
Vano dan Vanya sampai di depan markas mafia WD. Vanya mengeryitkan dahinya melihat bangunan yang ada di hadapannya seperti tidak terurus.
"Kita ngapain ke sini Van?" tanya Vanya.
"Lah, bukannya kamu yang minta anter ke sini?" jawab Vano.
"Udah ahh ayo masuk, nanti kamu tahu sendiri di dalam." Lanjut Vano mengajak Vanya masuk ke dalam.
Vanya pun menurut saja, dia juga kepo dengan keadaan di dalam.
"Selamat datang King." sambut beberapa orang yang memakai baju hitam pada Vano.
"Hmm."
"Di mana mereka?" tanya Vano.
"Mereka ada di ruangan bawah tanah King." jawab salah satu dari mereka.
Vanya diam saja, dia terkagum kagum dengan ornamen serta dekorasi dalam bangunan itu. Ternyata apa yang orang orang bilang ada benarnya, jangan menilai sesuatu dari luar kalau belum melihat dalamnya. Seperti bangunan ini, dari luar nampak seperti bangunan tak terurus. Tapi saat sudah masuk ke dalam, kalian akan di suguhkan dengan pemandangan indah ornamen ornamen di dinding.
"Antar saya ke sana."
"Baik king."
Vano pun tetap menggenggam tangan Vanya, membawanya mengikuti anggota WD yang memimpin jalan ke ruang bawah tanah. Sebenarnya Vano sudah tahu letak ruangan itu, tapi alangkah baik jika membawa anak buah, takut takut nanti Vano membutuhkan sesuatu.
"Kita mau ke mana Van?" bisik Vanya, karena saat ini lorong lorong yang Vanya lewati makin lama makin agak redup pencahayaannya.
"Kamu akan tahu sendiri nanti, ingat jangan jauh jauh dari aku." jawab Vano yang di angguki Vanya.
Sampai di ruangan bawah tanah, indra penciuman Vanya menangkap bau amis darah yang makin lama makin menyengat. Vanya menahan dirinya agar tidak muntah di sana, dia harus kuat kalau mau mengetahui keadaan bibi Fen dan Marvel.
"Kamu kenapa, ada yang sakit?" khawatir Vano saat melihat Vanya yang menutupi hidungnya.
Vanya mengelengkan kepalanya dan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Sini kamu." pangil Vano pada salah satu anggota WD yang mengantarnya tadi.
"Iya tuan." menghampiri Vano.
Vano membisikkan sesuatu pada orang itu dan setelah itu orang itupun pergi entah kemana Vanya tidak tahu.
__ADS_1
"Yuk kita lanjutin perjalanannya." ajak Vano.
Mereka pun berjalan ke ruangan paling ujung sendiri, dan ruangan itu lah yang pencahayaannya paling terang.
"Kenapa berhenti?" tanya Vanya belum melihat ke dalam ruangan yang ada di sampingnya.
"Tuh." tunjuk Vano dengan dagunya pada ruangan sebelah Vanya berhenti.
Vanya pun menoleh ke arah yang Vano tunjuk, dan betapa kagetnya dia saat melihat keadaan bibinya Farrel yang tengah menyayat kulitnya sendiri dengan pisau kecil. Bahkan baju yang terakhir kali bibinya Farrel pakai pun sudah tak berbentuk. Banyak robekan di mana mana dan darah yang sudah mengering di sana.
"Dia kenapa?" tanya Vanya pada Vano.
"Seperti yang kamu lihat, dia akan terus menyiksa dirinya sendiri hingga dia mati nanti." jawab Vano dengan datar.
Saat memasuki markas tadi, Vano selalu menampilkan wajah yang datar tak ada senyum sama sekali di wajahnya. Vanya mengerti akan itu, mungkin Vano menjaga nama baiknya sebagai pewaris mafia ini.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Vanya lagi.
"Aku suruh Farrel buat menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya, dan sesuatu itu sudah bereaksi. Jadi ya gini." jelas Vano.
"Apakah itu bisa di sembuhkan?" pertanyaan Vanya yang kali ini membuat Vano menatap Vanya dengan penuh arti.
"Bukan, bukan begitu maksud aku, kamu jangan salah faham dulu. Kan kalau dia kayak gini meskipun dia menyiksa dirinya sendiri sesakit apapun, dia kan tidak bisa merasakan rasa sakit." jelas Vanya agar Vano tidak salah faham.
"Kata siapa dia gak merasakan rasa sakit hmm?"
"Emang bisa?"
"Aku hanya membuatnya gila dan selalu menyakiti dirinya sendiri bukan menghilangkan rasa sakitnya." jelas Vano.
"Jadi meskipun dia gila dia masih bisa merasakan rasa sakit."
"Tentu saja, aku tidak sebodoh itu sayang. Ngebiarin orang yang udah bikin istri aku trauma selama beberapa tahun hidup dengan tenang tanpa penderitaan, itu tidak ada dalam kamus Geovano Alexander William."
Vanya kaget, bagaimana mungkin Vano tahu akan maksud dirinya bertanya seperti itu. Vano tahu kalau Vanya sebenarnya ingin ngasih pelajaran buat bibi Fen.
"Kenapa, kamu pasti bertanya tanya kenapa aku bisa tahu apa yang kamu pikirkan bukan?" lanjut Vano yang tahu isi pikiran Vanya.
"Iya, kamu kok bisa tahu." tanya Vanya.
"Kan hati kita udah nyatu, jadi aku tahu semua yang kamu mau." gombal Vano.
__ADS_1
"Gombal."
"Permisi King, ini yang King minta tadi." ucap salah satu anggota WD yang tadi pergi setelah Vano bisiki sesuatu, dia menyerahkan dua buah masker pada Vano.
Vano menerima itu dan memakaikannya pada Vanya dan yang satunya lagi dia pakai.
"Kamu kok tahu kalau aku gak suka bau di sini?" heran Vanya.
"Kan aku sudah bilang tadi, hati kita itu udah nyatu, makanya aku tahu apa yang kamu rasakan dan kamu inginkan." jawab Vano dengan gombalan recehnya.
"Hadeh..."
"Kamu gak percaya?" tanya Vano.
"Iya iya aku percaya." seperti biasa Vanya akan mengalah dari pada nanti makin panjang.
"Nah gitu dong, itu baru istrinya Vano." mengelus rambut Vanya.
"Apaan sih Van, banyak orang itu loh."
"Emang kenapa, mereka juga udah pada tahu kalau kamu istri aku."
"Tapi kan gak enak Van..."
"Kata siapa, orang mereka fine fine aja kok."
Para anggota WD yang ada di sana pun kaget melihat sikap dan tingkah Vano bisa sehangat itu pada Vanya, padahal selama ini yang mereka tahu kalau anak dari tuannya itu sikapnya sebelas dua belas dengan papanya. Alias dingin banget.
"Iya dah terserah kamu aja. Oh iya kalau Marvel di mana dia?" tanya Vanya mengalihkan pembicaraan.
"Oh si lumpuh. Tuh ada di kamar situ." menunjuk ruangan sebelah tempat bibi Fen.
Vanya pun segera berjalan ke sana di ikuti Vano di belakangnya. Vanya membuka pintu ruang itu, ruangannya beda dari yang lain. Kalau yang lain ada sel besi dan bisa secara langsung melihat keadaan di dalam, tapi kalau yang tempat Marvel itu tertutup. Entahlah kenapa bisa berbeda Vanya juga tidak tahu.
Ceklek...
Vanya membuka pintu itu dan sama seperti tadi, dia kaget melihat keadaan Marvel yang tubuhnya sudah berubah drastis dari yang terakhir kali Vanya lihat. Sekarang tubuhnya lebih kurus dari yang dulu dan wajahnya juga sudah kusut dan jangan lupakan tubuhnya yang tidak bisa bergerak.
"Ini kenapa bisa sampai begini Van?" tanya Vanya pada Vano.
...***...
__ADS_1