
Vanya berangkat bersama papa Wijaya menuju rumah sakit terbesar yang ada di kota Jakarta.
Setelah sampai Vanya segera mengikuti langkah papa Wijaya yang memasuki rumah sakit.
"Loh kok kita ke arah sini pa? Bukannya ruangannya di sana ya?" tanya Vanya bingung saat menyadari langkah papanya yang tidak menuju ruangan Dia.
Papa Wijaya hanya tersenyum saja kepada Vanya tanpa menjawab pertanyaan Vanya dan tetap melanjutkan langkahnya lagi menuju arah belakang yang dimana terdapat kamar mayat dan juga ada ruangan ruangan lainnya.
Mau tak mau Vanya pun mengikuti kemana langkah papanya membawa, Vanya berdoa dalam hati semoga saja tidak ada yang terjadi dengan Dia.
"Pa ini gak mungkin kan?" tanya Vanya dengan perasaan campur aduk saat langkahnya sudah mendekati kamar mayat.
Papa Wijaya tetap saja tidak menjawab apa yang di ucapkan Vanya,dia hanya menatap Vanya dengan senyuman yang entah apa itu artinya sambil terus melangkah kakinya.
"Tunggu pa." Vanya memegang tangan papanya yang membuat langkah papa Wijaya terhenti.
"Ini gak mungkin kan pa?" tanya Vanya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Papa Wijaya pun menaikkan sebelah alisnya bingung melihat mata anaknya yang sudah berkaca-kaca.
"Gak mungkin apanya?" tanya balik papa Wijaya bingung.
"Itu...itu..." Vanya bingung mau ngomongnya gimana.
"Udah kamu jangan sedih, kamu ikuti papa saja ya. Kamu yang tenang ya."
Ucapan papa Wijaya membuat Vanya jadi lebih berover tingking dengan apa yang ada di pikirannya.
Lima langkah lagi mereka sampai di depan pintu kamar mayat, Vanya menyiapkan kekuatannya agar tetap tabah menerima keadaan yang ada nanti. Vanya pun menundukkan pandangannya sambil terus berjalan mengikuti langkah papa Wijaya.
Satu langkah lagi, Vanya memejamkan matanya dan ada setitik air mata yang menetes di pipi mulusnya. Tapi tunggu... kenapa papanya tetap berjalan, bukannya kamar mayat tadi sudah dia lewati.
Vanya pun mendongakkan kepalanya melihat ke belakang di mana letak kamar mayat tadi, dan dia kembali melihat ke depan di mana papa Wijaya yang terus melangkah hingga sampai di belakang rumah sakit yang terdapat taman tepat untuk orang orang yang sedang sakit mencari udara segar.
"Lah kok ke taman pa?" tanya Vanya bingung.
Papa Wijaya pun berhenti dan menatap ke arah anaknya. Dia melihat ada bekas air mata yang ada di pipi mulus anaknya itu sepertinya habis nangis. pikir papa Wijaya.
"Trus kamu maunya kita ke mana hmm? Ini juga ngapain pakai nangis segala."
"Bukannya kita mau ke kamar mayat ya?" ucap Vanya agak mengecilkan suaranya di akhir ucapannya.
"Kamar mayat? Emang siapa yang meninggal?" tanya papa Wijaya bingung dengan pertanyaan anaknya itu.
Sedetik kemudian papa Wijaya pun mengerti maksud anaknya.
"Ppfftt...." tawa tertahan papa Wijaya.
__ADS_1
"Kenapa papa tertawa?" tanya Vanya, dia bingung bukannya menjawab malah tertawa. Papanya ini memang prik.pikir Vanya.
"Kamu pikir kakak kamu meninggal gitu?" tanya papa Wijaya setelah meredam tawanya.
Vanya pun menganggukkan kepalanya dengan ragu.
"Tuh kamu lihat di depan." Menunjuk dengan dagunya ke arah depan di mana ada bangku taman yang di duduki oleh seseorang.
Vanya pun mengikuti arahan papanya, dia melihat ada seorang laki-laki yang usianya di atas Vanya tapi tidak terlalu jauh. Vanya mengucek matanya dan memfokuskan pandangannya takut takut salah lihat, tapi yang dia dapat adalah lambaian tangan dari laki-laki itu yang menyuruh Vanya untuk menghampiri laki laki itu.
Vanya pun melebarkan bola matanya dan menampar pipinya sendiri.
Plak
"Auw.. sakit, ini bukan mimpi kan?" tanya Vanya pada dirinya sendiri.
Papa Wijaya yang melihat tingkah laku anaknya pun hanya terkekeh.
"Ini nyata Vanya, udah sana kamu samperin, papa mau ketemu dokter dulu." papa Wijaya menjawab pertanyaan Vanya dan setelah itu dia pergi meninggalkan Vanya.
"Bener ini nyata." gumam Vanya lagi.
Lelaki yang sedang duduk di bangku tadi pun berdiri dan merentangkan kedua tangannya seolah meminta Vanya untuk memeluk dirinya sambil memandang Vanya dengan tersenyum sangat manis.
Vanya pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis dan tanpa dia sadari air matanya menetes lagi bahkan kali ini lebih deras dari yang tadi. Tapi ini bukan air mata kesedihan, melainkan ini air mata kebahagiaan.
Vanya berlari menghampiri laki laki itu dan...
Bruk.
Vanya bangun dari tidurnya.
Hahaha gak author becanda 😂😂🙏
Vanya memeluk laki laki itu dengan erat sambil memukuli dadanya dan menangis di dada bidang laki laki itu.
Dan tanpa Vanya sadari ada seseorang yang mengambil foto Vanya yang tengah berpelukan dengan seorang laki-laki.
"Hiks hiks hiks." tangis Vanya.
"Hei udah dong jangan nangis, masak princess nya kakak nangis sih. Nanti cantiknya ilang loh." lelaki itu menyenangkan Vanya yang berada di pelukannya.
"Hiks hiks kakak jahat, kenapa kakak gak bilang kalau kakak udah sadar dari koma, kakak jahat. hiks hiks hiks..."
bug bug bug
Ucap Vanya sambil menangis tersedu-sedu dan memukuli dada bidang yang dia bilang kakaknya tadi.
__ADS_1
"Auw... sakit princess, kamu mau kakak koma lagi. Ini kakak baru sembuh loh, masak kamu aniaya sih." ucap laki laki itu pura pura kesakitan, padahal mah pukulan Vanya tidak ada efek sama sekali.
Vanya pun melepaskan pelukannya dan memandang kakaknya itu dengan tajam.
"Jangan ngomong gitu, Vanya gak suka." ucap Vanya dengan tatapan tajam.
"Ulu ulu ulu... iya iya maafin kakak, kakak gak akan ngomong gitu lagi." memeluk Vanya kembali.
"Kakak tau gak, Vanya tuh sedih banget saat kakak koma. Vanya jadi gak ada temen main lagi, Vanya juga gak ada tempat lagi buat bersandar di saat Vanya sedang sedih." adu Vanya dalam pelukan laki laki itu.
"Maafin kakak ya yang udah tinggalin princess sendiri, kakak janji mulai sekarang kakak gak akan pernah tinggalin princess lagi."
Vanya mendongakkan kepalanya menatap wajah kakaknya yang tetap ganteng meskipun habis koma.
"Kakak janji?" tanya Vanya mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya kakak janji sama princess." menyambut jari kelingking Vanya dengan jari kelingkingnya juga. Mereka berjanji layaknya anak kecil yang sedang di janjikan membeli sesuatu oleh orang tuanya.
"Kita duduk di sini yuk, kaki kakak pegal soalnya kan kakak belum lancar banget jalannya setelah koma beberapa waktu lalu." ajak laki laki itu.
"Oh iya Vanya lupa, hehehe." memperlihatkan deretan giginya yang rapi yang membuat wajahnya jadi imut.
Laki laki itu pun menarik ujung hidung Vanya lantaran gemas dengan Vanya.
"Gemes banget sih."
"Iiih kakak sakit tauk." adu Vanya mengelus hidungnya yang memerah.
Mereka pun bercerita banyak di taman rumah sakit itu sambil bercanda satu sama lain. Inilah masa masa yang di rindukan Vanya dengan kakaknya.
-
Sementara di tempat Vano dia tengah memang wajahnya di depan cermin yang ada di kamarnya. Dan tiba-tiba saja handphonenya berdering, dia pun segera membukanya.
Ada kiriman beberapa foto dari anak buahnya yang membuat darahnya mendidih.
"Aarrrgg." teriak Vano marah.
Prang...
Yuhuuuu.... gimana nih kira kira kelanjutan hubungan Vanya and Vano?
Btw nama kakak Vanya siapa ya?
Dan ada hubungan apa Vanya dengan kakaknya?
Oh iya like, komennya jangan lupa. Kalau bisa kasih vote lah 😂
__ADS_1