My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 285


__ADS_3

"Namanya adalah...."


"VIANO ALEXANDER WILLIAM." Lanjut Vano menyebutkan nama anaknya.


"Gimana suka gak?" tanya Vano.


"Suka, Bagus kok." balas Vanya.


"Hai baby Vian." sapa Vanya pada anaknya.


"Permisi tuan, nyonya Vanya akan kami pindahkan ke ruang rawat." ujar dokter yang tadi menangani persalinan Vanya.


"Baik dok silahkan." balas Vano.


Dengan bantuan Vano Vanya berpindah posisi menjadi duduk di kursi roda, baby Vian sudah di ambil lagi oleh dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.


Vanya di bawa menuju ruangan VVIP yang sudah Vano siapkan. Ruangannya berada di lantai teratas, di sana jugalah Vano mandi tadi.


"Cucu mama mana?" tanya mama Fara saat Vanya sudah berbaring kembali di ranjang yang lebih nyaman tentunya.


"Lagi di periksa sama dokter ma, tunggu aja sebentar lagi pasti juga bakalan di bawa ke sini." balas Vano.


Dan benar saja, beberapa suster datang membawa anak Vano dan menyerahkannya pada Vanya lagi. Dan setelah itu beberapa suster itu pun pamit undur diri.


"Sini biar mama gendong." pinta mama Fara.


Vanya pun membiarkan anaknya bersama Oma nya, dan dia akan istirahat kembali.


"Kamu tidur aja, nanti kalau sudah waktunya minum obat aku bangunin kamu." suruh Vano.


Vanya pun menuruti perintah Vano, karena dia juga sudah merasa sangat lelah.


"Aduh gantengnya cucu Oma, siapa ini namanya?" tanya mamanya Fara mengajak anak Vano berbicara.


"Namanya Viano Alexander William Oma." jawab Vano.


"Wah namanya bagus banget baby Vian." ujar mama Fara.


"Mama mama Vino mau cium dong." ucap Vino.


"Oooh paman Vino mau cium adik Vian ya, sini sini."


Cup.


Vino mengecup pipi gembul baby Vian.


"Baby Vian nanti kalau udah besar main sama Vino ya." ucap Vino mengajak baby Vian berbicara.

__ADS_1


"Iya Abang." balas Vano menirukan suara anak kecil.


"Far gantian dong, aku kan juga mau gendong cucuku." pinta mama Vani.


"Nih."


Mereka pun bergantian mengendong baby Vian satu persatu. Hingga sekarang tepat berada di gendongan papa Wijaya.


Tok tok tok.


Ketukan pintu dari luar.


"Masuk." suruh Vano.


Orang itu pun masuk, orang itu adalah salah satu anggota WD yang berjaga di markas.


"Ada apa?" tanya Vano.


"Tawanan kita di negara X sedang sekarat tuan." jawab orang itu.


"Maksud kamu Cindy?" tanya Farrel memastikan.


"Benar tuan, nona Cindy terkena penyakit HIV, karena di sana peralatan rumah sakitnya tidak memadai sehingga sekarang kondisi nona Cindy semakin memburuk tuan." jelas orang itu.


"Astaghfirullah, kasian banget dia." ujar mama Vani.


"Bawa dia pulang ke Indonesia dan tempatkan dokter yang profesional untuk menanganinya." perintah Vano.


"Baik tuan."


"Izin angkat telfon tuan." izin orang itu.


"Hmm." balas Vano mengizinkan.


Orang itu pun menggangkat telfonnya, sepertinya itu adalah masalah yang serius hingga membuat orang itu sampai serius mendengarkannya.


"Ada apa?" tanya Vano setelah orang itu mengakhiri panggilan telepon nya.


"Lapor tuan, tawanan sudah merenggang nyawanya barusan." lapor orang itu yang membuat semuanya syok tak percaya.


"Ya Allah kasian banget dia." ucap mama Fara.


"Dan jenazahnya akan di makamkan di sana tuan, karena tidak di izinkan membawa jenazah yang terkena virus HIV terbang jauh ke sini." lanjut orang itu.


"Suruh mereka memakamkannya dengan layak." perintah Vano.


"Baik tuan." balas orang itu.

__ADS_1


Setelah itu orang itu pamit pergi dari sana, karena jika berlama-lama takut mengganggu keharmonisan keluarga mereka.


"Van, kamu gak ada niatan buat bebasin yang lain?" tanya mama Fara.


"Entahlah ma, Vano juga tidak tahu." balas Vano.


"Mama sih terserah sama kamu, cuma pesan mama kamu jangan jadi orang pendendam." lanjut mama Fara.


"Biarlah ma, itu terserah Vano. Papa juga setuju kalau Vano tetap biarin dia di sana." balas papa William.


"Vano gak bisa ke sana ma, karena yang tahu aksesnya hanya Lucas. Sedangkan mama sekarang juga tahu anak itu gak ada." balas Vano.


"Oh iya kemana anak itu, kok gak ada batang hidungnya satu bulan ini?" tanya mama Fara.


"Pamitnya sih mau jalan jalan, ehh taunya malah ngilag." sahut Farrel.


"Mungkin aja dia gak mau di ganggu." balas papa Wijaya membela Lucas.


"Awas aja tuh anak kalau sampai kembali, gak bakalan dia di biarin hidup sama bapaknya." sahut papa William yang tahu kalau asistennya itu lagi kelimpungan mencari keberadaan anaknya yang tak lain adalah Lucas.


"Tuh anak emang pinter banget kalau soal ngilag." puji Vano yang sangat suka dengan cara Lucas yang tiba tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak.


Mereka terus berbicara banyak hal, sambil kadang mengajak anak Vano becanda, ya walupun anak Vano belum ngerti apa apa.


Vanya yang tidur pun tak merasa terusik sama sekali dalam tidurnya. Mungkin karena kelelahan sehingga sampai tak merasa terganggu.


-


Waktu berlalu begitu cepat, Galang dan Sonya sudah lulus SMA. Sedangkan Fira juga sudah melahirkan anak kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki semua melalui operasi sesar.


Saat ini mereka akan menghadiri pernikahan Galang dan Fira, pernikahan mereka di laksanakan di salah satu hotel milik keluarga Vano. Acara di lakukan dengan sangat mewah, mengingat Galang dan Sonya adalah anak tunggal satu satunya.


"Selamat ya buat kalian berdua, semoga langgeng sampai kakek nenek dan cepat nyusul punya momongan." ucap Vanya memberikan ucapan selamat pada temennya dan juga teman Vano.


"Makasih ya kalian udah mau dateng. Si ganteng kemana?" tanya Sonya yang tak melihat keberadaan Vian di sana.


"Dia aku titipin ke neneknya, repot sekarang kalau kemana kemana harus bawa dia. Anaknya aktif banget soalnya." jawab Vanya.


Ya, sekarang Vian sudah bisa berjalan. Dia sudah berumur tiga belas bulan. Vanya sering di buat emosi oleh tingkah anaknya itu, apalagi kalau Vian sudah menemukan make up Vanya. Pasti nanti Vian akan menghancurkan peralatan makeup Vanya.


Pernah suatu hari Vanya tinggal Vian di kamarnya ke lantai bawah untuk mengambilkan Vian makan, ehh yang di tinggal malah main bedak padat Vanya di hancurkan dan di buat melukis di lantai. Itu baru bedak belum lagi lipstik, Vanya hampir setiap Minggu pasti beli lipstik, karena lipstiknya suka hilang entah kemana. Dan Vanya yakin kalau pelakunya adalah anak tersayangnya itu.


"Kita ke sana dulu ya, kasian sama yang ngantri di belakang." pamit Vanya.


"Selamat bro, jangan lupa nanti bagi linknya." ucap Vano sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Oh iya hadiah dari gw jangan lupa di buka." Tambah Vano lagi dan setelah itu dia pergi menyusul istrinya.

__ADS_1


Acara terus berlanjut sampai malam hari, setelah selesai acara Galang membuka kotak hadiah dari Vano. Dan kalian tahu apa isinya itu, isinya adalah obat kuat. Ingin sekali Galang mencincang tubuh Vano, tapi dia teringat kalau lebih jago Vano daripada dirinya dalam ilmu beladiri.


...***...


__ADS_2