My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 96


__ADS_3

Vano. Kamu kenapa sih, aneh banget." pancing Vanya agar Vano ngomong kalau ingatannya sudah balik.


"Aku aku ..."


"Aku apa hmm?" kalau tadi pagi Vanya di buat bungkam oleh Vano sekarang gantian Vano yang di buat bungkam oleh Vanya.


"Ya kan aku udah tobat." jawab Vano.


Vanya tersenyum mendengar itu, ternyata meskipun sudah di pancing pun Vano tetap gak mau bicara jujur.


"Ooh udah tobat ya, aku kira ada sesuatu gitu yang mau kamu omongin." pancing Vanya lagi berharap Vano mau jujur.


"Eemm gak ada sih, emang aku mau ngomong apa." berusaha menutupi kebohongannya.


"Ya mungkin aja kan."


"Gak ada kok sayang. Gemes deh." mencubit pipi Vanya.


"Sakit tauk, apaan coba pangil sayang sayang segala." melepaskan tangan Vano dari pipinya.


"Emang gak boleh suami pangil istrinya sayang."


"Emang aku istri kamu?" pancing Vanya trus.


"Iya lah kan kita udah nikah."


"Masak sih, kapan emangnya kita nikah."


"Dulu waktu aku habis keluar dari rumah sakit." jawab Vano cepat.


"Rumah sakit? Emang kamu ngapain di rumah sakit?" tanya Vanya lagi mencecar Vano dengan berbagai pertanyaan.


"Kan sakit abis di gigit ular waktu nyari kamu di hutan." jawab Vano tanpa sadar.


"Kok kamu tahu, bukannya kamu hilang ingatan ya?" menaikkan sebelah alisnya.


DAMN.


Vano kejebak.


"Ya ya ya..."


"Apa hmm?"


"Ya udah aku jujur sama kamu kalau sebenarnya ingatan aku udah balik." ucap jujur Vano.


"Ooh." jawab Vanya membuat Vano melotot.


"Kok kamu biasa aja sih, bukannya senang ingatan aku udah balik ini malah biasa aja."


"Trus aku harus jingkrak jingkrak gitu." balas Vanya.


"Ya gak gitu juga, kasih pelukan kek atau apa gitu."


"Dih ngarep. Orang aku udah tahu kalau ingatan kamu udah balik." Vanya menarik selimut untuk dia lilitkan ke tubuhnya yang telanjang.


"Ehh mau ngapain kamu, dan sejak kapan kamu tahu kalau ingatan aku udah balik." kaget Vano menahan selimut yang menutupi tubuhnya juga.


"Apa sih Van, lepas dong aku mau mandi udah gerah banget badan ku. Aku tahu tadi waktu kamu ngomong sama aku." Berusaha menarik selimutnya lagi.


"Oh jadi tadi kamu pura pura belum bangun gitu." mempertahankan selimutnya.

__ADS_1


Terjadi adegan tarik menarik selimut tetangga, itu mah lagunya republik.


"Kalau iya kenapa." menampilkan raut wajah garangnya.


"Sini aku hukum, berani beraninya kamu ngerjain aku dari tadi." menghampiri Vanya dan mendekap erat tubuh Vanya yang masih polos tanpa sehelai benang pun.


"Iiiss Van, lepasin aku mau mandi." menarik selimut lagi dan itu berhasil, tapi matanya melihat sesuatu milik Vano yang tengah dalam mode on.


"VANO." teriak Vanya sambil menutup matanya mengunakan kedua telapak tangannya.


Vano terkekeh melihat Vanya yang malu melihat adiknya.


"Salah kamu sendiri, kan tadi udah aku tahan selimutnya biar gak ke buka, ehh kamu malah ngeyel. Lagian ngapain pakai tutup mata segala sih kan kamu udah pernah lihat." menarik tangan Vanya agar membuka dua bola matanya.


"Buka mata kamu."


"Gak mau." tolak Vanya dan tetap kekeuh menutup matanya meskipun tidak ada tangan yang menghalanginya lagi.


"Sayang buka matanya dong, aku cium nih." mendengar itu dengan refleks Vanya membuka kedua bola matanya dari pada harus di cium lagi sama Vano kan gak lucu.


Tapi Vanya tidak menatap ke arah bawah, Vanya menatap ke atap langit langit kamarnya.


"Kok lihat ke atas sih, liat sini dong."


"Gak mau."


"Kenapa sih hmm?"


"Aku malu Vano....."


Vano beranjak mencari celana bokser miliknya yang dia lempar tadi. Setelah ketemu Vano segera memakainya.


"Udah liat sini."


"Liat sini." memaksa kepala Vanya agar menunduk.


"Apa? Kamu ngarepin liat apa hmm? Orang aku udah pakai celana kok." menatap Vanya malu Vanya.


Vanya menelan ludahnya kasar saat melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak sekarang Vano hanya memakai celana bokser saja tanpa baju apapun yang memperlihatkan roti sobek punya Vano yang terlihat sangat seksi.


"Kenapa mau pegang?" tanya Vano yang mengerti kemana arah mata Vanya memandang.


Vanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dari perut Vano.


"Sini aku bantu ke kamar mandi." mau mengendong Vanya.


"Gak usah aku bisa sendiri kok." tolak Vanya.


"Yakin?"


"Iya aku bisa sendiri kok." melilitkan selimut hingga lehernya.


"Gak usah di tutup, aku udah lihat semuanya." ucap Vano mau membuka lilitan selimut yang ada di tubuh Vanya.


"Vanoooo..." menatap tajam Vano.


"Hehehe jangan marah, nanti tambah cantik loh."


"Tau ahh, minggir sana."


"Yakin bisa sendiri?" tanya Vano lagi sambil mengoda Vanya.

__ADS_1


"Iya. Auwss...." ringis Vanya saat akan melangkah.


"Tuh kan." mengangkat tubuh Vanya tanpa persetujuan dari Vanya.


"VANO." refleks Vanya melingkarkan tangannya di leher Vano.


"Udah diam." melangkah kakinya ke kamar mandi.


Sampai di kamar mandi, Vano mendudukkan Vanya di atas closed. Dan dia menyiapkan air hangat di bak mandi untuk Vanya.


Hati Vanya menghangat melihat perhatian Vano, dia jadi teringat saat pertama kali Vano menyentuh tubuhnya, bukan perhatian yang dia dapat melainkan rasa sakit yang dia peroleh.


Vanya bersyukur karena ingatan Vano sudah kembali, dia sangat senang tapi nanti saja ngomongnya sama Vano, sekarang dia masih ingin memberi pelajaran buat Vano dengan pura pura tak perduli.


"Air hangatnya sudah siap, mau sekalian aku mandiin." tawar Vano dengan senyum mesumnya.


"Gak usah aku bisa mandi sendiri." jawab jutek Vanya.


"Yakin nih, aku juga bisa loh sekalian mijitin kamu."


"Gak usah, aku yakin kamu bukan cuma mau mijitin aku aja tapi ada yang lain." tolak Vanya.


"Udah sana kamu keluar aku mau mandi." usir Vanya.


"Ya udah aku keluar dulu, nanti kalau perlu sesuatu kamu pangil aku." Vano menghentikan aksi usilnya, dia sudah kasian liat wajah lelah Vanya akibat ulahnya tadi.


-


Vano dan Vanya sudah berganti baju, sekarang mereka tengah berada dalam mobil karena tadi setelah mandi Vanya mengeluh lapar dan kebetulan Vano juga lapar karena sedari pagi dia belum makan.


Sebenarnya tadi Vanya mau masak tapi segera di cegah oleh Vano, karena Vano merasa kasian jika Vanya harus capek capek masak lagi. Akhirnya Vano pun mengajak Vanya untuk makan di luar sekalian jalan-jalan kata Vano.


"Kamu mau makan apa?" tanya Vano sambil menyetir mobil sport terbaru yang baru dia beli saat berada di Italia kemaren.


"Terserah." jawab singkat Vanya.


Seperti kebanyakan wanita di luaran sana, jawaban Vanya membuat Vano bingung.


"Emmm... Gimana kalau kita makan seafood aja." usul Vano.


"Aku lagi gak pengen makan masakan laut." tolak Vanya.


Vano mikir lagi, makanan apa ya yang di sukai Vanya. pikir Vano.


"Bagaimana kalau steak daging aja." usul Vano lagi.


"Aku udah bosan makan steak, masak steak mulu sih yang lain napa." tolak Vanya lagi.


"Sushi."


Vanya mengelengkan kepalanya.


"Aku tahu, kamu kan suka ala ala Korea gitu, bagaimana kalau kita makan kimchi aja."


"No, aku udah bosan makan kimchi."


Kesabaran Vano tengah di uji oleh Vanya, Vano harus menyiapkan stok kesabaran yang banyak untuk menghadapi Vanya kali ini.


"Trus kamu mau makan apa Vanya ku sayang." tanya Vano greget.


"Ya terserah."

__ADS_1


Rasanya Vano ingin menghilang saja dari muka bumi ini, beginikah rasanya menghadapi wanita. Pantesan banyak orang yang mengeluh menghadapi wanita, ternyata rasanya sangat menyiksa. Lebih baik menghadapi 20 preman dari pada harus berhadapan dengan wanita. pikir Vano.


__ADS_2