
Vanya pun berjalan memutari kursi taman dan duduk di samping Vano.
"Ada apa hmm?" tanya Vano sambil tangannya melingkar di punggung Vanya.
"Gak papa, cuma nyari kamu aja." balas Vanya menikmati pelukan Vano.
Mereka berdua saling diam entah memikirkan apa. Yang pasti mereka saling memeluk satu sama lain.
"Kamu mau nanti anaknya cowok apa cewek?" tanya Vanya.
"Aku sih apa aja, asal dia sehat." balas Vano.
"Kalau kamu?" balik tanya Vano.
"Aku maunya cowok biar nanti bisa jagain adik adiknya." jawab Vanya yang membuat Vano tersenyum misterius.
"Kamu kenapa kok senyum gitu?" tanya Vanya karena merasa ada hawa gak enak dari senyuman Vano itu.
"Enggak, aku gak papa kok. Cuma nanti setelah babynya lahir kita langsung buat lagi ya." ucap Vano sambil menarik turunkan alisnya.
"Enak aja, kamu pikir aku kucing apa," melepaskan pelukan Vano.
"Loh kan tadi kamu yang bilang kalau baby kita laki laki biar bisa jagain adik adiknya, jadi nanti kita yang harus buat lagi."
"Ya gak gitu juga Vano, kamu ihh kok ngeselin banget sih."
"Masak sih aku ngeselin, orang aku ganteng kayak gini kok."
"Dih, pede banget. Vino tuh ganteng, kalau kamu mah enggak."
Bukannya marah seperti tadi, kali ini Vano malah tertawa ketika Vanya membandingkan dirinya dengan Vino sang adik.
"Dih kenapa kamu? Baby kasian papa kamu masih muda tapi udah stress." mengajak anaknya yang masih berada dalam perut berbicara.
"Enak aja, enggak sayang jangan dengerin mommy ya, mommy emang gitu suka jahat sama Daddy." ikut ikutan mengajak anaknya berbicara.
"Gak salah tuh, perasaan situ yang sering jahilin aku." sinis Vanya.
"Mana ada."
__ADS_1
Mereka terus mengobrol di sertai candaan candaan ala pasutri yang tengah menunggu kehadiran calon buah hatinya.
-
Waktu berlalu begitu cepat, hingga sekarang usia kandungan Vanya tepat tujuh bulan. Dan teman teman Vanya dan juga Vano pun sekarang sudah berada di kelas dua belas. Vanya di minta Vano untuk berhenti sekolah, karena Vano takut Vanya stress gara gara mikirin pelajaran.
Lusa akan di adakan tujuh bulanan kehamilan Vanya yang bertempat di mansion Vano sendiri. Semua keluarga serta sahabat sahabat Vano dan Vanya turut serta dalam mempersiapkan untuk acara lusa nanti.
Meskipun Vanya sudah hamil besar, tapi tubuh Vanya tetap ideal seperti dulu sebelum hamil. Tapi menurut Vanya tubuhnya sudah seperti induk gajah. Sedangkan menurut Vano, istrinya ini semakin kelihatan sexy ketika hamil besar.
"Sayang..." teriak Vano dari dalam kamarnya.
"Haduh apa lagi sih itu." greget Vanya pada Vano.
Pasalnya kelakuan Vano setiap hari saat dirinya hamil ini makin mengada gada. Pagi selalu teriak teriak meminta ini lah itu lah. Seperti sekarang ini, Vanya yakin pasti Vano meminta dirinya untuk membantunya memakai pakaian milik Vano.
"Udah sayang sana kamu temui, mama pusing dender Vano teriak teriak mulu dari tadi." ujar mama Fara yang semalam menginap di mansion Vano.
"Iya ma, kalau gitu Vanya ke atas dulu." pamit Vanya.
Vanya pun pergi menuju kamarnya untuk melihat keadaan bayi besar yang sedari tadi teriak teriak gak jelas.
"Sayang...." rengek Vano setelah melihat kedatangan Vanya.
Lihatlah, perasaan seingat Vanya Vano mandi sudah satu jam yang lalu. Tapi apa sekarang, Vano belum memakai pakaiannya. Dia hanya memakai celana bokser pendek saja.
"Kenapa?" tanya Vanya.
"Pakekin." pinta Vano menyodorkan pakaian yang Vanya siapkan tadi.
Tanpa mengucapkan apa apa Vanya segera memakaikan pakaian Vano hingga selesai meskipun ada rasa greget dalam hatinya.
"Udah kan, kalau gitu aku mau ke bawah dulu bantuin mama." ujar Vanya dingin.
"Ayang...." rengek Vano.
"Apalagi?" tanya Vanya berusaha sabar menghadapi suaminya ini.
"Kamu marah?" tanya Vano dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Inilah Vano, sang ketua geng motor serta pewaris mafia yang dulu sangat cuek terhadap apapun dan sekarang dia suka menangis merengek pada Vanya istrinya.
"Hufft... enggak aku gak marah, aku cuma capek aja." jawab Vanya yang membuat air mata Vano jatuh seketika.
"Apalagi ini ya Allah, berikanlah hamba kesabaran yang berlipat-lipat." doa Vanya dalam hati.
"Kamu capek ya sama aku, hiks kamu mau tinggalin aku hiks hiks?" ujar Vano dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Dan jangan lupakan ingus yang ikut serta keluar dari hidungnya.
"Vano udah deh gak usah nangis," bentak Vanya yang sudah tak bisa lagi menahan rasa lelahnya.
"Kamu bentak aku, hiks hiks hiks...."
"Huuwaaaa mama..." tangis Vano semakin kencang.
"Tau ahh terserah kamu, aku capek."
Brak.
Vanya keluar dari kamarnya meninggalkan Vano yang meraung-raung di dalam kamar. Vanya juga membanting pintu dengan kerasnya tadi saat keluar kamar. Mungkin saja seluruh penghuni mansion akan dengan, tapi Vanya bodo amat akan hal itu. Rasa capek serta kesalnya sudah sangat besar.
Di saat orang lain hamil, pasti dia akan mendapatkan perlakuan khusus dari suaminya. Tapi Vanya? Dia yang hamil tapi Vano yang selalu meminta ini itu terhadap dirinya. Ngidam? oke lah kalau itu Vanya bisa memaklumi dan menurutinya. Tapi ini menurut Vanya Vano sudah terlewat batas. Vanya juga mau seperti perempuan di luaran sana yang di manja oleh suaminya bukan malah suaminya yang manja terhadap dirinya. Kalau dulu waktu hamil muda sih Vanya masih bisa menuruti semua keinginan Vano, tapi sekarang perut Vanya sudah membesar dan hal itu membatasinya untuk bergerak bebas.
"Sayang kenapa?" tanya mama Fara khawatir saat melihat menantunya turun dengan wajah seperti menahan emosi.
"Vanya capek ma kalau gini terus, Vanya juga mau di manja oleh suaminya Vanya seperti kebanyakan wanita di luar sana ketika hamil. Vano selalu meminta Vanya itu itu dan permintaannya itu harus terlaksana saat itu juga. Vanya capek ma, Vanya juga butuh perhatian serta di manja oleh suami Vanya." ucap Vanya mengelola semua unek-uneknya kepada mama Fara.
Mama Fara menarik Vanya ke dalam pelukannya untuk menenangkan menantunya itu. Mama Fara ngerti gimana perasaan yang Vanya rasakan sekarang.
"Udah ya kamu gak usah nangis, nanti mama akan coba buat kasih pengertian agar Vano tidak terlalu manja seperti ini."
"Vanya capek ma, Vanya capek hiks hiks hiks." tangis Vanya.
Vanya merasa tenang setelah mengeluarkan semua unek-unek yang dia pendam selama ini. Vanya juga merasa tenang ketika berada dalam pelukan mama mertuanya.
"Kenapa ma?" tanya papa William yang baru bangun.
Mama Fara tak menjawab, tapi dia memberikan isyarat agar papa William diam tak bertanya. Papa William yang mengerti pun langsung melenggang pergi menuju taman yang ada di mansion Vano untuk menghirup udara segar pagi hari.
...***...
__ADS_1