My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 223


__ADS_3

"Assalamualaikum." ucap papa William saat memasuki rumah sambil membopong Vanya.


"Emmhh..." lengkuh Vanya karena merasa terganggu oleh teriakan papa William.


"Waalaikum salam. Astaga Vanya." kaget mama Fara yang melihat Vanya berada dalam gendongan suaminya.


"Mama." ucap Vanya saat pertama kali membuka matanya wajah mama Fara lah yang dia lihat.


"Loh kok bangun." ujar papa William dan mendudukkan Vanya di sofa ruang tamu.


"Kamu kenapa sayang, mana yang sakit?" tanya mama Fara pada Vanya yang masih belum sadar sepenuhnya.


"Vano." ucap Vanya setelah mengingat kejadian yang tadi dia alami.


"Vano kenapa hmm, mana dia? Bukannya kalian lagi jalan jalan ke Korea ya?" cerocos mama Fara.


"Ma, jangan ajak Vanya bicara dulu, nanti aku jelasin di kamar." tegur papa William pada mama Fara yang membuat mama Fara berhenti bertanya.


"Vano mana pa, ma?" tanya Vanya setelah menyadari dirinya sudah berada di Indonesia.


"Kamu yang sabar ya, nanti papa bakal cari Vano." balas papa William.


"Maksudnya apa sih, kok mama gak ngerti?" bingung mama Fara.


"Vano di culik ma." ujar Vanya.


"Maksud kamu di culik gimana?"


"Vano di bawa sama Aaron." jelas papa William membuat mama Fara membeku.


"VANO..." histeris mama Fara dan menangis tersedu sedu. Dia tahu siapa Aaron, dan dia juga tahu senekat apa Aaron saat keinginannya gak terwujud.


"Udah ma sabar jangan nangis, papa bakal temuin Vano secepatnya." ujar papa William mencoba menenangkan istrinya.


"Vano dalam bahaya pa, Vano dalam bahaya. Hiks hiks hiks hiks..." tangis mama Fara.


"Kamu di mana Van..." lirih Vanya sambil menatap foto Vano yang berada dalam ponselnya, tak lupa dengan air mata yang selalu menetes dari matanya.


Papa William pusing, ini lah yang dia takutin kalau sampai membawa Vanya ke rumah ini. Yang satu nangis ehh yang satunya ikut nangis juga. Kan papa William bingung mau menenangkan yang mana.


"Silahkan kalian menangis lah, aku mau ke ruang kerja." nyerah papa William meninggalkan Vanya dan mama Fara di sana.


Papa William pergi ke ruangannya dan menghubungi papa Wijaya.


'Halo Wijaya, lo ke sini sekalian bawa istri lo. Nih gw pusing tenangin Vanya sama Fara yang nangis mulu.' ujar papa William setelah telepon tersambung.


'Loh Vanya ada di sana? Bukannya dia lagi di Korea?' heran papa Wijaya.


'Vano ilang di culik Aaron, jadi ya gw bawa pulang ke indo Vanya. Ehh malah sekarang pada nangis di sini.'


'Ya udah aku ke sana sekarang.' balas papa Wijaya dan memutuskan sambungan telepon.


"Hufft beres juga, sekarang aku tinggal cari tahu di mana keberadaan Vano." gumam papa William dan mencoba mencari keberadaan Vano melalui komputernya siapa tahu nanti ada petunjuk.


-


Sedangkan di rumah keluarga Wijaya, papa Wijaya tengah bingung mencari keberadaan mama Vani yang entah berada di mana.


"Ma, mama..." pangil pangil papa Wijaya kepada istrinya.


"Apa sih pa, teriak teriak mulu." balas mama Vani yang baru datang dari dapur.


"Ayo kita ke rumah William sekarang." ajak papa Wijaya.

__ADS_1


"Mau ngapain sih pa, anak anak juga gak ada di sana." balas mama Vani.


"Udah ayo cepat, waktu kita gak banyak."


"Ya udah bentar, tungguin mama ganti baju dulu."


"Cepat." suruh papa Wijaya.


Mama Vani pun pergi bersiap untuk ke rumah besannya, setelah selesai mereka berangkat menuju kediaman keluarga William.


-


"Taruh dia di gudang." perintah Aaron pada anak buahnya yang membawa Vano.


"Baik tuan." patuh para anak buah Aaron.


"Saatnya kita bermain..." gumam Aaron dengan smirk yang menghiasi bibirnya.


Aaron pergi ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya, setelah itu dia kembali menemui Vano yang berada dalam gudang.


Byurr...


"Bangun kamu." sentak anak buah Aaron yang membangunkan Vano dengan air garam.


"Aish... perih bod*h." decak Vano karena mereka luka luka yang ada di wajahnya perih semua ketika terkena air garam.


"Perih ya..." ledek Aaron.


"Cih." decih Vano.


"Sombong banget kamu, udah sekarat juga masih aja sombong."


"Bukan Vano namanya kalau tidak sombong." balas Vano tak ada rasa takut.


Cetiar...


"Coba ayo gimana sombongnya tadi." tantang Aaron.


"Mama gw tuh cantik pinter kan cocok sama papa gw yang ganteng kayak gw." balas Vano.


"Oh, ada lagi. Mama gw tuh sangat manja banget sama papa. Apa lagi kalau malam hari." lanjut Vano memanas manasi Aaron.


Cetiar...


Satu pecutan lagi mendarat di tubuh Vano.


"Berani beraninya kamu bicara begitu di hadapan saya Hah." marah Aaron.


"Kenapa, panas? Kipas mana kipas." balas Vano tak ada rasa takut meskipun keadaan tubuhnya yang sudah terdapat banyak luka.


"Kalian, setrum dia tapi jangan sampai mati." perintah Aaron pada anak buahnya dan segera pergi meninggalkan Vano untuk menenangkan dirinya.


"Cih, lemah." ledek Vano.


"Kalian mau apa, nyetrum gw. Sini sebelah sini udah gatel banget." ucap mengarahkan tubuhnya agar segera di setrum.


"Ooh kaki gw juga gatel." lanjut Vano membuat anak buah Aaron yang akan menyetrum Vano pun mengurungkan niatnya. Karena mereka mengira kalau Vano itu kebal sama setrum. Anak buah yang bod*h bukan.


"Kenapa kok gak jadi, padahal gw udah nungguin loh. Udah gatel banget soalnya." tanya Vano.


Mereka tak menghiraukan Vano dan segera pergi dari gudang dan tak lupa pula menguncinya agar Vano tidak kabur.


"Cih." decih Vano.

__ADS_1


"Kalau gw terus terusan di sini nungguin pertolongan dari papa, yang ada gw mati secara perlahan." monolog Vano.


"Gw harus lakuin sesuatu."


Vano pun memikirkan bagaimana caranya agar dirinya tetap bertahan di dalam sana tanpa siksaan yang mereka berikan seperti tadi.


-


"Kita mau ngapain sih pa, ke sini?" tanya mama Vani saat mobil mereka berhenti di halaman luas parkir keluarga William.


"Udah mama ikutin papa aja, kita masuk ke dalam." balas papa Wijaya.


Mereka berdua pun di persilahkan masuk oleh asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Loh Vanya." kaget mama Vani saat melihat Vanya yang berada di sofa ruang tamu sambil menangis.


"Mama ..." balas Vanya dan berlari berhambur dalam pelukan mama Vani.


"Kamu kenapa kok nangis gini, terus juga kenapa kamu bisa ada di sini, bukannya lagi di Korea?" heran mama Vani pada Vanya yang berada dalam pelukannya.


"Vano ma... Vano... hiks hiks hiks." Tangis Vanya lagi.


"Vano kenapa hmm, jangan bilang kalau pesawat yang kalian tumpangi jatuh." tebak mama Vani.


"Hus mama ini kalau ngomong di jaga." tegur papa Wijaya.


"Vano di culik ma. Hiks hiks hiks." jelas Vanya.


"Hah kok bisa, bukannya Vano itu jagoan?" heran mama Vani.


"Ya bisa ma, namanya juga takdir." balasan papa Wijaya yang jengah dengan sikap istrinya yang banyak tanya itu.


"Vani." seru mama Fara yang datang dari kamar dengan mata yang sembab juga.


"Katanya Vano di culik, apakah itu benar?" tanya mama Vani pada mama Fara yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan Vanya katakan.


"Iya Vano di culik sama Aaron." balas mama Fara yang sekarang sudah tenang sehabis di sirami rohaninya sama papa William.


"Hah, apa kamu bilang Aaron? Mantan pacar kamu yang terobsesi mau dapatin kamu itu?" tebak mama Vani.


"Iya dia yang bawa Vano." jawab lesu mama Fara.


"Kok bisa sih, bukannya Vano tidak tahu apa apa ya?"


"Kayaknya dia juga menargetkan keturunan papa deh."


"Wah bahaya tuh orang, mana orangnya nekat banget lagi." balas mama Vani.


Mereka melupakan Vanya yang berada di sana sampai sampai membicarakan soal itu. Alhasil Vanya jadi tahu semuanya asal mula masalah ini.


"Udah kamu gak usah sedih, anak kamu kan kuat dan jago bela diri." hibur mama Vani pada mama Fara.


"Iya makasih ya kamu udah datang ke sini." balas mama Fara.


"Oh iya Vanya ikut mama pulang aja atau mau tinggal di sini?" tanya mama Vani.


"Ikut mama aja." balas Vanya, karena kalau di sini dia tidak enak sama mama Fara kalau dirinya terus terusan menangis.


"Ya udah kita pulang dulu yuk." ajak mama Vani.


"Entar dulu, aku masih mau ketemu sama William." ujar papa Wijaya dan berlalu pergi menuju ruang kerja papa William.


...***...

__ADS_1


Sembilan ribu kata lebih dan sembilan part untuk hari ini. Wah gak nyangka aku😂😂😂


__ADS_2