
Sedangkan Vano yang berada di kamar penampilannya sudah acak acakan, rambut yang tadinya sudah di rapikan oleh Vanya, sekarang sudah tak berbentuk lagi.
"Vanya hiks hiks maaf hiks hiks." ucap Vano lirih sambil menangis.
Dia duduk di lantai bersandar pada ranjang sambil kakinya di tekut dan kepalanya yang di sembunyikan di antara kedua kakinya.
"Aku minta maaf hiks hiks hiks. Aku janji gak akan kayak gini lagi hiks hiks hiks."
"Kamu jangan tinggalin aku, aku gak mau kamu pergi hiks hiks hiks."
Tak ada yang menengok keadaan Vano, hingga dia sampai tertidur di lantai. Mungkin karena saking lelahnya akibat menangis.
-
Sementara di tempat lain, Cindy tengah bertemu dengan seseorang yang dulu menawarinya kerjasama untuk menghancurkan pernikahan Vano dan Vanya.
Mereka bertemu di club tempat Cindy bekerja, mereka ngobrol di sebuah kamar yang sudah orang itu sewa.
"Gimana apa yang akan gw lakuin?" tanya Cindy tidak sabaran.
Orang itu menjelaskan apa rencananya kepada Cindy, dan Cindy pun menyetujuinya rencana orang itu.
"Oke gw ngerti, trus kapan kita akan memulainya?" tanya Cindy.
"Lusa, hari di mana Vanya akan melakukan acara tujuh bulanan kehamilannya." jawab orang itu.
"Tapi kita gak harus ke rencana inti, untuk sementara kita kasih ancaman ancaman terlebih dahulu pada mereka. Dan setelah semuanya sudah siap kita ke rencana inti." lanjut orang itu.
"Oke, lo tenang aja nanti gw juga akan meminta bantuan Tasya sama Kia."
"Baguslah kalau gitu, tapi gw minta sama lo jangan bilang pada mereka berdua kalau gw dalang dari rencana ini."
"Siap itu mah, asal ada..." Cindy menaik turunkan alisnya dan orang itu sudah mengerti apa yang di maksud Cindy.
"Sini nomor rekening lo biar gw transfer." pinta orang itu.
Dengan senang hati Cindy memberikan nomor rekening miliknya, dan tak lama ada sebuah notifikasi di handphone miliknya.
"Hah, ini seriusan?" kaget Cindy saat melihat nominal angka yang ada di handphonenya.
"Kenapa, masih kurang?"
__ADS_1
"Bu-bukan, ini banyak banget malah. Lo dapat uang sebanyak ini dari mana?" tanya Cindy kepo.
"Lo tenang aja nanti gw tambahin lagi kalau masih kurang, dan soal gw dapat uang itu dari mana lo gak perlu tahu." balas orang itu.
Cindy sudah tak merespon ucapan orang itu, dia terlalu senang saat melihat berapa angka nol yang ada di ponselnya. Bahkan gajinya melayani sepuluh orang pun belum tentu sampai segitu. Kalau di pikir pikir lebih baik Cindy jadi anak buah orang itu dari pada harus kerja di club.
"Gw tahu lo seneng banget dapat uang itu, tapi gw ingetin sama lo rencana ini harus berhasil kalau enggak lo akan tahu akibatnya." peringat orang itu.
"Beres, lo tenang aja." balas Cindy dengan pedenya.
Setelah itu mereka berpisah dan keluar dari club. Cindy memutuskan untuk pulang saja atau pergi ke mall menikmati uang yang baru saja dia dapatkan.
-
"Vano belum turun ma?" tanya Vanya.
Tadi setelah menangis, mama Fara meminta Vanya agar tiduran istirahat di kamar lain. Dan Vanya pun menyetujui itu, dia memilih istirahat di kamar tamu yang ada di lantai bawah.
"Kayaknya belum deh, soalnya mama sedari tadi belum lihat Vano." jawab mama Fara yang tengah menata makanan di atas meja makan.
"Oooh." balas Vanya.
Sebenarnya Vanya merasa khawatir sama Vano. Pasalnya sedari pagi Vano belum makan, dan ini sudah hampir waktunya makan siang.
"Ada yang bisa Vanya bantu ma?" tanya Vanya berniat ingin membantu mama Fara.
"Gak usah sayang, kamu istirahat aja." larang mama Fara.
"Mendingan kamu pangil Vano aja, kan kita udah mau makan siang." lanjut mama Fara.
Sebenarnya Vanya bimbang, tapi dia membuang ego nya. Vanya sudah terlalu khawatir dengan Vano.
"Ya udah kalau gitu Vanya ke atas dulu ma." pamit Vanya dan di angguki oleh mama Fara.
Vanya dengan berjalan agak cepat pergi menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamar pandangan Vanya langsung tertuju pada tubuh Vano yang tergeletak di lantai kamar.
"VANO." teriak Vanya.
Vanya langsung berlari menghampiri Vano untuk mengecek keadaannya.
"Van, Vano bangun Van." panik Vanya sambil menepuk nepuk pipi Vano bergantian.
__ADS_1
"Sayang...." lirih Vano saat melihat wajah Vanya yang sedang khawatir ada di hadapannya.
"Kamu kenapa Van,?" tanya Vanya sambil tangannya memeriksa keadaan tubuh Vano.
"Astaga badan kamu panas banget." lanjut Vanya.
"Ayo aku bantu naik ke ranjang."
Dengan bersusah payah Vanya membantu Vano pindah ke atas ranjang. Vano yang tubuhnya terasa lemas pun hanya menurut apa yang istrinya lakukan terhadap dirinya.
"Bentar ya aku telfon dokter sama ambilin kamu air kompres dulu." ujar Vanya.
"Kamu di sini aja, nanti kamu kecapekan." larang Vano dengan suara yang sangat lirih. Bahkan Vanya harus menajamkan pendengarannya supaya bisa mendengar apa yang Vano ucapkan.
"Udah kamu diam di sini, jangan kemana mana."
Vanya berlalu pergi menuju dapur untuk mengambil baskom dan handuk untuk mengompres Vano.
"Loh kok kamu sendiri, mana Vanonya?" tanya mama Fara yang melihat kedatangan Vanya hanya seorang diri.
"Vanya minta tolong ya ma, tolong hubungi dokter buat periksa keadaan Vano. Badannya panas banget." balas Vanya.
"Astaga anak itu sakit?" kaget mama Fara tak percaya.
"Iya ma, ini Vanya mau ambil alat kompres buat Vano."
"Ya udah biar mama kasih tahu papa dulu biar dia yang pangil dokter."
Mama Fara pun pergi meninggalkan dapur, dan Vanya pun mengambil apa yang dia cari. Setelah mendapatkannya dia pun segera kembali ke kamar.
Sampai di kamar Vanya langsung mengompres dahi Vano agar panasnya mereda. Sedangkan Vano tak berbicara apapun lantaran tubuhnya terasa sangat lemah bahkan untuk berbicara sekali pun.
"Kamu makan ya, biar aku suapi. Dari tadi kan kamu belum makan." ujar Vanya dan di angguki Vano.
Setelah menempelkan kain handuk kecil pada dahi Vano, Vanya menyuapi Vano makanan yang tadi dia minta pada Sri untuk membawakannya ke kamar. Meskipun terasa pait, tapi Vano berusaha untuk makan dengan banyak, karena dia tak mau bikin istrinya repot.
Di tengah tengah acara makan Vano, tiba tiba pintu terbuka dan menampilkan wajah papa serta mama Vano dan di ikuti dokter di belakangnya.
"Tolong periksa anak saya dok," pinta papa William dan langsung di laksanakan oleh dokter itu.
Vanya pun minggir memberikan ruang untuk dokter itu supaya bisa leluasa dalam memeriksa keadaan Vano.
__ADS_1
...***...