
Bles....
"Aaaa..." teriak barengan semua orang yang menaiki palang maupun yang lewat bawah palang saat menampakkan kakinya di bawah palang.
"Sia*al kita kena jebak." umpat salah satu dari mereka.
"Hahaha...." tawa anak black Crow yang menghampiri anak X-Lion yang tengah terduduk kesakitan.
"Gimana sakit gk? Atau masih kurang?" tanya Galang memegang dagu orang yang menjadi tangan kanan Damar.
"Cih." orang itu meludah tepat mengenai wajah tampan Galang yang membuat Galang geram.
Bug bug.
Galang memukul muka orang itu di pipi kiri serta pipi kanannya.
"Aji cariin gw tisu basah kalau bisa sekalian bedu pasir yang belum terkena kotoran, muka gw terkena najis air liur nya anj**g." ucap Galang setelah memukul orang itu.
"Gak sekalian mandi kembang tujuh rupa aja sekalian Lang." balas Aji.
Hahahahahhh....
Tawa anak black Crow pun pecah...
"Boleh juga tuh ide Lo." jawab Galang.
"Muka ganteng gw kan jadi Naji* karna air liur Lo." ucap Galang lagi.
Bug bug
"Noh sekalian biar makin keren muka lo." ucap Galang setelah menambah pukulan di muka orang itu.
Orang tangan kanan Damar itu pun hanya diam saja tak menjawab, mukanya sudah babak belur di tambah kakinya yang terkena paku.
"Kenapa diam saja bangun Lo." Galang menarik kerah jaket orang itu.
"Ups... gak bisa bangun ya..."
"Oh iya lupa kan kakinya pincang." ejek Aji.
"Hahahaha..."
"Udah ayo kita habisin mereka sekalian jangan buang buang waktu." ajak Galang.
Bug krak bug bug krak
Akhirnya para anggota black Crow pun memukul wajah serta menendang perut anak X-Lion baik dengan tangan, kaki atau pun senjata yang mereka bawa hingga anak X-Lion tepar tak berdaya.
Setelah itu mereka seret semua anak X-Lion ke tempat yang tadi.
Di lain tempat, tepatnya di ujung jalan masuk perkampungan kumuh Rangga dan lainnya juga melakukan hal yang sama seperti yang Galang dkk lakukan tadi.
Mereka berkumpul dan mengikat anak X-Lion di tengah tengah jalan tak lupa sebelum telfon polisi mereka membereskan apa yang terjadi agar tidak ada jejak nanti.
"Gimana Lang, lo udah pangil polisi belum?" tanya Rangga pada Galang.
"Udah, para polisi sedang menuju ke sini." jawab Galang.
"Bagus kalau gitu, gw udah gak sabar mau lihat aksi Vano." Rangga membayangkan apa yang akan Vano lakukan untuk menghabisi Damar.
__ADS_1
"Sama gw juga. Oh iya, untuk yang sebagian kalian pergi duluan dari sini biar nanti polisi kira kita cuma sedikit." perintah Galang.
"Baik Lang, kalau gitu kita pergi dulu."
"Iya kalian hati hati, tungguin kita di gang menuju rumah Damar."
Sebagian anak black Crow pun pergi meninggalkan tempat eksekusi dan hanya menyisakan sepuluh anak termasuk Galang dan Rangga.
Anggota X-Lion yang masih setengah sadar itu pun mendengar nama ketuanya di sebut sebut tapi mereka hanya diam tidak bertanya ataupun mengatakan sesuatu karena mereka sudah tidak kuat lagi menahan rasa nyeri di kakinya.
-
Posisi Vano
Vano duduk anteng di atas motornya dan tak lupa dia memasang sarung tangan dan membenarkan sesuatu yang ada di jari telunjuknya. Dari arah jalan raya dia melihat ada sorot lampu motor yang dia yakini itu adalah milik Damar.
"Pertunjukan akan di mulai." ucap Vano dengan pandangan lurus tanpa senyum yang menghiasi wajahnya, hanya ada wajah tadar dan tatapan tajam yang akan membuat lawannya menciut.
Brum Brum Brum...
Suara motor Damar.
Damar menghentikan motornya di depan Vano dan dengan santainya dia turun dari motor tanpa ada niatan untuk kabur.
"Wih ada apa nih, cegat cegat gw di tengah jalan kek gini." ucap Damar setelah melepas helm full face nya.
"Menurut lo." jawab Vano dan tetap mempertahankan posisi serta ekspresinya.
"Iiiiihhh atu atut." menampilkan ekspresi sok ketakutan yang membuat Vano ingin muntah saat melihatnya.
"Huuekk."
"Sia*an." umpat Damar dan ingin menonjok muka Vano tapi segera di tangkis oleh Vano.
"Eist... lo mau nonjok muka ganteng gw, gak semudah itu bestie." mencekal tangan Damar.
Kreteg.
Melintir tangan Damar ke belakang yang berhasil membuat Damar kesakitan.
"Anj*ng lepasin tangan gw." ucap Damar sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Lo ngomong apa gw gak denger tuh." jawab Vano dan semakin mengencangkan plintiran nya.
"Bangs*t lepasin tangan gw." umpat Damar.
Vano menatap jam tangannya sebentar setelah itu dia mengurangi cengkaraman tangannya pada tangan Damar karena dia akan membiarkan Damar melawannya sebelum teman temannya sampai.
'jangan sampai mereka ke sini Damar masih hidup.' Batin Vano dan bertepatan Damar yang bisa meloloskan diri darinya.
Vano pura pura kaget saat melihat Damar sudah terlepas dari tangannya, dan momen itupun di manfaatkan oleh Damar untuk menyerang Vano.
Bug.
Satu pukulan mendarat mulus di sudut bibir Vano yang mengakibatkan darah keluar dari sudut bibirnya.
"****. Berani banget lo melukai wajah ganteng gw, liat aja lo gak bakal gw lepasin." marah Vano karena wajahnya yang terdapat luka.
Damar menyerangnya emang itu rencana Vano, tapi tidak sampai melukai wajahnya
__ADS_1
"Silahkan kalau lo bisa." tantang Damar.
Damar pun berlari dan akan memukul muka Vano lagi tapi itu tidak di biarkan begitu saja oleh Vano.
Bug bug bug krak.
pertempuran pun di mulai, dengan damar yang selalu ingin memukul wajah Vano tapi selalu bisa di tangkis oleh Vano. Dan Vano yang menyerang titik sensitif Damar, terutama perutnya.
Vano tidak akan meninggalkan jejak pukulan di tubuh Damar oleh karena itu dia hanya menyerang Damar pada bagian perut dada dan bawah pusar alias.....
(kalian pikir sendiri ya😂)
Pertempuran terus berlanjut hingga Vano melihat ada banyak sorot lampu motor yang menghampiri tempatnya yang dia yakini itu adalah teman se-geng nya. Vano pun bertindak lebih cepat.
Tepat saat Damar akan memukul wajah Vano dengan gerakan cepat Vano mencekal tangan Damar dengan tangan kanannya yang terdapat sesuatu di jari telunjuknya dan segera menyuntikkannya ke tangan Damar yang membuat Damar pingsan dan ambruk seketika di hadapan Vano seketika.
"Lah kok gak gerak." ucap Rangga setelah sampai dan menghampiri Vano.
'Ampuh juga racun yang gw racik.' batin Vano.
"Lah iya, pingsan nih anak." timpal Aji.
"Coba Ji lo periksa." suruh Galang yang sama bingungnya.
Aji pun memeriksa denyut nadi serta nafas Damar dengan menaruh jari telunjuknya di hidung serta di pergelangan tangan Damar.
"Loh mati." ucap Aji spontan.
"Heh yang serius kalau ngomong." ucap Rangga.
"Gw serius gak boong, denyut nadinya udah gak ada." jawab Aji.
Galang yang tak percaya pun segera mengeceknya sendiri dan memang benar apa yang di katakan Aji bahwa Damar udah gak ada.
"Gimana Lang." tanya Rangga.
Galang menggelengkan kepalanya sambil menatap mayat Damar tidak percaya.
"Innalilahi..." ucap mereka semua tak terkecuali Vano.
Aneh memang Vano, ya begitulah Vano.
"Trus gimana ini Van?" tanya Rangga.
"Ya gak gimana gimana, malah bagus dong gw gak perlu buang banyak tenaga buat bunuh dia." jawab Vano santai tanpa beban.
"Trus ini mayatnya gimana?" panik Aji.
Bukan Aji aja yang panik, mereka semua juga panik. Bagaimana ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Saat semua orang panik tapi tidak dengan Vano dia hanya santai santai saja.
"Ya kita tinggalin di sini lah, tapi kalau mau lo bawa pulang juga gapapa sih." jawab Galang ngasal.
"Ya udah ayo kita pergi sebelum nanti ada orang tahu." ajak Rangga.
Mereka semua pun akan pergi tapi baru satu langkah maju.
"Tunggu."
...***...
__ADS_1