
Setelah kepergian Vano, mereka semua pun pergi meninggalkan mansion Vano entah kemana. Kalau Farrel sih tentu saja menghampiri istrinya di rumah mereka, tapi entah untuk yang lain.
-
Sementara di tempat Vanya, Vanya baru saja membuka matanya. Keadaan sekitar sangatlah gelap hingga Vanya susah memandang apa saja yang ada di hadapannya.
"Aku di mana?" gumam Vanya bingung.
Vanya mencoba mengingat kejadian tadi sebelum di beranda di sini. Dia ingat tadi ada seseorang yang membekapnya dari belakang dan Vanya tadi berusaha memangil teman temannya tapi tak bisa hingga terakhir dia lihat hanyalah wajah seorang laki laki yang tertutup dengan masker. Dan setelah itu semua pandangan gelap.
"Ternyata aku di culik lagi." gumam Vanya.
Vanya jadi teringat saat saat dirinya baru saja hamil dan di culik oleh Marvel. Vanya mengira juga penculikan ini sudah di rencanakan oleh Vano, jadi Vanya tidak panik panik banget.
"Daddy kamu suka banget sih bikin mommy kayak gini, nanti kalau kamu sudah besar jangan suka kayak Daddy ya, kasian nanti istri kamu." ucap Vanya mengajak anaknya yang masih berada dalam perut berbicara.
"Tapi mommy juga suka sih kayak gini, jadi lebih ekstrim gak di rumah mulu kayak biasanya." lanjut Vanya.
Duk.
"Auw..." ringis Vanya lantaran bayinya menendang perutnya.
"Wah kamu denger curhatan mommy ya, kamu sehat sehat ya di sana. Nanti kalau kamu udah keluar pasti nanti sama Daddy di ajarin berantem." ujar Vanya.
Beruntungnya sekarang Vanya lagi hamil jadi Vanya tidak merasa kesepian lantaran ada anaknya yang setia menemani dirinya yang kesepian.
"Kok haus ya." ucap Vanya memandang sekitar tapi tak ada tanda-tanda ada air di sana.
"Mana tubuh pakai di ikat segala lagi, kan susah nyari minumnya." lanjut Vanya.
Vanya berusaha membuka tali yang mengikat tubuhnya dengan cara menggesekkan tali itu pada bagian yang lancip di bangku yang dia kenakan.
"Iiih susah amat sih." kesal Vanya.
"Terus ini aku harus gimana, sayang bantu mommy mikir dong gimana caranya supaya kita bisa bebas dari sini." memandang perutnya yang membuncit.
Vanya terus berfikir hingga keluar lah ide dari otaknya.
"Tolong, tolong." teriak Vanya meminta tolong.
Vanya yakin jika di luar pintu itu ada orang yang menjaganya, maka dari itu Vanya berteriak. Siapa tahu kan nanti orang itu keganggu dan menghampiri Vanya.
"Woy siapapun tolong, gw mau kencing." teriak Vanya lagi.
__ADS_1
"Iisss kok gak ada yang bales sih, gak tahu apa gw haus banget." kesal Vanya.
"Woy tolong woy, gw gak mau ngompol di sini." teriak Vanya lagi, kali ini suaranya lumayan kencang dari pada yang tadi.
Ceklek Ceklek.
Terdengar seseorang seperti tengah membuka kunci, Vanya yakin pasti orang itu hendak menghampiri dirinya.
"Bisa diem gak?" sentak seorang pria yang tubuhnya berukuran besar dan banyak tato yang mengukir di kulitnya.
"Maaf, tapi aku mau pipis." pinta Vanya memelas.
"Ya pipis aja di situ." balas orang itu.
"Iiih jorok, gak mau ahh nanti bau." balas Vanya.
"Ya udah kalau gak mau ya jangan pipis." ucap orang itu dan akan pergi meninggalkan Vanya.
"Eehh tunggu tunggu. Bisa bukain sebentar gak, aku mau ke kamar mandi." pinta Vanya menahan orang itu agar tidak jadi keluar.
Vanya memanfaatkan cahaya yang datang dari arah pintu itu untuk melihat keadaan sekitar gudang. Di sana dia dapat melihat ada banyak barang barang yang berserakan di sana, hingga pandangannya jatuh ke arah senter yang tergeletak di atas lantai.
"Maaf nona cantik saya gak bisa membukakan tali buat anda karena itu perintah dari tuan saya." balas orang itu.
"Sekali lagi saya minta maaf nona, tapi tuan saya melarang saya untuk memberikan anda minum serta makan." balas orang itu lagi dengan sabar.
"Sepertinya dia gak jahat jahat banget." batin Vanya.
"Emang kamu gak kasian sama aku, aku lagi hamil loh. Nanti kalau kenapa napa sama anak aku gimana, emang kamu mau tanggung jawab." ucap Vanya memancing perhatian orang itu.
"Bahkan saya pernah hampir keguguran gara gara saya telat minum, kamu mau saya keguguran beneran."
"Kamu punya anak kan?" tanya Vanya di jawab gelengan oleh orang itu.
"Istri pasti punya kan?" tanya Vanya lagi dan di jawab gelengan kepala oleh orang itu.
"Hufft... sepertinya hidup kamu terlalu monoton, emmm... kalau ibu pasti punya kan, gak mungkin dong masak gak punya?" tanya Vanya lagi.
"Tidak nona saya tidak mempunyai itu." balas orang itu lagi.
"Kalau adik?" tanya Vanya mungkin ini terakhir kalinya, Vanya udah kehabisan pertanyaan juga.
Dan entah memang kebetulan atau rejeki Vanya, orang itu tiba tiba mengganguk.
__ADS_1
"Nah tepat. Coba kamu bayangin kalau adik kamu di culik sama seseorang dan adik kamu lagi hamil besar terus gak di kasih makan. Gimana perasaan kamu." ucap Vanya berusaha mengambil simpati orang itu.
"Gak tahu juga, soalnya adik saya udah meninggal beberapa hari yang lalu."
Dam'it rasanya Vanya ingin tengelam di lautan saja kalau begini caranya.
"Hufft... ya udah lah sana kamu keluar." usir Vanya yang sudah putus asa.
Orang itu pun keluar meninggalkan Vanya, tapi tunggu, kenapa orang itu tidak menutup pintunya kembali. Apakah orang itu lupa? pikir Vanya senang.
Vanya pun sudah merencanakan akan kabur dari sini setelah dia berhasil melepaskan tali yang melingkar di tubuhnya. Rasanya sangat menyesakkan, apalagi dengan kondisi tubuh Vanya lagi berbadan dua.
Vanya berusaha menggeser bangku yang dia duduki menuju posisi senter itu untuk mengambilnya, tapi belum bergeser satu senti pun Vanya sudah mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah gudang. Vanya pun mengurungkan niatnya untuk mengambil senter itu.
"Nih saya kasih makan sama minum."
Ternyata oh ternyata, orang itu tadi pergi menggambilkan makanan sama minuman buat Vanya.
"Wah ini benaran? Gak ada racunnya kan?" selidik Vanya.
"Gak ada nona, kalau anda tidak mau juga gak papa biar saya yang makan." balas orang itu akan mengambil makanan itu kembali.
"Ehh jangan jangan, ya udah bakal aku makan. Makasih ya." ujar Vanya tulus.
Vanya akan menerima makanan itu tapi terhenti, dia baru sadar kalau dirinya lagi di ikat.
"Ini gimana aku mau makan, kalau badan aku di ikat kayak gini?" tanya Vanya.
"Saya juga tidak tahu nona." balas orang itu.
"Kamu bukain dong, selama saya makan aja. Janji deh gak bakal kabur." pinta Vanya.
"Maaf nona tapi itu tidak bisa."
"Ya udah kalau gitu buat apa kamu kasih aku makan, kalau ujung ujungnya aku juga gak bisa memakannya. Mendingan kamu bawa aja itu makanan." kesal Vanya.
Entah ada angin dari mana tiba tiba orang itu membukakan ikatan tali tapi hanya di bagian tangan Vanya saja.
"Itu udah saya buka, silahkan anda makan saya mau keluar dulu. Ingat jangan coba coba kabur dari sini." peringat orang itu.
"Siap." balas Vanya dan memulai makan makanan yang orang itu berikan dengan lahap karena dia sudah kelaparan.
Orang itu pun keluar dari sana meninggalkan Vanya yang tengah makan. Tak lupa orang itu juga mengunci pintunya kembali.
__ADS_1
...***...