
"VANYA." teriakkan seseorang dari belakang Vanya dan Vano yang berhasil menghentikan langkah keduanya.
Vanya dan Vano pun membalikkan badan mereka dan melepaskan kacamata.
Wuss.
Angin berhembus kencang menerpa rambut Vanya hingga berterbangan bak waktu di slow mo.
"Gilak cantik banget si Vanya." ucap salah satu murid yang melihat rambut Vanya di terpa angin.
"Vanya lo kemana aja sih, kenapa kemaren gak masuk sekolah?" tanya Sisil setelah berlari menghampiri Vanya.
Ya orang yang berteriak tadi adalah Sisil, dia baru sampai dan melihat kehebohan yang di buat sahabatnya maka dengan cepat dia berteriak memanggil Vanya dan menghampirinya.
"Tar aja gw jelasin di kelas, udah yuk masuk." ajak Vanya karena posisinya sudah dekat dengan kelasnya.
Sisil pun mengikuti Vanya yang tangannya masih di gandeng Vano, tapi Sisil belum menyadari hal itu. Hingga...
"OMG Vanya." teriak Sisil yang berhasil membuat orang orang yang sudah sampai di kelas menatap ke arahnya.
"Apaan sih Sil, teriak teriak mulu dari tadi."
"Itu tangan Lo." menunjuk tangan Vanya yang berada dalam genggaman tangan Vano.
"Ehh." dengan refleks Vanya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Vano.
Bukan Vano namanya jika membiarkan hal itu terjadi. Bukannya melepaskan genggamannya, Vano malah semakin erat menggenggam tangan Vanya. Bahkan sambil menarik Vanya dalam pelukan hangat Vano.
"Kenapa emang?" tanya Vano santai.
"Kalian." menunjuk pada Vano dan Vanya secara bergantian.
"Iya kita pacaran, emang kenapa." jawab Vano yang membuat seisi kelas heboh.
"WHAT." teriakkan seseorang yang baru memasuki kelas, dan seketika semua orang pun menatap Sonya yang berada di tengah pintu masuk.
Berbeda dengan Vano, Vanya sekarang tengah berkeringat dingin. Dia takut nanti sahabat sahabatnya akan marah karena dia ada hubungan dengan Vano.
"Van yang di bilang Vano gak bener kan?" tanya Sonya menghampiri Vanya dan Vano.
Dengan ragu Vanya menganggukkan kepalanya.
"Wah wah wah, ada yang gak beres nih." ucap Sonya yang belum percaya.
__ADS_1
"Van jujur sama gw, pasti lo di apa apain kan sama Vano mangkanya lo mau jadi pacar Vano."
Hufft. Vanya bernafas lega, dia kira tadi Sonya akan marah marah kepadanya, tapi ternyata tidak. Sonya hanya tidak percaya kalau dia beneran pacaran sama Vano karena biasanya dia tidak suka sama Vano. Apalagi kalau sampai mereka tahu kalau sebenarnya hubungan mereka sudah lebih dari sekedar pacaran, bisa lebih heboh nanti sekolahan ini. pikir Vanya.
"Enak aja kalau ngomong, gw ganteng, kaya, pinter, jadi wanita mana coba yang tak kecantol dengan pesona gw." balas Vano tak terima di katain Sonya kalau dia telah ngapa ngapain Vanya.
"Ya siapa tau kan, Vanya lo pelet atau santet gitu."
"Sembarangan kalau ngomong." Vanya menyumpal mulut Sonya.
"Epassin." melepaskan tangan Vanya dari mulutnya.
"Tangan lo bau terasi." ejek Sonya.
"Enak aja tangan wangi gini di bilang bau terasi." tak terima Vanya.
Vanya melepaskan pelukan Vano dan untuk kali ini Vano pun melepaskan pelukannya.
"Ehh Van seriusan kali berdua udah pacaran?" tanya Sonya yang masih kekeh tak percaya.
"IYA." jawab kompak Vanya dan Vano.
"Ciee kompak bener sih." sorak murid murid yang lain.
"Oh iya nama kalian hampir sama ya, V A N Y A, V A N O. Wah fix kalian jodoh." ucap Sisil mengeja nama Vanya dan Vano.
"Iya lah harus." menarik Vanya lagi dalam pelukannya.
"Lepasin Van, engap aku dari tadi di peluk mulu." omel Vanya, Vano pun nurut saja dari pada nanti perang.
"Bisa gak pak kalau mau peluk pelukan itu nanti saja, gak liat apa banyak jomblo di sini." ucap Sonya mendramatisir.
"Huuu." mereka semua menyoraki Sonya.
"Hei hei kalian juga jomblo kan, udah gak usah gaya."
"Iya juga sih." jawab salah satu murid menggaruk tengkuknya yang tidak gatel.
"Btw selamat buat kalian, gw doain semoga sampai pelaminan." ucapan selamat dari Sonya yang di balas senyuman canggung oleh Vanya.
Bagaimana gak canggung, dia di doain semoga sampai pelaminan, sedangkan dia dan Vano aja sudah menikah.
"Gw juga ucapin selamat buat kalian, btw traktiran nya mana nih!" biasalah siapa lagi yang suka makan kalau bukan Sisil.
__ADS_1
"Bener tuh kata Sisil, pokoknya nanti pulang sekolah kalian harus traktir kita." setuju Sonya.
"Iya nanti gw traktir kalian." jawab Vano.
"Yes makan gratis." sorak senang Sisil.
"Gaya lo Sil Sil kayak gak pernah makan aja padahal uang saku lo udah bisa buat jalan jalan ke luar negeri." Sonya mendorong jidat Sisil.
"Itu kan beda, yang gratisan itu lebih enak dari pada beli sendiri." jawab Sisil.
Memang benar apa yang di katakan Sisil, seenak apapun semahal apapun makanannya akan kalah sama makanan yang di dapat dengan cara gratisan. Rasanya tuh beuhh mantap banget.
"Masih pagi gak usah ribut. Dah gw mau ke gerbang dulu." setelah meletakkan tasnya, Vanya pun pergi meninggalkan kedua sahabatnya dengan tangannya yang menyeret tangan Vano agar keluar dari kelasnya.
"Ehh tangan kalian woy, ingat di bumi ini bukan cuma kalian aja yang nempatin." teriak Sonya tapi tak di hiraukan oleh kedua pasangan yang lagi hangat hangatnya itu.
"Di kira kita ngontrak kali." sahut Sisil.
"Tau dah, gak buka sosmed gak sekolah kenapa isinya keuwuuan orang orang." omel Sonya dan segera pergi ke tempat duduknya.
-
Vanya tadi menyuruh Vano agar masuk ke dalam kelasnya dan Vano pun mengiyakan ucapan Nyai ratu, tapi bukan Vano namanya jika dia tidak bolos. Vano kabur dari pengawasan Vanya, dengan jurus kecepatan juga kelincahannya akhirnya Vano pun bisa bolos. Buktinya sekarang Vano sudah berada di atap dengan handphone yang ada di tangannya dengan posisi miring.
"Nah lo, mau main main sama gw, kalah kan lo." ucap Vano saat berhasil mengalahkan lawannya dalam game yang dia mainkan dari ponsel pintarnya.
"Bosen juga gw, ngapain ya enaknya." menatap sekitar dan tak ada satu pun barang yang menarik perhatiannya.
"Tidur aja lah." merebahkan tubuhnya di sofa empuk yang sudah dia sediakan di basecamp.
Saat Vano akan memasuki alam mimpinya dia di kagetkan dengan dobrakan pintu yang entah siapa pelakunya.
Brak.
"****, siapa sih ganggu orang tidur aja." marah Vano.
"Oh bagus, tidur aja sekalian gak usah bangun." ucap orang yang sudah menganggu tidur Vano.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya Vano pun dengan cepat bangun dari tidur dengan gelagapan.
...***...
Nanti kalau sempat aku up satu bab lagi 😁
__ADS_1