
"Assalamualaikum kakaknya Vanya..." ucap Vanya dengan kencang saat memasuki ruang rawat Farrel.
"Waalaikum salam. Princess, kamu ini gak ada perubahannya dari dulu suka teriak teriak." jawab Farrel yang tengah duduk di ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Hehehe udah jadi kebiasaan Vanya jadi gak bisa di hilangin." jawab Vanya.
"Kamu ini." mengelus rambut Vanya yang sedang duduk di samping ranjangnya.
"Princess bawa apa tuh?" lanjut Farrel saat melihat meja samping ranjang terdapat sesuatu.
"Seperti janji Vanya kemarin Vanya bawain makanan kesukaan kakak, Vanya masak sendiri loh tadi pagi." jawab Vanya mengambil rantang yang dia bawa tadi dan menyerahkannya ke Farrel.
"Widih tumben nih udah masak pagi pagi." menerima pemberian Vanya.
"Jangan salah sekarang Vanya sudah berubah, Vanya sekarang bangunnya pagi terus." bela Vanya.
"Masak sih." sambil membuka rantang yang tersusun rapi.
"Iya lah."
"Wahh... pasti ini rasanya enak, jadi gak sabar mau habisin." ucap Farrel saat melihat beberapa macam masakan yang Vanya bawa untuk dirinya.
"Kok di abisin sih, kan Vanya juga udah lapar."
"Lah kan kamu ini bawain buat kakak, masak kamu mau ikut makan juga sih."
"Ya kan Vanya juga lapar, habis pulang sekolah tadi kan Vanya langsung pergi ke sini gak mampir makan dulu." ucap Vanya sambil cemberut.
"Gak usah gitu bibirnya, kayak bebek tuh. Mau kakak kuncir tuh bibir pakai karet gelang."
Dengan secepat kilat Vanya menutup bibirnya dengan kedua tangan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya udah sini kita makan berdua, sini kakak suapin." ajak Farrel yang di angguki Vanya.
"Eemm enak banget masakan kamu, kakak mau dong di masakin tiap hari." puji Farrel setelah menyuapkan sesendok nasi beserta lauknya ke dalam mulut.
"Boleh, tapi nanti kakak datang aja ke apartemen." jawab Vanya.
"Aaaa.." Farrel menyuapkan sesendok makanan kepada Vanya dan segera di terima oleh Vanya.
"Kok ke apartemen, sejak kapan princess tinggal di apartemen?" tanya Farrel yang belum mengetahui tentang pernikahan Vanya dan Vano.
"Sejak Vanya menikah." jawab Vanya yang tidak mau ada yang di tutup tutupi tentang pernikahannya dari Farrel.
"Uhuk uhuk." Farrel tersedak makanan yang dia makan sendiri saat mendengar ucapan Vanya.
"Ini minum dulu." Vanya menyodorkan segelas minuman air putih yang ada di meja.
glek glek glek.
Farrel minum dengan rakusnya seperti tidak minum berabad-abad. Ciaelah author lebay😂
"Kamu gak salah ngomong kan tadi." tanya Farrel setelah minum.
"Ngomong yang mana?" tanya Vanya pura pura lupa.
__ADS_1
"Yang tadi kamu bilang kalau kamu udah nikah, kamu bohong kan?"
"Oooh yang itu, enggak kok Vanya gak bohong. Vanya emang udah nikah." jawab Vanya membenarkan ucapannya tadi.
"Kamu seriusan? Jangan bohongin kakak deh." Farrel tidak percaya.
"Vanya gak bohong kak, beneran Vanya udah nikah."
"Kan kamu masih sekolah, emang cowok mana yang mau nikah sama kamu?" mengejek Vanya.
"Ya udah kalau gak percaya tanya aja sama papa. Banyak kok cowok yang mau sama Vanya, secarakan Vanya itu cantik, baik, tidak sombong, anak orang kaya lagi." pede Vanya yang tertular dari Vano.
"Dih pede banget tuh kalau ngomong."
"Ya iyalah harus." mengibaskan rambutnya ke belakang.
"Kamu gak sakit kan, otak kamu baik baik saja kan?" menyentuh jidat Vanya guna mengecek suhu tubuh Vanya.
"Apaan sih, Vanya masih sehat ya." melepaskan tangan Farrel yang ada di jidatnya.
"Kirain kan kamu depresi gitu gara gara di kekang sama paman."
"Enak aja." bantah Vanya.
"Emang enak makanannya." memasukkan makanan lagi ke dalam mulutnya.
Vanya hanya memandang dengan tatapan bingung, ngomongin apa jawabnya apa.
"Huh aneh." ucap Vanya.
"Sama Vano." jawab Vanya.
"Vano?" menaikkan sebelah alisnya.
"Iya Vano, anaknya papa William."
"Papa William siapa lagi."
"Iiih masak gak tahu sih. itu loh orang terkaya di sini."
"Oooh Geovano Alexander William." ucap Farrel manggut-manggut.
"Kakak tahu?" tanya Vanya pasalnya Farrel tahu nama lengkap Vano.
"Emang siapa sih yang tidak tahu Vano, dia kan ketua geng motor black Crow. Dia juga sering ikut balapan di sirkuit dari jaman dia masih SMP dulu." jawab Farrel yang bikin Vanya kaget.
"Jaman SMP, kakak serius? Emang boleh ya anak SMP naik motor?"
"Ya sebenarnya gak boleh sih, cuma kalau si Vano boleh karena kemampuan dia naik motor udah hampir seperti orang dewasa. Postur tubuhnya juga sudah bagus waktu itu."
"Oooh gitu."
Oh iya Farrel ini sebelum koma dia juga pembalap sirkuit, dia sering ikut ajang balapan pada masanya. Mangkanya dari itu dia bisa kenal dengan Vano, ya meskipun tidak kenalan secara langsung sih.
"Kakak restuin kalau memang kamu beneran sudah nikah sama dia, kakak lihat dia orangnya baik dan sopan kepada orang tua." lampu ijo dari Farrel.
__ADS_1
"Kok kakak tahu kalau Vano orangnya sopan?" tanya Vanya.
"Kakak pernah lihat dia dulu waktu kakak ikut meeting paman trus Vanonya juga ikut meeting Om William jadi ya kakak tahu meskipun cuma sebentar."
Vanya mendengarkan ucapan kakaknya sambil pikirannya berkeliaran memikirkan Vano.
"Kamu bahagia kan nikah sama Vano?" lanjut Farrel.
"Hah apa kak?" tanya Vanya karena dia tadi tidak terlalu fokus mendengarkan ucapan Farrel.
"Kakak tanya tadi, kamu bahagia gak hidup sama Vano. Lagian kamu ini kenapa sih kok malah bengong?"
"Vanya bahagia kok. Enggak tadi Vanya cuma lagi mikirin tugas yang di berikan guru." jawab bohong Vanya agar Farrel tidak tahu keadaan rumah tangganya dengan Vano.
"Baguslah kalau kamu bahagia kakak ikut bahagia. Nanti kalau Vano sakitin kamu,kamu jangan sungkan buat cerita ke kakak ya."
"Iya kak."
"Aaaa.."
Mereka melanjutkan makannya lagi setelah terhenti karena pembicaraan tadi hingga makan ludes tak tersisa.
-
Pukul 10 lebih 45 menit malam, pesawat yang di tumpangi Vano mendarat di Bandara internasional Soekarno Hatta. Vano turun dari dalam pesawat dan sudah ada dua bodyguard yang menunggu Vano.
"Silahkan tuan muda." salah satu bodyguard mempersilahkan Vano untuk masuk ke dalam mobil Alphard yang berwarna hitam.
Vano hanya masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan apa pun dan duduk dengan tenang sambil mengaktifkan data ponselnya.
"Halo." sapa Vano saat panggilan sudah tersambung.
"Lo udah sampai Van?" tanya Galang di sebrang sana. Ya orang yang di hubungi Vano adalah Galang.
"Lo jemput gw di lampu merah dekat komplek rumah papa gw, sekalian gw udah di jalan." pinta Vano.
"Mau ngapain lo di lampu merah, mau mangkal Lo. Kalau iya jangan lupa pakai wig biar makin syantik." Canda Galang di dalam telepon.
"Gw lagi gak mood buat becanda Lang." ucap Vano datar.
"Hehehe maaf. Ya udah lo tunggu di sana gw segera meluncur." ucap Galang yang sudah tidak di tanggapi Vano.
Tut.
Seperti biasa kalian sudah tahu kan.
"Kalian turunin saya di lampu merah deket kompleks perumahan papa, untuk barang barang saya kalian bawa saja ke rumah papa tapi jangan kalian turunin dari bagasi sebelum saya perintah." ucap Vano pada kedua bodyguard yang tengah duduk di jok depan.
"Baik tuan." jawab kedua bodyguard itu kompak.
"Babe tunggu aku selesaikan masalah ini dulu ya, setelah itu giliran hukuman buat kamu." ucap Vano dalam hati sambil tersenyum tipis ketika wajah Vanya ada di dalam pikirannya.
...***...
Senin nih boleh minta vote nya gk 🙏🤭🤭
__ADS_1