
"Vanya..." pangil seseorang dari pintu kelas.
Vanya, Sonya dan Sisil pun kompak menoleh ke arah asal suara tersebut.
"Lucas." ucap Sisil.
"Kamu Vanya kan?" tanya Lucas berjalan menghampiri mereka bertiga.
"I-iya." gugup Vanya.
"Hai, kenalin aku Lucas temannya Vano yang dari Itali." Lucas mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.
"Ha-i juga a-ku Vanya." balas Vanya meskipun ragu.
"Kamu kenapa sih kok kayak gugup gitu, santai aja aku gak jahat kok." ucap Lucas yang menyadari kegugupan Vanya.
"Ehh, enggak itu tadi..."
"Aku ngerti kok, pasti kamu takut kan sama aku." potong Lucas.
"Yuk kita ke kantin, Vano sudah nunggu di sana." ajak Lucas menyeret tangan Vanya begitu saja mengabaikan Sisil dan Sonya yang ada di sana.
"Lepasin tangan gw, gw bisa jalan sendiri." bantah Vanya.
"Udah ayo." tak memperdulikan ucapan Vanya.
"Lah kok kita di tinggal sih." ucap Sisil.
"Tau tuh, sombong banget jadi orang, dah yuk kita cari cowok kita aja." ajak Sonya dan di setujui Sisil.
"Yuk."
Mereka pun pergi meninggalkan kelas yang sudah sepi tak berpenghuni.
-
Vanya dan Lucas menjadi sorotan siswa siswi yang masih berada di sekolah, terutama Vanya. Mereka mencibir Vanya karena Vanya berjalan dengan gandengan tangan bersama cowok lain selain Vano.
"Siapa lagi tuh yang sama Vanya."
"Wah Vanya cowoknya banyak, mana ganteng ganteng lagi."
"Dasar sasimo."
Mendengar cibiran itu Lucas pun menghentikan langkah dan berbalik menatap orang orang yang memberikan cibiran kepada dirinya dan Vanya.
"Apa kalian bilang tadi?" tanya Lucas dengan wajah tak berekspresi.
Diam tidak ada yang menjawab, bahkan mereka semua menundukkan kepalanya takut menatap Lucas.
"Kenapa diam Hah, takut?" lanjut Lucas lagi.
"Sekali lagi kalian ngomongin adik gw, abis kalian." ucap Lucas yang membuat Vanya melotot.
__ADS_1
Lucas pun menarik tangan Vanya kembali meninggalkan orang orang tukang gosip yang ada di sana.
Sedangkan Vanya masih bertanya tanya dalam hati, kenapa Lucas sampai mengakui dirinya sebagai adiknya, padahal kan mereka tak ada hubungan darah. pikir Vanya.
Tiba-tiba saja Lucas menghentikan langkahnya di tempat yang agak sepi dan berbalik menatap Vanya.
"Kenapa?" tanya Lucas yang membuat Vanya bingung.
"Apanya?"
"Ya, kamu kenapa kok diem aja dari tadi?"
"Trus, aku harus ngapain?" balik tanya Vanya.
"Ya ngomong apa kek gitu."
"Sorry kita tak sedekat itu." balas Vanya dan segera menghempaskan tangan Lucas dan berlalu pergi meninggalkan Lucas di belakangnya.
"Ehh tunggu, kok gw di tinggal sih." teriak Lucas menyusul Vanya.
"Dasar suami istri sama aja." umpat Lucas sambil mengejar Vanya.
Lucas kira tadi Vanya itu orangnya lemah lembut karena sedari tadi diam saja waktu banyak yang menghujat Vanya. Ehh, tau taunya...
-
"Ehh lo tau gak tadi, si Vanya gandengan tangan lagi sama cowok lain." ucap si tukang gosip di parkiran mobil.
"Ehh tunggu tunggu, tadi Kamu ngomong apa?" tanya Kia menghampiri si tukang gosip tadi.
Ya, Kia dan Tasya tetap bersekolah di sana meskipun Cindy sudah di keluarkan. Tapi sekarang mereka rada menjauh gitu dari Vanya dan Vano dkk agar tidak terkena masalah sama seperti Cindy. Sampai sekarang mereka juga masih berteman dengan Cindy bahkan mereka juga masih sering ketemu di luar sekolah membicarakan banyak hal.
Kia dan Tasya tidak tahu kalau keluarga Cindy terancam bangkrut yang mereka tahu hanya Cindy di keluarkan dari sekolah itu aja.
"Oh itu tadi aku bilang kalau tadi si Vanya gandengan tangan dengan cowok baru gitu." jawab si tukang gosip.
"Cowok baru?" ucap Kia.
"Iya cowok baru."
"Anak sini?" tanya Kia lagi.
"Kayaknya sih bukan, soalnya tadi dia gak pakai seragam." jawab si tukang gosip itu lagi.
"Oooh gitu, ya udah makasih." Kia pun kembali ke mobilnya yang terdapat Tasya di dalamnya.
"Gimana Ki, emang beneran ya kalau si Vanya udah punya cowok baru lagi?" tanya Tasya.
"Maybe." jawab Kia sambil menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan parkiran sekolah.
"Wah Cindy harus tau nih." seru Tasya.
"Bener juga kata Lo, yuk kita temui Cindy di rumahnya."
__ADS_1
Mereka pun langsung pergi ke rumah Cindy tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu.
-
Vanya berjalan memasuki kantin melihat sekeliling mencari sosok yang tadi membuatnya kesal. Setelah menemukan orangnya yang tengah asik bermain handphone, Vanya pun segera menghampirinya. Tapi saat hampir sampai di sana, tiba tiba saja pundak Vanya ada yang merangkul dari belakang.
"Cantik duduk sini yuk." ucap Lucas berhasil mengalihkan pandangan Vano dari ponselnya.
"Ehh bentar aku bersihkan dulu." Lucas pun membersihkan kursi yang akan Vanya duduki.
Sedangkan Vano, dia mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahangnya marah menatap perlakuan Lucas pada istrinya.
Sedangkan Vanya melirik sebentar wajah Vano. Dan ya, dia melihat bahwa Vano tengah menahan emosinya. Vanya pun mengikuti drama yang akan Lucas mainkan, itung itung buat ngasih pelajaran Vano.
"Silahkan duduk putri cantik." ujar Lucas manis.
"Terimakasih." balas Vanya sambil memberikan senyuman manisnya pada Lucas.
"Sama sama."
Vano yang melihat itu pun semakin kebakaran jenggot. Rasanya Vano ingin menguntal hidup hidup orang di depannya ini.
"Kamu mau makan apa?" tanya Lucas.
"Eeemmm... bakso boleh." jawab Vanya.
"Ya udah aku pesenin dulu ya, kamu tunggu di sini." Lucas pun segera pergi memesankan apa yang Vanya ingin kan.
Tiba tiba saja Vanya merasa tangannya di seret oleh seseorang.
"Apaan sih, lepas." ucap Vanya agar Vano melepaskan tangannya.
"Pulang." tegas Vano yang membuat Vanya merinding.
Tanpa memperdulikan keadaan sekitar, Vano pun menyeret Vanya lagi tapi kali ini tidak sekasar tadi. Mereka pun lagi lagi menjadi perhatian semua orang, terutama saat di parkiran karena keadaan pulang sekolah yang ramai akan anak anak yang hendak meninggalkan sekolah.
"Masuk." tegas Vano setelah membukakan pintu mobil untuk Vanya.
Vanya pun nurut saja, dari pada nanti masalahnya makin panjang.
Setelah itu Vano memutari mobil untuk masuk di jok kemudi yang berdampingan dengan tempat duduk Vanya. Setelah masuk ke dalam mobil Vano segera melajukan mobilnya meninggalkan sekolah menuju mansion miliknya dengan kecepatan tinggi.
"Van, pelan pelan." ujar Vanya agar Vano mengurangi kecepatan mobilnya.
Vano tak mendengarkan apa yang Vanya katakan, dia tetap melajukan mobilnya dengan kencang. Menyalip nyalip kendaraan yang ada di depannya, yang membuat Vanya berpegang dengan erat.
"Van plis, aku takut." ucap Vanya memohon agar Vano mengurangi laju mobilnya.
Di depan ada sebuah kontainer besar bermuatan berat, dan dengan cepat Vano menyalip kontainer itu.
"VANOOO..."
...***...
__ADS_1