My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 245


__ADS_3

"Saya...ng..." Fira langsung memelankan suaranya saat melihat adegan di depannya.


"Sayang." kaget Farrel dan menghempaskan tangan sekertaris nya yang ada di dadanya itu.


Tanpa mengatakan apapun Fira segera lari dari sana, tanpa dia sadari air matanya sudah jatuh.


"Fira, sayang." pangil Farrel tapi tak Fira hiraukan.


"Ini semua gara gara kamu, mulai sekarang kamu saya pecat." ucap Farrel sambil menunjuk wajah sekertaris nya.


Farrel pun segera pergi mengejar Fira yang tengah salah paham terhadap dirinya.


Fira berlari tanpa arah hingga sekarang dia berada di trotoar pinggir jalan. Dia mau pulang, tapi dia harus menunggu taksi terlebih dahulu karena tadi dia saat ke sini tidak membawa mobil.


"Sayang tunggu." pangil Farrel dari kejauhan.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang orang yang ada di sana, terutama para karyawan Farrel. Mereka merasa iba pada bos-nya yang tengah berlari mengejar istrinya itu.


Fira yang melihat Farrel semakin dekat dengan dirinya pun berusaha menghindar dari Farrel. Fira juga berlari menjauh dari Farrel, tapi entah mengapa penglihatannya mulai berkurang. Pandangan Fira mulai gelap dan setelah itu dia tidak tahu lagi apa yang terjadi di sana.


"SAYANG." teriak Farrel yang melihat Fira pingsan.


Farrel pun segera berlari dan menghangatkan tubuh Fira dalam gendongannya.


"Sayang bangun, jangan tinggalin aku yank. Aku minta maaf, kamu tadi salah paham sama aku." ucap Farrel mengajak Fira berbicara siapa tahu kan nanti Fira meresponnya. Tapi semuanya nihil, Fira tetap setia diam dalam pingsannya.


"Sayang kamu harus bertahan." lanjut Farrel dan berlari menuju parkiran mobil yang sudah lumayan jauh dari posisi mereka tadi.


"Tolong bantu saya bukain pintu mobil." pinta Farrel pada satpam yang hendak membantunya membawa Fira.


Satpam itu pun segera melaksanakan apa yang di perintahkan tuannya.


"Kalian tahan sekertaris gadungan itu jangan sampai lolos. Tunggu kabar dari saya." setelah mengatakan itu Farrel langsung menancap gas mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


Kedua satpam itu segera mencari di mana orang yang tuannya maksud. Keadaan di kantor sangat heboh, mereka semua pada membicarakan tuan berserta istrinya yang gosipnya seketika memanas.


-


"Sayang kamu tahan ya bentar lagi kita sampai di rumah sakit." ucap Farrel rada rada cemas melihat Fira yang tetap setia memejamkan matanya.

__ADS_1


Farrel menambah kecepatan laju mobilnya hingga sampai di pelataran rumah sakit. Farrel segera turun dan membopong tubuh pingsan Fira masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster, dokter tolongin istri saya." teriak Farrel.


Para suster yang kebetulan ada di depan pun segera mengambil bangkar dan menyuruh Farrel untuk meletakkan Fira di sana. Mereka membawa Fira ke ruangan UGD untuk segera di tanganin oleh dokter.


"Maaf tuan anda tidak boleh ikut masuk." cegah seorang suster melarang Farrel yang akan ikut masuk ke ruang UGD.


"Tapi dia istri saya sus."


"Iya tuan saya tahu, anda mohon menurut demi kenyamanan pasien." tekan suster itu agak berani.


Farrel akhirnya pun menurut, dia berjalan mondar mandir di depan ruangan UGD dengan perasaan yang cemas takut terjadi sesuatu pada Fira.


"Sayang maafin aku, ini semua salah aku. Kalau aja kejadian yang tadi tak terjadi kamu gak akan mungkin pingsan seperti ini." gumam Farrel sambil menatap pintu ruangan UGD.


Farrel sangat merasa bersalah, karena dirinya lah istrinya sampai pingsan dan berakhir masuk rumah sakit seperti ini. Farrel tak menghubungi siapapun karena dia terlalu takut untuk mengatakannya.


Tiba tiba pintu ruangan UGD terbuka menampilkan seorang dokter serta suster di belakangnya.


"Dok gimana keadaan istri saya dok, dia gak papa kan?" Tanya Farrel.


"Sabar tuan, mari ikut saya ke ruangan saya, akan saya jelaskan nanti di sana. Dan setelah ini pasien akan di pindahkan keruang rawat inap." jawab dokter itu.


"Itu pasti tuan." dokter itu pun pergi menuju ruangannya dan di ikuti Farrel di belakangnya.


Sampai di ruangan dokter tadi, Farrel menunggu sejenak hingga akhirnya dokter itu duduk di hadapannya.


"Jadi keadaan istri saya gimana dok?" tanya Farrel tak sabaran.


"Tuan tenang aja, istri anda hanya kecapekan. Dan ada kabar baik lagi untuk tuan serta nyonya." dokter itu menjeda ucapannya.


"Kabar baik apa tuan?" tanya Farrel penasaran.


"Istri anda saat ini tengah mengandung, dan usia kandungannya baru berjalan dua Minggu." jelas dokter itu yang membuat Farrel terdiam membeku.


"Apa dok istri saya hamil?" tanya Farrel tak percaya.


"Benar tuan istri anda tengah hamil." jelas dokter itu lagi yang membuat Farrel sangat sangat senang.

__ADS_1


Inilah kabar yang dia tunggu tunggu selama ini, dia sangat bersyukur karena Tuhan mengabulkan permintaannya yang satu itu. Farrel gak sabar untuk memberi tahu Fira, pasti nanti Fira akan sangat senang sama seperti dirinya.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih dok, terima kasih."


"Ini sudah saya resepkan vitamin serta obat untuk nyonya, silahkan di tebus. Dan nyonya Fira bisa langsung pulang nanti setelah cairan infus nya sudah habis." ucap dokter itu sambil memberikan kertas kecil untuk Farrel dan Farrel pun menerimanya.


"Baik dok, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Farrel.


"Oh iya biar di antar asisten saya, anda kan belum tahu di mana letak kamar nyonya Fira." ucap dokter itu dan di angguki Farrel.


-


"Kita mau kemana Van?" tanya Vanya karena tadi tiba tiba Vano mengajaknya keluar menarik mobil, katanya sih mau jalan jalan.


"Aku mau ajak kamu ke rumah mama, soalnya aku pengen makan masakan mama." jawab Vano.


"Mode ngidam on nih." batin Vanya.


"Oooh, kalau gitu kamu berhenti di depan dulu." pinta Vanya.


"Mau ngapain?"


"Aku mau beli roti dulu buat buah tangan, masak iya kita ke sana gak bawa apa apa." jawab Vanya dan di setujui Vano.


Setelah mendapatkan apa yang di cari, yaitu roti dengan beberapa rasa. Terutama rasa coklat karena Vanya teringat kalau Vino sangat menyukai rasa itu, dirinya juga menyukai rasa coklat jadi Vanya membeli roti dengan rasa coklat dengan jumlah yang banyak. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan menuju kediaman papa William.


Sampai di sana Vano dan Vanya segera turun dari mobil, karena tidak bilang bilang kalau mau ke sana, maka gak ada yang menyambut kedatangan mereka di depan.


"Kakak." heboh Vino yang sepertinya habis main di samping rumah.


"Vino." balas Vanya heboh juga yang membuat Vano menggelengkan kepalanya.


Mereka berdua berpelukan layaknya Teletubbies.


"CK." decak Vano yang merasa cemburu melihat istrinya berpelukan dengan adiknya itu.


"Yuk kak masuk, pasti mama sangat senang kalau tahu kakak ke sini." ajak Vino pada Vanya mengabaikan Vano.


"Yuk." balas Vanya.

__ADS_1


Mereka berdua pun memasuki rumah mewah keluarga William dengan bergandengan tangan, sedangkan Vano yang ada di belakangnya tengah kesal sekaligus marah seperti orang yang kebakaran jenggot.


...***...


__ADS_2