
"Gimana Cin orang suruhan orang itu udah pada datang belum?" tanya Kia pada Cindy.
"Tenang aja, mereka semua sudah bersiap di dalam." balas Cindy.
"Kita mau ngapain sih ke mall, mau belanja apaan emang?" tanya Tasya yang sedari tadi bingung sendiri.
"Mau benerin otak lo." sahut Kia judes.
"Iiih Kia jahat banget sih, masak otak Tasya mau di benerin kan nanti di obok obok otaknya." balas Tasya yang membuat Kia ingin sekali memakannya.
"Udah gak usah lo ladenin, biarin aja dia bingung kayak gini asal jangan lo bukain pintu sama jendela mobil aja, nanti yang ada malah ketahuan kita."ujar Cindy agar Kia tidak membuang buang waktu untuk meladeni Tasya.
"Habisnya gw gedeg banget liat mukanya yang sok polos itu." balas Kia kesal.
"Udah kita fokus ke misi kita aja." ucap Cindy.
"Trus ini kita mau ngapain dulu?" tanya Kia.
"Kita masuk jangan kupa gunain masker Lo, terus nanti kita bantu yang lain di dalam. Lo hanya perlu ngikutin kata gw aja nanti, dan tugas Lo yang paling penting adalah jaga tuh anak." terang Cindy.
"Dih ogah gw, mendingan lo suruh gw maling di dalam aja dari pada harus jagain tuh anak." tolak Kia.
"Udah lo nurut aja, nanti kalau tuh anak banyak tingkah tinggal lo ancen aja."
"Hufft... baiklah."
Mereka bertiga pun turun dari mobil menuju tempat di mana Vanya berada, tak lupa mereka menggunakan masker dan Kia yang memegangi tangan Tasya dengan erat agar tidak lepas.
-
"Van ini bagus gak?" tanya Fira meminta pendapat Vanya soal tas yang dia pegang.
Ya, sekarang mereka pindah ke toko tas branded setelah mendapatkan semua perlengkapan bayi.
"Bagus, tapi menurut aku lebih bagus yang di belakang kakak." jawab Vanya sambil menunjuk tas yang tepat berada di belakang Vanya.
"Ya ini." tanya Fira sambil mengambil tas yang Vanya maksud.
"Iya itu keknya cocok banget sama kakak." balas Vanya.
"Iya sih, tapi aku gak suka perpaduan warnanya."
"Eemmm... gimana kalau yang ini." ucap Vanya sambil mengambil tas yang menarik perhatiannya.
"Nah ini baru bangus, "Seru Fira mengambil tas itu dari tangan Vanya.
"Ya udah kakak ambil aja." balas Vanya.
__ADS_1
"Ehh tapi Van, kakak ngutang uang dulu sama kamu gak papa kan, nanti kalau awal bulan kakak kasih." bisik Fira pada Vanya agar Farrel yang tengah duduk bersama Vano dan Rangga tidak mengetahuinya.
"Loh, emang kakak gak di kasih uang sama kak Farrel?" tanya Vanya ikutan berbisik juga.
"Bukannya gak di kasih, tapi aku gak enak sama dia. Kemaren aku baru beli album dan sekarang masak mau beli tas, kan aku merasa gak enak. Mana aku gak kerja lagi." jelas Fira.
"Oooh gitu, ya udah nih kakak pakai aja." menyodorkan black card pada Fira.
"Ayo sama kamu, kakak gak enak kalau sendirian."
"Ehh tapi kamu beli apa?" lanjut Fira pasalnya dia tidak melihat ada barang yang Vanya ambil.
"Aku gak beli dulu deh kak, di rumah soalnya masih ada yang belum aku pakai. Lagian modelnya di sini gak ada yang menarik perhatianku." jawab Vanya.
"Oooh gitu, ya udah ayo." ajak Fira.
Mereka berdua pun pergi ke tempat kasir dan membayar tas yang Fira suka. Sedangkan Sonya dan Sisil, mereka tengah sibuk memilih beberapa tas yang ada di sana. Setelah selesai mengantar Fira, Vanya pun menghampiri kedua sahabatnya.
"Gimana kalian ada yang cocok gak?" tanya Vanya.
"Gw bingung Van, mau beli yang ini apa yang ini." ucap Sonya menunjukkan tas punggung yang sepertinya akan Sonya gunakan buat sekolah.
"Kalau menurut gw sih yang ini aja kalau mau buat sekolah. Kan enak tuh besar bisa muat banyak barang." balas Vanya.
"Bener juga sih, ya udah gw mau ambil yang ini aja." putus Sonya.
"Belum, semua harganya gak ada yang bersahabat." balas Sisil.
"Ya elah sih gaya lo pakai liat liat harga, biasanya juga langsung comot aja." sahut Sonya.
"Gw udah berubah gak kayak dulu lagi yang suka menghambur hamburkan uang." balas Sisil.
"Oooh gitu, ya udah lo beli di tanah abang aja, kan murah tuh bisa nawar."
"Enak aja kamu kalau ngomong, aku aja seumur hidup aku gak pernah tuh beli di tanah Abang."
"Masak." tak percaya Vanya.
"Iya, bener dah. kalau kalau pakai produk yang ada di tanah abang aku pernah."
"Apa?"
"Masakan bibi di rumah, kan bibi kalau belanja biasanya di pasar."
"Iya dah serah lo Sil, udah yuk kita cari yang lain." ajak Vanya.
"Bentar gw bayar dulu." ucap Sonya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan menuju kasir, Vanya berada pada barisan paling belakang sendiri di belakang Fira.
Tanpa mereka ketahui kalau ternyata sedari tadi aktivitas mereka tengah di pantau oleh beberapa orang. Melihat ada kesempatan, salah satu orang dari di antara orang orang yang memantau Vanya dan yang lainnya pun mendekat hendak membius Vanya agar pingsan.
"Hmmtt...." Vanya berusaha meminta tolong pada temen temennya yang berada di depannya pun tak bisa, lantaran dirinya di bius sangat kuat hingga membuat kesadarannya mulai menghilang dan dia juga di seret menjauh ke belakang.
Posisi Vanya dan teman teman tadi itu tertutup jika di lihat dari arah Vano, oleh karena itu Vano tidak tahu kalau istrinya tengah gak ada.
Drrtt drrtt drrtt.
Getar ponsel Vano membuat Vano segera melihat siapa gerangan yang menelfon dirinya.
'Ada apa?' tanya Vano to the poin saat panggilan sudah terhubung.
'Kalian ada di mana?' tanya Lucas.
'Kita lagi ada di mall belanja keperluan bayi.' jawab Vano.
'Gw minta sama lo harus tetap jaga Vanya jangan sampai lo lepas, karena di sana posisinya tidak aman. Banyak orang yang mengintai kalian.' jelas Lucas.
'Maksud Lo....'
"Van, Van, Vanya lo dimana Van?" teriak Fira mencari keberadaan Vanya yang membuat Vano tak lagi melanjutkan ucapannya pada Lucas.
'Tuh kan, udah gw tebak pasti ini bakal terjadi.' ucap Lucas dari sebrang sana.
'Sebaiknya lo cepet-cepet cari istri lo sebelum mereka membawanya semakin jauh.' lanjut Lucas.
Tut.
Vano mematikan sambungan telepon dan segera berlari menghampiri Fira dan yang lainnya.
"Ada apa Fir?"tanya Vano.
"Vanya, Vanya hilang Van." balas Fira masih linglung.
"Hilang gimana, bukannya tadi sama kalian?" sentak Vano marah.
"Iya tadi kita bersama, cuma tadi waktu mau ke tempat kasir Vanya di belakang aku dan setelah aku tengok ke belakang ternyata Vanya udah gak ada." jelas Fira.
"AAAGRRR." teriak Vano frustasi karena dirinya kecolongan.
"Farrel perintah semua anak buah buat mencari Vanya, dan kalian semua berpencar di sini." perintah Vano dan segera pergi mencari Vanya di daerah situ, karena Vano yakin kalau Vanya belum jauh perginya.
Sementara yang lainnya pun segera melakukan perintah Vano, mereka juga ikutan mencari cari Vanya di sekitar sana dan mengecek cctv, tapi sepertinya cctv sudah di rentas oleh orang orang itu sehingga mereka tidak bisa menemukan apa apa.
...***...
__ADS_1