
Vano tersenyum dan menundukkan wajahnya mendekati wajah Vanya, semakin dekat dan semakin dekat hingga.....
Cup.
Merasakan ada benda kenyal yang menempel di bibirnya, Vanya memejamkan matanya menikmati luma**n yang Vano berikan kepada Vanya.
Tepat berada di ketinggian biang lala itu berputar, mereka berdua tengah asik berciuman mesra di dalam biang lala dengan di hiasi keindahan malam kota Jakarta.
Setelah beberapa menit Vano merasa oksigen Vanya mulai habis, Vano pun melepaskan ciumannya. Sekarang dahi mereka bersatu, saling menatap mata seseorang yang ada di depannya tanpa kedip.
"Vanya I love you." ungkap Vano dengan tulus.
Vanya menatap mata Vano dalam dalam, dan dia melihat adanya ketulusan di mata itu.
"I love you too." jawab Vanya malu malu dan segera menundukkan pandangannya.
Vano tersenyum mendengar ungkapan itu, rasanya bunga yang selama ini berada dalam hatinya bermekaran indah seperti taman bunga.
Vano menarik dagu Vanya untuk menatap kembali kearahnya.
"Makasih sayang, kamu sudah memaafkan ku kan?" tanya Vano menanti momen ini.
Vanya menganggukkan kepalanya pertanda iya.
Cup.
Dengan segera Vano menyatukan bibir keduanya, Vano melu**t bibir Vanya dengan lembut penuh kasih sayang, dan Vanya pun diam diam membalasnya meskipun amatiran tapi itu membuat Vano senang.
Mereka terus bermesraan di atas biang lala tanpa menghiraukan mahluk mahluk yang hanya ngontrak di bumi ini.
-
Pagi yang cerah, matahari bersinar dari ufuk timur, burung saling berkicauan, embun embun dedaunan menetes membasahi tanah tanah yang ada di bawahnya.
Dua insan yang sedang tertidur saling berpelukan di bawah selimut tebal berwarna abu-abu, mereka seolah lupa kalau hari ini mereka masuk sekolah.
Vanya menggeliat di dalam tidurnya, dia merasa p******a nya kebas. Vanya pun membuka matanya dan melihat ke bawah.
Di sana ada Vano yang tengah menyu** di p******a nya dengan tubuh yang sama dengannya yaitu telanjang, Vano seperti bayi yang baru lahir yang sangat imut bila di pandang. Vanya teringat semalam setelah mereka pulang dari pasar malam mereka mengulang adegan yang terjadi pada siang hari sebelum mereka pergi ke pasar malam. Dan setelah melakukan adegan itu Vano merengek minta menyu** kepada dirinya, dengan berat hati Vanya pun memberikannya.
"Van bangun." Vanya membangunkan Vano dengan menoel noel pipi Vano.
"Eemmh." Vano hanya bergumam saja, tak ada niatan untuk membuka matanya.
"Vano bangun yuk, kita harus sekolah hari ini." ucap Vanya lagi.
Vano tetap sama, dia terus melanjutkan acara tidurnya tanpa merasa terganggu dengan pu**** Vanya yang berada di mulutnya.
Merasa geram, Vanya pun melepaskan pu**** nya dari mulut Vano yang membuat Vano berdecak dalam tidurnya.
__ADS_1
"Iiiss kok di lepas sih." decak Vano.
"Apa." garang Vanya.
"Sayang aus." rengek Vano.
"Haus ya sana ke kamar mandi." jawab Vanya malas, karena dia ngerti apa yang di maksud Vano.
"Iiis kok di kamar mandi sih."
"Trus."
"Itu loh." menunjuk dada Vanya bagian atas yang Vanya tutupi dengan selimut.
"Enak aja, punya ku udah lecet gara gara kamu gigit, masih minta aja." tolak Vanya.
"Tapi aku haus." rengek Vano lagi.
"Kalau haus ya minum Geovano Alexander putranya bapak William yang paling kaya."
"Tapi aku maunya minum susu."
"Ya mangkanya ayo bangun nanti aku buatin susu."
"Iih bukan susu yang itu, tapi susu punya kamu."
"Tapi aku mau." rengek Vano dengan muka yang sangat sangat memelas.
"Ya udah aku kasih, tapi nanti kamu gak aku kasih jatah selama satu bulan, gimana setuju gak?" tawar Vanya.
"Kok gitu, gak adil dong." sangah Vano tak terima dengan penawaran Vanya.
"Gak adil di kamu, bagi aku mah adil adil aja."
"Gimana mau sekarang ***** atau gak ada jatah sebulan." lanjut Vanya.
"Iya deh iya." jawab Vano kesal.
"Iya apa?"
"Iya sekarang gak jadi *****, tapi jatah tiap hari." jawab Vano mantap.
Glek.
Vanya menggerutuki kebodohannya, bisa remuk tulang tulangnya jika apa yang Vano ucapkan nanti di tagih. Tapi iya in aja lah, nanti bisa cari cara lain lagi. pikir Vanya.
"Satu lagi aku mau hari ini kamu bolos sekolah." pinta Vano yang membuat Vanya melotot.
"Gak mau tau pokoknya hari ini harus bolos dan temani aku di rumah seharian full gak ada penolakan." ucap Vano yang tak bisa di bantah.
__ADS_1
"Tapi kan Van..."
"Gak ada tapi tapian, oh atau kamu mau kita lakuin kayak semalam lagi hmm." senyum mesum Vano keluar.
Vanya pun nurut saja apa kata Vano demi kebaikan tubuhnya agar tetap bisa berjalan sampai tua nanti. Vanya heran kenapa sekarang Vano jadi manja plus mesum kayak gini, perasaan dulu enggak deh. pikir Vanya.
"Ya udah kita bolos, tapi nanti siang kita ke rumah mama ya, kan kamu belum kenalan sama kak Farrel." usul Vanya, dari pada harus di rumah berduaan dengan Vano, bisa bisa nanti dirinya benar benar di makan oleh Vano.
"Eeemmm baiklah, tapi ingat kamu gak boleh dekat dekat, apalagi sampai peluk pelukan sama dia." selain mesum, sifat posesif Vano akhirnya keluar juga. Dan jangan lupakan sifat bucinnya.
"Iya, udah sekarang sana mandi, aku mau ke dapur dulu masakin kamu sarapan." perintah Vanya.
Vanya ingat, dulu saat mereka masih tinggal di apartemen, Vano sangat menyukai masakannya jadi Vanya berfikir untuk memasakkan Vano makanan kesukaan Vano.
"Mandi bareng yok." ajak Vano.
"No." tolak Vanya tegas.
"Kamu mau beneran gak aku kasih jatah selama satu bulan." lanjut Vanya mengancam Vano.
"Iiiss beraninya ngancam." ucap Vano dan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi dengan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya.
"VANO." teriak Vanya.
"Apa lagi sih sayang." membalikkan badannya menghadap Vanya, sehingga membuat benda yang gondal gandul itu berada di depan mata Vanya.
"VANO." teriak Vanya sambil menutup kedua matanya mengunakan tangan, tapi Vanya ada ngintip ngintip sedikit.😂
"Apa sih sayang, pagi pagi udah teriak teriak aja." menghampiri Vanya.
"Kamu itu, bisa gak sih pakai dulu baju nya, atau paling tidak pakai ****** ***** gitu biar gak gandul gandul gitu." ucap Vanya masih tetap menutup kedua matanya.
"Ngapain di tutup, orang kamu juga udah sering liat." jawab santai Vano.
"Udah aku mau mandi dulu, jangan teriak teriak lagi. Kayak orang hutan aja." lanjut Vano dan melangkah kakinya menuju kamar mandi.
Vanya pun membuka matanya setelah tidak mendapati Vano di kamar itu.
Vanya mencari pakaian untuk dia kenakan, setelah itu dia merapikan kamarnya yang seperti kapal pecah, dimana pakaian dia dan Vano berserakan di lantai. Setelah rapi dia menyiapkan pakaian santai untuk Vano dan setelah itu dia pergi ke dapur untuk memasakkan makanan buat dia dan Vano sarapan.
...***...
Ya Allah ampunilah dosa author dan yang baca 🤲😁
Senin Senin
Vote Vote
😂😂😂😂
__ADS_1