
"Jadi gini, aku tuh ada rencana gitu sama kak Farrel dan Lucas. Nanti kamu ke mall di temani sama orang suruhan aku, tapi kamu harus ingat apapun nanti yang terjadi kamu gak usah takut, kamu harus lawan rasa takut kamu. Kamu ingatkan apa yang aku sering bilang sama kamu, kamu kuatin mental kamu dan kamu harus selalu ingat bahwa aku selalu ada di belakang kamu." jawab Vano serius.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Tante Fen?" tebak Vanya.
"Kok kamu tahu?" tanya Vano heran, dari mana istrinya ini tahu.
"Aku hanya nebak saja, dan kalau itu benar aku akan bantu kalian. Sekalian juga aku mau ngetes trauma aku masih ada atau tidak." jawab Vanya mantap yang membuat Vano tersenyum.
"Makasih sayang, ya udah kamu siap siap dulu sana." perintah Vano.
"Tapi nanti kalau berhasil beliin aku album lagi ya." syarat Vanya berikan pada Vano.
"Iya nanti aku beliin album." jawab Vano.
"Makasih sayang."
Eemmuah.
Vanya mengecup pipi Vano dan segera pergi menuju walk in closed untuk menganti pakaiannya.
"Dasar maniak album." gumam Vano sambil menggelengkan kepalanya menatap kepergian istrinya.
Setelah beberapa menit Vano menunggu akhirnya Vanya keluar juga, Vano menatap istrinya tanpa kedip. Entahlah meskipun sudah sering menatap Vanya, tapi Vano selalu saja terpesona melihat penampilan Vanya.
"Gimana bagus gak?" tanya Vanya meminta pendapat Vano.
Vano berjalan menghampiri Vanya setelah itu dia memegang kedua pundak Vanya.
"Pakaian apapun bila kamu yang pakai, pasti selalu cocok dengan tubuh kamu. Meskipun kain lap sekalipun." ucap Vano sambil menatap penampilan istrinya dari atas sampai bawah.
"Bisa aja kamu gombalnya."
"Serius loh, aku gak lagi gombal."
"Udah ahh, aku mau pakai make-up dulu." Vanya melepaskan tangan Vano yang ada di pundaknya dan berjalan menuju meja rias yang ada di kamarnya.
"Yank, kamu masih ingat gak waktu aku pergi ke mall, terus aku bilang mau beliin kamu sesuatu?" ucap Vano berjalan menghampiri Vanya.
Vanya menghentikan tangannya yang membuka bedak dan berfikir sejenak.
"Iya ingat, emang kamu beliin aku apa?" tanya Vanya setelah mengingat itu.
"Mana tangan kamu." pinta Vano.
Vanya pun menyodorkan kedua tangannya ke arah Vano dan Vano pun memegang tangan kanan Vanya. Setelah itu dia mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Itu apa sih?" tanya Vanya.
Vano mengeluarkan kotak kecil yang berwarna merah dan membukanya di hadapan Vanya.
__ADS_1
"Gimana suka gak?" tanya Vano.
"Ini bangus banget, ini selera aku banget loh. Simpel dan elegan, kamu tahu aja sih sama selera aku." jawab Vanya senang.
"Baguslah kalau kamu suka, aku pasangin ya?"
Vanya menganggukkan kepalanya. Dan Vano pun segera memasangkan cincin itu di jari tengah Vanya, maunya sih di jari manis tapi di sana sudah ada cincin pernikahan mereka.
"Bagus banget." kagum Vanya mengamati cincin yang ada di tangannya.
"Pasti harganya mahal." lanjut Vanya.
"Gak ada yang mahal kalau buat kamu." jawab Vano sambil tersenyum dan merapikan anak rambut Vanya yang ke depan.
"Makasih ya."
"Itu gak geratis sayang." ucap Vano yang membuat Vanya menampilkan tatapan menyelidik.
"Nanti akan aku tagih pokonya sama kamu." lanjut Vano.
"Oh iya masih ada lagi." mengambil sesuatu lagi dari saku celananya.
"Kamu pakai ini ya, karena di sini udah aku pasangin kamera untuk mengawasi kamu." ucap Vano menyodorkan sebuah Bros bunga cantik.
"Aku pakai di sini ya." ucap Vanya memasang Bros itu di dada sebelah kirinya.
"Ya udah aku tunggu kamu di bawah ya, sekalian aku mau manggil orang yang akan menemani kamu nanti." pamit Vano yang di balas anggukan oleh Vanya.
Vano pun keluar dari kamarnya meninggalkan Vanya yang melanjutkan berias diri.
-
Vanya turun menghampiri suami serta yang lainnya yang sudah menunggunya di bawah.
"Van." panggil Vanya setelah sampai di belakang Vano.
Mereka semua pun menoleh ke arah Vanya dan terpesona menatap kecantikan Vanya.
"Istri lo cantik banget Van." puji Lucas tanpa kedip.
"Mata lo mau gw cokel." galak Vano.
"Gw udah siap, yuk berangkat." ajak Vanya.
"Oh iya yank, kenalin ini Fira, dia yang akan menemani sekaligus menjaga kamu di mall sana." Vano memperkenalkan Fira pada istrinya.
Penampilan Fira kali ini mirip seperti nerd, dia mengepang rambutnya menjadi dua, dan memakai kacamata bening yang bentuknya bulat dan besar. Tapi jangan terkecoh dengan penampilannya, di balik baju yang dia pakai terdapat dua pistol yang dia sembunyikan.
"Hai, aku Vanya." ucap Vanya mengulurkan tangannya pada Fira.
__ADS_1
"Hai juga nona, saya Fira." balas Fira mengunakan bahasa formal sambil menjabat tangan dengan Vanya.
"Vanya aja, kayak umur kita gak beda jauh." ucap Vanya yang menolak di pangil nona.
"Baik Vanya."
"Ya udah kalian berangkat bersama pak Udin ke mall nya, nanti kita nyusul di belakang kalian dari jarak jauh agar tidak ketahuan." ucap Vano.
"Aku berangkat dulu ya sama Fira, aku percayakan semua sama kamu." pamit Vanya pada Vano.
"Iya, kamu tenang aja gak usah takut, aku ada di belakang kamu." balas Vano.
"Kak aku pergi dulu ya." pamit Vanya pada Farrel.
"Iya, kamu hati hati ya." balas Farrel.
"Yuk Fir, kita berangkat." ajak Vanya menarik tangan Fira keluar dari mansionnya.
"Gw pergi dulu." pamit Fira agak berteriak karena dirinya sudah di seret Vanya.
"Woy istrinya Vano, lo gak pamit sama gw." ucap Lucas berteriak pada Vanya tapi tak di hiraukan oleh Vanya.
"Sial*n istri lo Van, berani beraninya dia pergi gak pamit sama gw." omel Lucas pada Vano.
"Yuk kak kita berangkat." ajak Vano pada Farrel tak menghiraukan Lucas.
"Woy Vano, dasar suami istri sama aja." kesal Lucas dan mengejar Vano dan Farrel yang sudah keluar dari mansion Vano.
-
"Kamu sudah di kasih tahu kan sama Vano kalau kita ke mall buat menjebak musuh?" tanya Fira pada Vanya di tengah perjalanan.
"Udah, bahkan Vano sudah menyiapkan kamera di tubuh aku." jawab Vanya.
"Baguslah kalau gitu. Tapi ingat apapun yang terjadi nanti kamu jangan sampai jauh jauh dari aku, ngerti!" ucap Fira, aura ketegasannya muncul.
"Dan kamu jangan sampai panik, hadapi dengan tenang." lanjut Fira lagi.
Vanya pun menganggukkan kepalanya patuh.
"Kamu udah lama kerja sama Vano?" tanya Vanya mencoba mendekatkan diri.
"Lumayan lama sih, aku kerja sama Vano mulai aku kelas 5 SD. Waktu itu Vano sama Om William nolongin aku dari sebuah tragedi yang menimpa aku." jawab Fira yang tidak menjelaskan secara jelas asal usulnya.
"Oooh gitu."
Setelah itu mereka banyak membicarakan sesuatu baik tentang masalah wanita maupun yang lainnya.
...***...
__ADS_1