Vano. Emang dah pesonanya gak ada tandingannya." ucap Vanya yang mengira Vano itu hanya dalam dunia mimpinya.
"Ssstttt.. sakit." ringis Vano lagi.
Vanya pun tersadar ternyata ini bukan mimpi melainkan dunia nyata.
"Vano, Van kamu udah pulang?" Tanya Vanya dan segera bangun dan menghampiri Vano.
"Sssttt tolongin gw, kepala gw sakit banget." ucap Vano tanpa merespon pertanyaan Vanya karena kepalanya benar benar sudah sakit.
"Ya ampun Van, kamu kenapa?"
"Kenapa kepalanya bisa sakit, apa kamu kejedog sesuatu?" ucap Vanya yang panik tapi malah mengeluarkan kata-kata yang tidak bermutu bagi Vano.
"Vanya kepala gw sakit jangan kebanyakan tanya, ambilin obat gw cepet di kamar."
"Hah. Oh iya obat iya." jawab Vanya linglung dan segera berlari menuju kamar Vano untuk mengambil obat.
"Punya bini gini amat." ucap Vano yang dalam keadaan sakit tapi masih sempat sempatnya mengomentari orang.
Setelah beberapa saat Vanya turun membawa obat Vano dan segera membuka bungkusan obat dan menyerahkan pada Vano.
"Ini Van cepat di makan sebelum terlambat." ucap Vano yang mendapat tatapan tajam dari Vano.
Vanya yang melihat itu pun heran, tadi minta obat sekarang di kasih malah gak di terima gimana sih. Atau jangan-jangan udah sembuh sakitnya?
"Kenapa Van? Tadi katanya minta obat ini udah aku ambilin silahkan di makan." ucap Vanya sambil menyodorkan tangannya yang berisi obat Vano.
"Minumnya mana DOD*l." ucap Vano dengan garang.
"Oh perlu minum kirain enggak, ya udah bentar aku ambilin."
'Udah minta tolong, pakai bentak bentak lagi. Gw doa in semoga gak sembuh sembuh penyakitnya kalau bisa lebih parah. Ehh kalau makin parah gw gimana?' ucap Vanya dalam hati sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.
...***...
__ADS_1