
"Maksud lo?" tanya Cindy bingung.
"Jadi gini, lo mau misahin Vanya dari Vano kan?" tanya orang itu di balas anggukan oleh Cindy.
"Nah gw juga mau mereka berdua pisah." lanjut orang itu.
"Jangan bilang lo suka sama Vanya?" tebak Cindy.
"Suka sama Vanya? Cih ogah gw."
"Trus kenapa lo mau misahin mereka berdua?"
"Karena gw gak suka mereka hidup bahagia."
"Kenapa lo gak suka mereka hidup bahagia, bukannya lo seharusnya senang ya liat sahabat lo bahagia?"
"Itu bukan urusan Lo, sekarang gw tanya lo mau apa enggak kerjasama sama gw?"
"Oke gw mau."
Mereka berdua pun berjabat tangan dengan masing-masing tersenyum sinis.
"Kalau gitu gw minta nomor lo biar nanti gw bisa hubungi lo kalau ada yang perlu gw kasih tahu ke Lo." ucap orang itu menyodorkan ponselnya agar Cindy mengetikkan nomor teleponnya di ponsel orang itu.
Setelah itu orang itu mengantarkan Cindy ke tempat kerjanya yaitu di club. Dan mereka berdua berpisah di sana.
-
Hari sudah malam, Vanya dan Vano baru sampai di mansion mereka setelah jalan jalan seharian.
"Aaaahh capeknya..." keluh Vanya merebahkan tubuhnya di ranjang yang berada di kamarnya.
"Sayang mandi dulu gih, habis itu kamu lanjut tidur." perintah Vano duduk di samping Vanya.
"Gak mau dingin." tolak Vanya.
"Kan ada air panasnya. Yuk mandi biar aku siapin airnya."
Akhirnya mau tak mau Vanya pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Meskipun tadi siang sudah mandi di markas tapi tetap aja tubuhnya rasanya lengket dengan keringat.
Setelah mandi Vano membantu Vanya mengeringkan rambutnya sehabis keramas. Terlihat Vano sangat perhatian terhadap Vanya, sesudah kering Vano menyuruh Vanya untuk berbaring di ranjang dan dia memijat kaki Vanya dengan lembut agar Vanya tidak merasa kesakitan.
"Gimana enak gak?" tanya Vano.
"Enak, kayaknya kamu cocok deh jadi tukang pijat." balas Vanya.
"Enak aja, masak ganteng ganteng gini mau jadi tukang pijat. Kalau tukang pijatnya tubuh kamu sih oke, bahkan kalau mau aku bisa kik pijat plus plus."
"Yeee itu mah mau kamu."
__ADS_1
Udah sana tidur, udah malam ini." suruh Vano.
"Kamu gak mandi?" tanya Vanya.
"Mandi nanti kalau kamu udah tidur." jawab Vano.
"Kok gitu, sekarang aja nanti makin malam makin dingin loh."
"Gak mau, aku mau mijitin kamu sampai kamu tertidur."
"Ya udah terserah kamu."
Vano terus memijat kaki Vanya, kadang juga dia mengajak anaknya berbicara yang membuat hati Vanya menghangat. Vanya selalu berdoa semoga saja kebahagiaan selalu menyertai rumah tangganya hingga tua nanti.
Lama kelamaan mata Vanya tak sanggup lagi untuk terbuka hingga akhirnya dia tertidur dengan nyenyak nya. Setelah memastikan Vanya beneran tertidur, Vano beranjak dengan hati hati menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dan setelah selama dia menyusul istrinya menuju alam mimpi.
-
Keesokan harinya, Galang tengah makan di kantin hanya berdua bersama Sonya. Sedangkan tadi Sisil pergi berdua bersama Rangga entah kemana, katanya sih mau kencan.
"Lang nanti setelah sekolah nonton yuk." ajak Sonya di sela sela makannya.
"Maaf kalau nanti aku gak bisa lain kali aja ya." tolak Galang dengan nada yang tidak enak.
"Ya udah gak papa, emang nanti kamu mau ngapain?" tanya Sonya.
"Eemmm... nanti aku mau ke basecamp, soalnya ada masalah yang perlu di bahas." jawab Galang.
"Kamu jangan marah ya, aku janji nanti setelah masalah itu selesai akan ajak kamu jalan jalan kemana pun kamu mau." ucap Galang sambil tangannya menggenggam tangan Sonya yang berada di atas meja.
"Iya aku gak marah kok." balas Sonya dengan senyuman yang Galang tau itu di paksa.
"Maaf selama kita pacaran aku belum pernah ajak kamu jalan." ucap Galang merasa bersalah lantaran belum pernah membahagiakan pacarnya.
"Iya gak papa, aku ngerti kok kalau kamu lagi sibuk." balas Sonya.
Aku mau ke toilet bentar ya." pamit Sonya dan segera berlalu dari sana tanpa menunggu persetujuan Galang.
"Maaf yank, aku lakuin ini semua demi masa depan kita." gumam Galang menatap punggung Sonya yang makin lama makin menjauh.
-
"Yank bangun dong, tadi katanya kalau kelasnya mau di mulai kamu mau bangun." ucap Vano membangunkan Vanya yang tadi sehabis pelajaran pertama tidur.
"Hmm." gumam Vanya.
"Ayo loh, cepat bangun." ucap Vano masih berusaha membangunkan Vanya.
"Aku masih ngantuk, ntar lima menit lagi." balas Vanya dengan suara yang tidak jelas.
__ADS_1
"Dari tadi lima menit lima menit mulu, ayo cepat bangun. Kita udah jarang masuk kelas sekarang harus masuk."
"Iya tapi bentar, aku masih ngantuk loh."
"Aku hitung sampai tiga, kalau kamu gak bangun juga aku gendong kamu ke kamar mandi."
"Satu," hitung Vano tapi masih tak ada pergerakan dari Vanya.
"Dua," tetap tak ada pergerakan juga.
"Aku serius loh yank gak becanda. Ti..."
"Iya iya ini bangun." kesal Vanya bangun dan duduk di atas ranjang, tapi matanya masih terpejam.
"Nah gitu dong, kan pinter." puji Vano sambil merapikan rambut Vanya.
"Yuk sini aku gendong."
Vano membawa Vanya dalam gendongan di punggungnya. Dengan telaten Vano membantu Vanya membasuh mukanya dengan air hangat yang sudah dia siapkan dari tadi. Setelah selesai mereka berdua pun mengikuti pelajaran dengan sistem daring dan semangat Vanya pun sudah kembali seperti tadi pagi.
-
Saat ini Farrel tengah berada di dalam ruangan kantor miliknya yang sudah di resmikan seminggu yang lalu. Farrel tengah melamun memikirkan nasib adik kesayangannya yang rumah tangganya selalu di timpa cobaan.
Tok tok tok.
Pintu ruangan Farrel di ketuk dari luar dan hal itu menyadarkan lamunan Farrel.
"Masuk." balas Farrel dari dalam.
Pintu ruangan pun terbuka menampilkan sekertaris pertempuran yang bekerja di kantornya. Sebenarnya Farrel tidak suka dengan sekertaris nya ini lantaran pakaiannya terlalu terbuka menurut Farrel. Bukan takut tergoda atau apa, tapi dia jijik melihatnya.
"Ada apa?" tanya Farrel tanpa memandang sekertaris nya itu.
"Ini saya buatkan teh untuk tuan." ujar sekertaris itu dengan nada yang menggoda yang membuat Farrel jijik sendiri saat mendengarnya.
"Letakkan di meja." balas Farrel.
Sekertaris itu pun mendekat pada meja Farrel, bukannya meletakkan teh itu dari meja bagian depan, sekertaris itu malah berjalan hingga sampai di samping Farrel. Dan dengan sengaja sekertaris itu menumpahkan teh anget yang dia buat ke dada Farrel saat ingin meletakkannya di meja.
"Maaf tuan maaf saya gak sengaja." ucap sekertaris itu dan mengelap dada Farrel yang terkena teh menggunakan lengan kemejanya.
"Udah udah saya bisa bersihin sendiri." tolak Farrel tapi sekertaris itu tetap kekeh untuk membersihkan dada Farrel.
Farrel merasa sekertaris nya ini seperti tengah menggodanya, terlihat dari pergerakan saat mengelap dadanya.
"Gak papa tuan biar saya bersihkan, kan saya yang salah." ucap sekertaris itu.
Tiba tiba pintu ruangan Farrel terbuka.
__ADS_1
"Saya...ng."
...***...