
Vano keluar dari kamarnya yang ada di markas dan pergi mencari Farrel dan Fira. Setelah ketemu Vano segera menghampiri mereka yang tengah bermesraan di taman belakang.
Ya, di markas WD ini sangat lengkap, ada lapangan yang sangat luas tempat helikopter mendarat. Ada juga taman sebagai tempat cuci mata setelah melihat darah di ruang bawah tahan agar mata tetap fresh.
"Kak." sapa Vano dan duduk di samping Farrel.
"Ehh, lo udah baikan?" Farrel bergeser memberi tempat duduk untuk Vano.
"Hmm." jawab Vano.
Vano memandang lurus ke depan tanpa kedip.
"Vanya di mana?" tanya Vano tanpa menoleh pada Farrel dan Fira.
"Dia masih tidur di kamar Fira." jawab Farrel.
"Gw minta lo tetap sabar menghadapi Vanya, apalagi sekarang dia lagi hamil muda. Moodnya gampang berubah ubah." ujar Farrel menasehati Vano.
"Hufft... Sorry gw tadi kelepasan gak bisa kontrol emosi dan cemburu gw." ucap Vano.
"Iya gw ngerti kok sebagai sesama cowok. Lagian lo juga aneh sih, udah jadi mayat aja sampai lo cemburuin." canda Farrel.
"Yang namanya cemburu itu gak pandang hidup atau mati." balas Vano.
"Iya dah iya si kang cemburu gak terima." ngalah Farrel.
"Lo belum pernah aja ngerasain gimana keselnya liat istri lo muji muji cowok Korea di hadapan Lo."
"Ngapain gw harus capek capek ngerasain, orang calon bini gw bukan K-Popers, ya gak yank?" tanya pada Fira.
"Kata siapa, si Fira malah lebih parah dari pada istri gw." sahut Vano.
"Hah, seriusan yank?"
"Hehehe iya." canggung Fira karena salah satu rahasianya di bongkar Vano.
Bisa turun nanti derajat Fira di mata anggota WD kalau sampai mereka tahu kalau Fira pecinta K-Pop, drakor, dracin, drama Thailand, bahkan dia juga suka baca novel dan berhalu.
"Siap siap aja lo, nanti uang lo bukan terkuras gara gara barang barang branded, tapi terkuras gara gara buat beli album sama Photocard para artis Korea." ledek Vano.
"Oh tidak apa apa, palingan juga meskipun Fira nanti borong album gak bakal bikin gw jatuh miskin." balas Farrel.
"Iya deh iya, yang hartanya sudah kembali." canda Vano.
"Iya dong, sultan nih bos." sombong Farrel.
"Van..." pangil seseorang dari belakang mereka yang seketika membuat mereka semua menoleh ke belakang.
"Sayang, kamu udah bangun." ucap Vano berdiri menghampiri Vanya.
Bruk.
Vanya berhambur ke pelukan Vano sambil menangis lagi.
"Hiks hiks hiks maaf..." tangis Vanya.
__ADS_1
"Loh kok nangis lagi, udah ya jangan nangis nanti babynya ikut sedih." menenangkan Vanya.
"Tapi aku hiks udah jahat hiks." sesenggukan Vanya.
"Enggak kok kamu gak jahat, aku nya aja yang terlalu cemburuan." balas Vano sambil mengelus punggung Vanya yang bergetar.
"Udah ya gak boleh nangis lagi, nanti jelek loh." menghapus air mata Vanya setelah merenggangkan pelukannya.
"Yuk duduk di sana." ajak Vano menggenggam tangan Vanya menghampiri Farrel dan Fira tadi.
Vano mendudukkan Vanya di tempatnya yang tadi, sedangkan dirinya berjongkok di hadapan Vanya karena kursinya sudah tidak cukup kalau di duduki empat orang sekaligus, jadi Vano mengalah.
"Hai princess nya kakak, kok kayak habis nangis lagi. Kenapa hmm?" tanya Farrel merangkul pundak Vanya.
"Gak papa cuma pengen nangis aja." jawab Vanya.
"Masak sih?"
"Iya kok."
"Van gimana udah enakan?" tanya Fira.
"Alhamdulillah lumayan." jawab Vanya.
"Emang kamu kenapa?" tanya Vano panik.
"Enggak kok aku gak papa." jawab Vanya menggenggam tangan Vano yang ada di pangkuannya.
"Beneran?"
"Hahaha lucu." tawa Vanya.
"Baby kamu jangan kaya mommy mu ya, bisa remuk badan Daddy nanti kalau setiap hari di uyel uyel kalian berdua." ucap Vano mengelus perut Vanya mengabaikan pipinya yang rasanya sudah memerah akibat perbuatan Vanya.
"Iya Daddy nanti aku akan meniru mommy dan menjadikan Daddy mainan kuda kudaan, biar setiap hari aku naikin."Balas Vanya menirukan suara anak kecil sambil tangannya berada di atas tangan Vano yang ada di perutnya.
"Yok yank kita pergi dari sini, dari pada kita jadi obat nyamuk mending kita mesra mesraan sendiri aja."ucap Farrel yang iri melihat keromantisan Vano dan Vanya.
"Udah sono kalian pergi, kalau bisa ngamar sekalian." usir Vano.
Plak.
"Huss, ngawur kalau ngomong." Vanya menampar tangan Vano.
"Sakit yank." keluh Vano.
"Makanya jangan ngomong gitu."
"Iya iya."
"Dah yuk pergi." ajak Farrel pada Fira.
"Yuk." mereka berdua pun pergi meninggalkan Vano dan Vanya di taman.
Vano pun pindah duduk di samping Vanya sambil menghadap ke Vanya dan tangannya masih setia mengelus perut Vanya yang masih rata.
__ADS_1
"Kapan perut kamu besarnya yank, pasti lucu deh." sambil membayangkan perut Vanya yang membuncit.
"Gak usah di bayangin." menoyor jidat Vano.
"Kasar banget sih kamu." komen Vano karena mendapatkan pelajaran lagi dari Vanya.
"Biarin."
"Tuh liat baby, nanti kamu jangan kayak mommy ya, yang suka marah marah. Kayak Daddy aja yang lemah lembut ya."
"Enak aja, orang aku yang hamil kok. Jadi ya harus mirip aku." tak terima Vanya.
"Kan aku yang buat." balas Vano.
"Kan aku juga ikut." balas Vanya.
"Tapi kalau tidak ada aku kan gak bakal kamu bisa hamil." balas Vano lagi.
"Gak ada aku juga gak bakal bisa kecebong kamu itu berubah jadi anak." balas Vanya tak mau kalah.
Mereka terus memperdebatkan hal itu hingga tak ada titik temu dalam masalah itu.
"Dahlah capek, pulang yuk cari makan." ajak Vano yang sudah kesal plus bosan di sana.
"Hayuk." setuju Vanya.
Mereka pun pergi dari markas tanpa berpamitan dengan Farrel dan Fira yang entah di mana keberadaannya.
"Mau makan apa?" tanya Vano.
"Emmm....apa ya..." bingung Vanya.
Vano diam saja menunggu jawaban dari Vanya.
"Seafood boleh?" tanya Vanya meminta persetujuan dari Vano.
"Iya boleh." balas Vano.
"Yeeee makasih sayang." senang Vanya.
Mereka pun pergi menuju restoran seafood yang mereka cari tadi. Setelah menempuh waktu kira kira satu setengah jam akhirnya mereka sampai juga.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Vano pada Vanya.
"Eemmmm....aku mau ini, ini, ini sama ini." tunjuk Vanya pada menu makanan yang Vano pegangan.
"Ya udah mas semua yang istri saya du tambah es jeruk." ujar Vano pada pelayan restoran.
"Baik mbak, mas silahkan di tunggu sebentar." permisi pelayanan itu.
"Udah itu aja?" tanya Vano pada Vanya di jawab anggukan oleh Farhan.
Mereka menunggu makanan yang mereka pesan tadi dengan sabar.
...***...
__ADS_1