My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 164


__ADS_3

Vano keluar dari mobilnya di ikuti Sonya dan Sisil di belakangnya.


"Ayo masuk." ajak Vano setelah kedua teman istrinya berdiri di hadapannya.


"Ini rumah siapa Van?" tanya Sonya menghentikan langkah Vano.


Vano berbalik sambil mengernyitkan alisnya.


"Kalian datang ke sini, tapi gak tahu ini rumah siapa?" bukannya menjawab Vano malah balik bertanya.


"Ya-ya kita kan tadi ngikutin Vanya." jawab Sonya gagap.


Sedangkan Sisil hanya diam saja menatap sekeliling mansion mewah di hadapannya ini.


"Kita masuk dulu, nanti kalian akan tau jawabannya di dalam." ucap Vano dan segera melangkahkan kakinya memasuki mansion yang pintunya sudah di buka oleh kepala pelayan Sri.


Sonya dan Sisil pun mengikuti langkah Vano masuk ke dalam.


"Selamat datang tuan." sambut Sri sambil membungkukkan badannya di ikuti pelayan yang lain di sebelahnya.


"Hmm." jawab Vano berwibawa, yang membuat Sisil dan Sonya kagum.


"Gilak aura Vano, udah kayak bos bos besar." Batin Sonya kagum.


"Wow mansionnya mewah banget." celetuk Sisil yang membuat Sonya malu.


"Aduh Sil, bisa gak sih lo itu jangan katrok katrok banget, kayak orang susah aja." ujar Sonya berbisik pada Sisil.


"Sri, kamu siapkan mereka minum dan bawa ke atas." perintah Vano.


"Baik tuan." jawab Sri.


"Sekalian panggilkan nyonya buat ke sana." tambah Vano.


"Baik tuan." jawab Sri lagi.


Sri pun segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk di bawa ke lantai atas sekaligus camilan juga.

__ADS_1


"Kalian ikut saya naik ke lantai atas." ajak Vano dengan bahasa yang formal.


Sonya dan Sisil pun hanya mengangguk saja dan mengikuti Vano yang masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas sendiri.


Di lantai paling atas mansion, terdapat tempat untuk nongkrong sekaligus tempat buat bersantai. Dan Vano membawa Sonya dan Sisil ke sana.


Ting.


Lift berhenti di lantai paling atas, Sisil dan Sonya makin kagum melihat dekorasi yang ada di sana. Banyak miniatur mobil, motor, pesawat dan banyak lagi pajanga pajangan, yang mereka yakin harganya bernilai fantastis.


"Silahkan masuk." Vano mempersilahkan Sonya dan Sisil yang sedari tadi diam masuk ke dalam pintu yang terbuat dari kaca itu.


"Kalian duduklah, bentar lagi ada yang mau ketemu kalian." ucap Vano lagi.


Entah mengapa Sonya dan Sisil kali ini kehilangan kata kata untuk berbicara pada Vano, maka dari itu sedari tadi mereka hanya diam saja.


"Kalian kenapa diam aja sih, santai aja gak usah takut." Vano mengajak mereka berbicara, karena Vano tahu kedua teman istrinya itu tengah gugup berbicara dengan nya.


"I-iya Van." gugup Sisil dan Sonya.


"Sayang kamu udah pu...lang." ucap Vanya saat memasuki ruang nongkrong.


"Vanya." kaget Sonya dan Sisil.


Mereka tak akan mengira jika Vanya yang akan menemui mereka. Dan yang bikin kaget Vanya dengan santainya memangil Vano dengan sebutan sayang berbeda kalau di sekolah yang agak jaim. Dan lagi, Vanya yang tadi masuk ke mansion ini masih memakai seragam sekolah, tapi sekarang sudah berganti dengan pakaian santai.


"Sini kamu duduk dulu." Vano menghampiri Vanya yang masih mematung di dekat pintu dan menggiringnya agar duduk di sofa samping Sonya dan Sisil.


Dengan ragu Vanya duduk di sana dan tak berani menatap wajah kedua sahabatnya.


"Lo bisa jelasin sama kita Van, gw makin yakin kalau ada yang lo sembunyiin dari gw dan Sisil." ucap Sonya dengan wajah serius dan datar.


"Maaf." lirih Vanya sambil menundukkan kepalanya.


Vano yang melihat itupun merasa tak tega pada istrinya, dia akan membantu Vanya menjelaskan kepada kedua temannya itu.


"Maaf apa Van, cepat lo jelasin sama kita. Ada hubungan apa di antara kalian selain sebagai sepasang kekasih. Tadi pak satpam dan pelayan memangil Vano dengan sebutan tuan, bahkan mereka sangat tunduk pada perintah Vano. Dan tadi Vano suruh pelayan memangil nyonya mereka agar menyusul kita ke sini, dan yang datang itu lo, berarti lo nyonya-nya kan?." ucap Sonya berusaha mengontrol emosinya agar tidak meningkat.

__ADS_1


Sisil yang ada di samping Sonya pun berusaha menenangkan Sonya agar tidak terbawa emosi.


"Udah Soy, kamu tenang dulu ya, kita dengerin penjelasan Vanya dulu." ucap Sisil.


"Jawab gw Van, apa yang lo sembunyikan dari kita. Dan ada hubungan apa lo sama Vano?" tanya Sonya dengan suara yang sudah keras.


"Stop." sentak Vano tegas.


Vano tidak tega melihat istrinya yang di hakimi oleh sahabatnya sendiri, bahkan sekarang Vano bisa melihat kalau istri itu sedang menangis.


Mendengar sentakan keras Vano membuat Sonya diam.


"Kalian bisa diam dulu gak, gw yang bakal jelasin semuanya sama kalian. Jangan bentak bentak istri gw." ucap Vano seketika membuat mereka semua menatap Vano dengan tanda tanya besar. Sedangkan Vanya menatap Vano sambil menggelengkan kepalanya.


"Van." ucap Vanya sambil menggelengkan kepalanya seolah melarang Vano untuk menceritakan semuanya.


"Ini udah waktunya sayang, sedalam apapun kita menyembunyikan mayat pasti akan terungkap juga. Begitu pula masalah kita, lambat laun sahabat sahabat kamu juga bakalan tahu." ucap Vano menggenggam tangan istrinya.


Vano menoleh ke arah Sonya dan Sisil.


"Gw dan Vanya udah menikah." ucap singkat Vano yang membuat Sonya dan Sisil membulatkan matanya.


"Menikah?" kaget keduanya.


"Ya, kami sudah menikah. Tepatnya satu Minggu setelah gw keluar dari rumah sakit sehabis di gigit ular waktu cari Vanya di hutan waktu kemping di sekolah." jelas Vano.


"Sebenarnya gw waktu sebelum pingsan udah menyatakan perasaan gw sama Vanya tapi setelah sadar gw lupa ingatan dan jadi membenci Vanya seperti dulu lagi. Entah karena apa, kedua orang tua kita menjodohkan kita berdua. Dan kita tidak bisa menolak permintaan mereka, akhirnya kita menikah secara sembunyi-sembunyi, hanya keluarga dan beberapa orang penting rekan kerja papa. Di awal pernikahan gw bahkan selalu siksa Vanya dengan kata kata kasar yang keluar dari mulut gw, ya meskipun gw tidak sampai melukai Vanya tapi itu sudah sering membuat Vanya menangis kalau malam hari." penjelasan Vano panjang lebar.


Sonya yang tadinya ingin marah marah sama Vanya pun tidak jadi, dia malah merasa iba setelah mendengar cerita akhir Vano yang selalu buat Vanya menangis. Sedangkan Sisil, entah lah kenapa dia malah menangis tersedu sedu dengan ingus yang keluar dari hidungnya.


"Jadi kamu tahu waktu itu aku sering menangis setiap malam?" tanya Vanya yang tangisannya sudah mereda karena fokus mendengarkan cerita Vano. Ya, meskipun itu juga ceritanya sendiri, tapi dia mau dengar dari sudut pandang Vano.


"Mamp*s gw." sepertinya Vano ada salah dalam bercerita tadi.


...***...


Halo semua, maaf ya kemaren author gak update 😁🙏

__ADS_1


Oh iya jangan lupa mampir ke cerita baru author ya, udah jalan lagi ceritanya 😂



__ADS_2