My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 267


__ADS_3

Mereka semua pun mengejar Lucas karena takut Lucas berbuat sesuatu pada Galang.


Sementara itu Asisten pelayan Sri yang melihat itu pun bingung.


"Ada apa ini sebenarnya, tadi nyonya gak pulang, sekarang mereka semua bertindak sangat aneh." gumam asisten pelayan Sri bingung.


Asisten pelayan Sri pun segera berlalu ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk para tuan tuan besar itu.


"Lucas, gimana keadaan Van...."


Bug.


sapaan Galang bukannya mendapatkan balasan dengan manis, tapi malah mendapatkan bogeman dari Lucas.


"Lucas stop." lerai Vano.


Vano segera menahan tubuh Lucas agar tidak berbuat kekerasan kepada Galang.


"Kamu gak papa kan?" tanya papa Wijaya pada Galang.


"Iya Om, Galang gak papa." balas Galang sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Lepasin gw Van, biar gw bunuh dia." berontak Lucas.


"Diem gak Lo, atau mau gw buat lo pingsan." tegas Vano.


Bagaimanapun Galang adalah sahabatnya dari mulai mereka masih kecil, jadi Vano gak tega kalau melihat Galang terluka.


"Tapi Van dia udah...."


"Lo diem sendiri atau gw yang buat lo diem." tegas Vano seketika membuat Lucas terdiam.


"Lo ngapain ke sini Lang?" tanya Vano.


"Gw mau lihat keadaan lo sama tanya keberadaan Vanya yang katanya hilang." jawab Galang.


"Halah lo gak usah sok gak tahu, lo sendiri yang udah culik Vanya kan." sahut Lucas.


"Maksudnya gimana?"bingung Galang.


"Halah lo gak usah ngeles kita udah tahu kalau lo itu pelakunya." balas Lucas.


Posisi Lucas sekarang masih di tahan oleh Vano, karena Vano tahu gimana sifat Lucas yang sangat keras kepala serta memutuskan sesuatu secara sepihak tanpa dipikir terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pelaku apa?" bingung Galang.


"Pelaku penculikan Vanya." jawab seseorang dari belakang mereka semua sehingga membuat semua orang membalikkan badannya untuk melihat siapakah orang itu.


Plak.


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi kanan Galang dari orang itu yang tak lain adalah Sonya. Entah dari mana Sonya datang, yang jelas sekarang Sonya sudah ada di sana.


"Sonya." kaget semua orang, pasalnya seingat mereka tadi Sonya sudah pulang bersama Sisil, tapi ini apa ternyata Sonya masih berada di sini.


"Sorry gw tadi asal masuk mansion Lo." ujar Sonya pada Vano dan di angguki oleh Vano.


"Aku gak nyangka Lang sama kamu, ternyata kamu sejahat itu sampai sampai kamu culik sahabat aku sendiri, bahkan dia juga istri dari sahabat kamu sendiri. Kamu kenapa berubah kayak gini Lang, mana Galang yang aku kenal dulu. Pantas aja kamu akhir akhir ini sering gak ada waktu buat aku, ternyata kamu lagi merencanakan ini sama Cindy." ucap Sonya pada Galang panjang lebar.


"Ini maksudnya apa sih, aku gak ngerti?" bingung Galang.


"Semuanya udah jelas Lang, Cindy udah ngaku kalau pelakunya itu adalah sahabat Vano sendiri dan sahabat Vano itu juga adalah Lo." balas Farrel.


"Bentar, kenapa kalian main tuduh gw gitu aja, sahabat Vano kan bukan cuma gw." tak terima Galang.


"Terus lo mau bilang siapa, gw?" ucap Rangga yang baru saja datang.


"Gw gak nyangka Lang sama Lo, kita udah sahabatan dari lama tapi lo tega lakuin ini sama kita. Belum selesai masalah Vanya, dan sekarang lo main tuduh gw." ucap Rangga penuh kecewa.


"Udah stop, kita bicarakan ini baik baik." lerai papa William.


"Sekarang kalian semuanya duduk, Lucas kamu jangan gegabah dulu. Om minta kamu duduk dengan tenang di sana." ucap papa Wijaya membantu papa William.


Mereka semuanya pun duduk dengan tenang di sofa. Suasana menjadi hening seketika, tak ada yang berbicara di antara mereka sama sekali.


"Ehem." dehem papa William untuk mencairkan suasana.


"Gimana kalau kita tanya langsung saja pada yang bersangkutan." ucap papa William.


"Maksud Om?" tanya Lucas.


"Iya kita bawa Cindy ke sini, terus kita interogasi dia supaya dia bisa ngaku." usul papa William.


"Aku setuju dengan papa, dari pada nanti kita asal main tuduh kan mending kita langsung tanya ke sumbernya." setuju Farrel.


"Ya udah lo hubungi orang di markas suruh bawa Cindy ke sini." perintah Vano pada Farrel dan langsung di laksanakan oleh Farrel.


Farrel menghubungi anak buahnya dan menyuruh mereka untuk membawa Cindy kemari tanpa atek ateknya alias Kia dan Tasya.

__ADS_1


"Gimana?" tanya papa Wijaya.


"Udah pa, mereka akan segera datang ke sini." balas Farrel.


"Permisi tuan, ini minumannya." ucap Sri yang datang bersama dua pelayan yang membawa nampan berisi minuman serta beberapa camilan.


"Letakkan saja di meja." balas Vano.


"Baik tuan " patuh Sri.


Sri pun segera mengintruksikan bawahannya untuk meletakkan minuman serta beberapa camilan itu di meja yang ada di sana.


"Mohon maaf kalau saya lancang tuan, tadi saya dengar nyonya di culik. Apakah itu benar?" tanya Sri setelah menyuruh bawahnya kembali ke dapur.


"Iya Sri istri saya di culik." balas Vano entah mengapa kali ini dia menjadi ramah.


"Ya Allah nyonya, semoga anda selalu baik baik saja." ucap Sri kaget mendengar nyonya-nya beneran di culik.


Tapi Sri gak sengaja mendengar saat dirinya lewat menuju dapur, tapi dia tak memikirkan itu. Mungkin saja dirinya salah dengar. pikir Sri.


"Saya minta doanya sama kamu dan yang lainnya, agar istri serta calon anak saya baik baik saja." ujar Vano.


"Pasti tuan, nyonya orang baik pasti banyak yang mendoakan keselamatan nyonya." balas Sri.


"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu tuan." pamit Sri, setelah mendapatkan anggukan dari Vano, Sri pun segera pergi dari sana.


"Lama banget sih." tak sabar Lucas.


"Lo kira perjalanan dari sini ke markas deket apa?" balas Farrel greget.


"Ya kan bisa naik heli." balas Lucas.


"Rugi bahan bakar mahal." balas Vano yang membuat semua orang ingin tertawa tapi mereka tidak seberani itu.


"Om gak tahu mana yang benar di antara kalian, tapi Om harap kalian sudahi rencana kalian itu sebelum kita bertindak lebih." ujar papa William mengajak Galang dan Rangga berbicara.


Mereka berdua hanya diam dan saling melemparkan tatapan permusuhan. Entah siapa yang benar di antara mereka berdua, hanya author lah yang tahu.


"Om juga gak tahu ada masalah apa kalian sama Vano sampai sampai kalian senekat itu jadi anak buah Aaron." lanjut papa William karena tak mendapatkan jawaban dari mereka berdua.


"Padahal Om sudah mengganggap kalian berdua itu seperti anak Om sendiri. Apapun yang kalian lakukan pasti Om selalu bangga, tapi tidak untuk kali ini. Om sangat kecewa pada kalian." tutur papa William.


Vano hanya diam saja, Vano tahu mana yang benar di antara kedua temannya itu. Tapi Vano ingin melihat lebih jauh lagi, seberapa benci temannya itu terhadap dirinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2