My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 102


__ADS_3

"Silahkan kalian duduk." perintah papa Wijaya pada kedua orang dewasa yang tingkahnya seperti bayi.


Vano dan Farrel pun patuh, mereka duduk anteng di sofa yang ada di dalam ruang kerja papa Wijaya. Mereka saling melemparkan tatapan sengit.


"Apa!" ucap Vano pada Farrel.


"Apanya?" balas Farrel.


"Sudah sudah kalian ini kayak Vino aja." lerai papa Wijaya.


"Vino siapa pa?" tanya Farrel, karena dia baru mendengar nama itu. Sedangkan Vano hanya mendengus kesal, lantaran dia di samakan dengan adiknya.


"Siapa lagi kalau bukan adiknya Vano." jawab papa Wijaya.


"Lo punya adik Van?" tanya Farrel tak percaya.


"Hmm." jawab Vano gak mood.


"Wah pasti seru tuh, btw pasti adik lo ganteng trus imut, manis gemesin dan gak narsis kayak lo kan?" tebak Farrel dengan pedenya.


"Iya, dia gak kayak gw. Adik gw anaknya penurut dan gak berani kepada orang tua dan gak narsis juga." jawab Vano yang membuat papa Wijaya menahan tawanya.


"Ppfftt. Udah Rel kamu jangan tanya tentang Vino, nanti kalau kamu udah ketemu sama dia, kamu pasti tau bagaimana kelakuannya. Oh ya saran dari papa nanti seandainya kamu ketemu sama Vino kamu harus ajak dia ngobrol banyak banyak, trus kamu harus bilang sama dia kalau kamu itu orang kaya plus ganteng di China." ucap papa Wijaya panjang lebar.


"Wah pasti adik Vano asik tuh gak kayak kakaknya." seru Farrel.


"Asik banget malah." timpal Vano malas.


Dalam hati Vano menggerutuki apa yang dia ucapkan barusan, bisa bisanya dia memuji adiknya yang tak ada apa apanya bila di bandingkan dengan dirinya.


"Udah lupain soal Vino, sekarang papa mau bicara serius." tegas papa Wijaya.


"Papa dengar kamu sudah bergabung dengan dunia gelap. Apa itu benar?" lanjut papa Wijaya bertanya pada Vano.


"Iya pa." jawab Vano.


"Saran papa kamu gunakan itu dengan baik, dan papa minta kamu bisa menjaga istri juga anak anakmu kelak."


"Baik pa, Vano janji akan berusaha menjaga keluarga Vano dari orang orang yang berusaha untuk menyelakai keluarga Vano." janji Vano.


"Dan kamu Farrel, jika kamu masih ingin merebut apa yang kamu punya dari bibimu saran papa mending kamu ikut gabung dengan Vano, karena papa yakin bibi kamu tidak akan tinggal diam setelah tau kamu masih hidup."


"Maksud papa, aku harus masuk dalam dunia gelap gitu?" tanya Farrel.


"Iya kamu harus gabung dengan kelompok mafia, karena papa juga yakin jika bibi kamu pasti meminta bantuan dari kelompok mafia juga. Bagaimana mungkin bibimu yang seperti itu bisa merencanakan hal yang sangat keji jika tidak ada campur tangan dunia gelap."


"Baik pa, Farrel akan ikut gabung." setuju Farrel demi membalaskan apa yang bibinya lakukan pada keluarga Farrel.

__ADS_1


Vano hanya menyimak saja apa yang kedua orang itu bicarakan, dia belum tahu masalah apa yang menimpa Farrel selama ini.


"Kamu bisa kan Van ngajarin Farrel?" tanya papa Wijaya pada Vano.


"Bisa pa, papa tenang aja Vano akan ajarin kak Dean, ehh maksudnya kak Farrel buat naklukin cewek." canda Vano yang di hadiahi tabokan oleh Farrel.


Plak.


"Sembarang kalau ngomong, gini gini gw idaman para cewek-cewek waktu kuliah dulu." ucap Farrel tak terima.


"Papa serius Vano." tegas papa Wijaya.


"Hehehe becanda pa maaf. Iya Vano bakal ajarin kak Farrel, papa tenang aja." jawab Vano cengengesan.


"Papa harap suatu saat nanti jika kalian ada masalah kalian harus saling bantu satu sama lain, papa juga percayakan keamanan Vanya pada kalian terutama kamu Vano."


"Iya kita janji bakal jagain Vanya sesuai apa yang papa minta." janji Vano dan di angguki Farrel.


"Lo tenang aja kak, gw bakal bantu lo apapun itu, meskipun sekarang gw belum tahu apa masalah yang lo alami." ucap tulus Vano.


"Thanks Van."


Mereka bertiga terus mengobrol membicarakan masalah perusahaan dan Farrel juga menceritakan tentang masalahnya pada Vano di depan papa Wijaya tanpa ada yang di tutup tutupi.


-


"Sayang..." pangil Vano manja saat memasuki kamar Vanya.


"Kangen." menyingkirkan laptop Vanya dan menggantinya dengan Vano yang tiduran berbantalan paha Vanya.


"Iiiss apa apaan sih Van, orang lagi seru serunya juga." omel Vanya.


"Biarin, lagian ngapain sih nonton begituan, mending manja manjaan sama aku." mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, udah sana aku mau lanjut nonton." berusaha menyingkirkan kepala Vano dari pahanya.


"Iih apaan sih gak mau aku." lingkarkan tangannya di pinggang Vanya sambil mendusel duselkan kepalanya di perut Vanya.


"Hahaha geli Van, stop." pinta Vanya.


"Gak mau." terus mendusel duselkan kepalanya di perut Vanya.


"Vano stop." mohon Vanya tapi tak di hiraukan oleh Vano.


Bukannya berhenti Vano malah semakin menaikkan baju Vanya hingga terpampang perut rata Vanya yang putih mulus.


"Hai anak papa, sehat sehat ya di sana." ucap Vano di depan perut Vanya.

__ADS_1


"Kamu ngomong sama siapa sih Van?"


"Ngomong sama anak ku lah." jawab Vano.


"Hah. Maksudnya gimana?" bingung Vanya.


"Iya anak aku yang kemarin aku tanam." jawab Vano ambigung yang membuat Vanya semakin gak ngerti.


"Tanam? Emang kamu punya ladang?" bingung Vanya.


Vano bangkit dari posisi tidurannya berganti mencubit pipi Vanya gemas.


"Ya Allah istri ku yang paling syantik dan paling seksi kamu polos banget sih, masak gitu aja gak ngerti."


"Auw sakit tauk." melepaskan paksa tangan Vano dari pipinya.


"Atututu mana yang atit, sini aku tium."


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Kecupan bertubi-tubi Vano berikan pada Vanya, mulai dari pipi kanan kiri yang memerah akibat cubitannya di lanjut ke dahi, hidung hingga mulut dan diam di sana.


Tak ada pergerakan dari bibir Vano, mereka berdua saling tatap mata satu sama lain. Tersirat ada rasa cinta yang tak bisa di ungkapkan lewat kata-kata. Setelah beberapa saat bertatapan Vano mulai mengerakkan bibirnya dan Vanya pun memejamkan matanya menikmati luma**n yang Vano berikan pada bibirnya.


Vanya memberi akses buat Vano untuk mengabsen setiap jengkal yang ada di dalam mulutnya dan Vano pun melakukannya, awalnya sangat lembut tapi lama kelamaan *******n itu semakin kasar dan penuh naf**.


Vanya mengalungkan tangannya di leher Vano dan tangan Vano pun mulai menjalar kemana-mana, Vano meraba punggung Vanya setelah itu ke depan dada Vanya.


Vano membuka baju yang Vanya kenakan setelah itu membuangnya ke segala arah.


Mereka terus menikmati kegiatan itu hingga tubuh mereka full naked.


"Aku masukin ya yank." mohon Vano.


Vanya pun mengangguk. Dengan semangat 45 Vano pun berusaha memasuki Vanya dan...


Tok tok tok.


"****."

__ADS_1


...***...


Hehehe maaf garing cerianya 😁🙏


__ADS_2