
"Sa-sayang." gagap Vano melihat Vanya yang menatapnya dengan tajam.
"Ma-mau ngapain ke sini." lanjut Vano.
"Menurut mu." berjalan menghampiri Vano.
"Auw auw sakit yank." teriak Vano lantaran Vanya menjewer telinga Vano dengan kerasnya.
"Masih mau bolos hmm?" dengan nada lembut tapi itu bagi Vano sangat menyeramkan.
"Enggak enggak aku gak akan bolos lagi, lepasin yank nanti kuping aku lepas." menahan tangan Vanya agar tak mengencangkan jeweran nya.
Karena merasa kasian, akhirnya dengan berat hati Vanya pun melepaskan telinga Vano.
"Sakit tauk." manja Vano mengelus kupingnya sendiri.
"Kalau gak mau di jewer ya jangan bolos." omel Vanya.
"Aku tadi tuh sebenarnya gak bolos sayang, cuma karena udah beberapa hari gak masuk sekolah jadi aku lupa di mana letak kelas aku." alasan Vano yang tak bisa di terima oleh akal.
"Alasan."
"Udah ayo aku antar ke kelas." ajak Vanya.
"Udah nanggung yank, mending kita bolos aja pacaran di sini." rayu Vano.
"Pacaran pacaran aja, cepat kembali ke kelas, atau mau aku kasih hukuman." ancam Vanya.
"Gak papa di hukum, asal di temani sama kamu." mencolek dagu Vanya.
"Baiklah kalau mau di hukum gak usah kembali ke kelas." ucap Vanya yang membuat Vano senang.
"Yes. Makasih ayank."
"Tapi nanti gak usah tidur di kamar ya." Setelah mengucapkan itu, Vanya pun pergi meninggalkan Vano yang tidak menyadari kepergiannya di karenakan otak Vano yang masih loading mencerna kata kata Vanya.
"Gak tidur di kamar, trus gw tidur di mana?" cengoh Vano.
"Maksud ayank giman...aaa." menoleh ke arah Vanya dan tidak mendapati Vanya di sana.
"Yank kok aku di tinggal sih, aku gak mau ya tidur di luar." teriak Vano dan berlari menyusul Vanya.
__ADS_1
-
"Cin lo tau gak berita yang lagi heboh saat ini." ucap Kia menghampiri Cindy yang tengah menambahi warna bibirnya agar lebih merah merona.
"Berita apaan sih, kalau gak penting gak usah lo kasih tau ke gw." balas Cindy sambil bercermin di handphonenya.
"Ini lebih dari penting Cin, ini penting banget." heboh Kia.
"Emang berita apaan sih?" menyudahi kegiatannya dan fokus berbicara sama Kia.
"Lo tahu gak kalau tadi pagi tuh si Vano berangkat bareng si upik abu Vanya."
"Trus?" cuek Cindy.
"Trus? What!! Kok lo biasa aja sih denger mereka berangkat barengan?"
"Ya trus gw harus apa, nangis kejer kejer gitu? Orang cuma barengan aja ya biasa, palingan juga mereka barengan tapi gak semobil kan?" tebak Cindy.
"Lo kali ini salah Cin, mereka itu berangkat barengan semobil. Bahkan nih ya yang gw denger tuh mereka udah jadian." jelas Kia.
"WHAT!!"
"Lo jangan bohong sama gw deh Ki, mana mungkin yayang beb Vano mau pacaran sama si Upik abu kayak gitu. Pasti lo bohong kan?" Cindy tak mau menerima kenyataan yang Kia ucapkan.
"OMG OMG kalian tahu gak?" heboh Tasya yang baru memasuki kelas.
"Barusan gw denger dari anak anak katanya si Vano sama Vanya udah jadian. Iiih so sweet banget gak sih." ucap Tasya yang membuat Kia menepuk jidatnya sendiri dan Cindy yang esmosi.
"Apa lo bilang tadi, coba ulangi sekali lagi." ucap Cindy pada Tasya dengan muka sangar yang dia miliki.
"Vanya sama Vano udah jadian, so sweet banget kan." ulang Tasya.
Entah Tasya yang bod** atau Cindy yang tak bisa menerima kenyataan bahwa seseorang yang dia cintai telah ada yang memiliki, intinya apa yang Tasya ucapkan menurut Cindy adalah kesalahan.
"Sekali lagi gw denger lo muji muji si upik abu di depan kepala gw, lo keluar dari geng gw. Gak usah temenan ama gw lagi." menghempaskan tas yang ada di meja dan setelah itu pergi meninggalkan kelas.
"Lah kok gitu, padahal kan yang gw omongin itu benar." masih belum menyadari apa kesalahannya.
"Lo sih, mangkanya punya otak tuh di asah biar gak tumpul." ucap Kia mengatai Tasya, setelah itu Kia pun pergi menyusul Cindy.
"Kok kalian tinggalin Tasya sih." ucap Tasya dengan otak lemot bin lelet miliknya dan setelah itu dia pergi menyusul Cindy dan Kia.
__ADS_1
-
Jam pelajaran pun selesai, sekarang semua murid berbondong-bondong pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah bernyanyi ria.
Di meja pojok kantin terdapat tiga cowok tampan yang tengah duduk sambil berbincang-bincang yang entah membicarakan apa.
"Lo seriusan udah jadian sama si Vanya Van?" tanya Galang.
"Hmm." Jawab Vano.
"Baguslah kalau gitu, biar lo gak jomblo mulu." balas Galang yang mendapat tatapan tajam dari Vano.
"Hehehe canda Van, serius amat lo. Ehh btw gw ucapin selamat buat kalian berdua, semoga tetap bertahan sampai nanti di pelaminan."
"Makasih." Jawab singkat Vano.
"Gw gak nyangka, seorang Vano ternyata bisa suka juga ama cewek, gw kira lo tuh itu." ucap Rangga.
"Itu apa, g*y maksud lo?" tanya Vano.
"Ya gitulah."
"Gw tuh masih normal ya, gw selama ini jomblo bukan karena gak suka cewek tapi karena gw tuh lagi nyari yang tepat aja."
"Ya mungkin aja kan."
"Ya gak mungkin lah." jawab Vano mantap.
"Btw traktiran nya sabi kali ya." emang cocok dah si Rangga sama Sisil, isi otaknya makanan mulu.
"Beres, nanti pulang sekolah gw traktir kalian makan sekalian sama temen temennya si Vanya."
"Wah berarti ada Sonya dong." antusias Galang, mendengar nama Sonya di sebut entah mengapa jiwa semangat 45 Galang keluar.
"Kok kek seneng banget lo Lang, jangan bilang kalau lo suka ama si Sonya." tebak Rangga.
"Enggak enak aja, siapa juga yang suka sama tuh anak bar bar." kilah Galang.
"Kita lihat saja nanti." balas Rangga yang tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Galang.
Saat sedang asik berbincang bincang makanan pesanan mereka pun datang, dan mereka pun segera menyantap makanan itu.
__ADS_1
...***...
Udah segini aja, mata ku udah sepet 😂