My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 254


__ADS_3

DOR.


"Aaaa...." teriakkan histeris dari mereka semua yang hadir dalam acara tersebut, terutama kauh hawa.


"Si*l. Berani beraninya mereka hancurin acara gw." umpat Vano marah.


Bagaimana tidak marah, ternyata popper confetti yang di ledakkan oleh Fira, Sonya dan Sisil itu bukannya mengeluarkan kertas kecil warna warni melainkan malah mengeluarkan darah yang baunya sangat sangat tidak enak.


Huek huek.


Fira seketika mual mual saat mencium bau darah itu. Sedangkan Vanya, dia merasa baik baik saja. Entahlah sepertinya bayinya nanti akan sama seperti bapaknya.


"Si*l kita kecolongan." umpat Farrel yang juga kaget saat melihat kejadian barusan.


"Udah gw duga hal kayak gini bakal terjadi." balas Lucas sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya.


"Lo urus kekacauan ini dulu, gw mau lihat keadaan bini gw." pamit Farrel dan segera berlari mencari keberadaan Fira.


Farrel sangat tau bagaimana Indra penciuman Fira yang akhir akhir ini sering bermasalah saat mencium bau bau yang tidak sedap.


Sementara itu, Vano langsung membawa Vanya ke kamar untuk mandi dan berganti baju. Baju pesta mereka sudah kotor akan darah yang baunya juga sangat menyengat.


"Kamu mandi dulu ya, biar aku mandi di kamar lain." ujar Vano dan di angguki Vanya.


Mereka berdua pun mandi di kamar mandi yang berbeda, bukannya Vano gak mau mandi sama Vanya, tapi sekarang waktunya sedang gak tepat. Jadi Vano memilih untuk mandi di tempat lain aja dari pada nanti terjadi hal hal yang enak.


Setelah selesai mereka langsung kembali ke tempat di mana terselenggaranya acara tadi. Di sana para tamu sudah di persilahkan untuk pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang stay di sana.


"Gimana kak?" tanya Vano.


"Gak tahu gw, Lucas sama papa William yang handle masalah ini." jawab Farrel.


"Lo tahu gak di mana bini gw, dari tadi gw cari muter-muter gak ketemu ketemu?" lanjut Farrel bertanya pada Vano.


"Lo kan tahu gw baru dari kamar, mana mungkin tahu bini lo dimana."


"Iya juga sih." sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah gw mau ke papa sama Lucas dulu, gw nitip Vanya sama Lo." ujar Vano.


"Eehh mana bisa gitu, gw mau nyari bini gw." Lucas menahan kepergian Vano.

__ADS_1


"Kan lo bisa sekalian cari Fira sama bawa bini gw, siapa tahu kan bini gw tahu di mana bini lo."


"Bener juga kata Lo, kok gw gak kepikiran tanya sama Vanya ya."


"Makanya punya otak tuh di pakai, jangan cuma buat pajangan aja."


"Ya udah gw mau samperin bini lo dulu." pamit Farrel hendak menghampiri Vanya yang tengah duduk bersama sahabat sahabatnya.


Vano pun segera pergi menghampiri papa William dan papa Wijaya yang sekarang tengah berada di mana Lucas memantau cctv.


"Gimana Pa?" tanya Vano saat baru memasuki ruangan cctv.


"Setelah gw telurusi, ternyata orang yang nganterin barang barang itu yang udah ganti isi


popper confetti dengan darah babi." jawab Lucas yang sudah mengetahui siapa yang membuat kekacauan ini.


"Trus sekarang orangnya mana?" tanya Vano.


"Dia lagi jadi buronan anak buah Om Wili." balas Lucas lagi.


"Hufft...aku gak nyangka kalau acaranya bakal kacau kayak gini. Mana tadi balonnya udah pecah lagi."


"Hmm." balas Vano yang membuat kedua lelaki yang sudah berumur itu berdecak kesal.


"Anakmu tuh." ucap papa Wijaya pada papa William.


"Menantumu juga." balas papa William.


"Udah kalian udah tua gak usah ribut." lerai Lucas yang malah membuat kedua orang tua itu matanya melotot.


"Apa?" tantang Lucas.


"Kita gak tua, cuma udah berumur aja." balas papa William.


"Halah itu sama aja Om, lagian emang kenyataan, ngapain pakai ngelak sih."


"Kamu berani sama Om?"


"Ngapain takut, orang sama sama manusia juga." balas Lucas yang membuat papa William rasanya ingin memasukkan Lucas ke kandang buaya. Biar bisa reuni sama teman temannya.


"Ok, mulai sekarang semua fasilitas yang Om kasih bakal Om ambil." ancam papa William.

__ADS_1


"Silahkan Om, lagian juga nanti aku bisa numpang di rumah Vano. Mobil Vano juga banyak jadi bisa aku pakai."


"Enak aja, ngapain punya gw." tak terima Vano.


"Lo kan sohib gw."


"Udah udah kalian ini, ayo kita fokus ke orang yang udah kacauin acara tadi. Bukan malah berantem kayak gini." lerai papa Wijaya, sebenarnya sih dia juga ikutan ingin membejek bejek Lucas, tapi dia ingat kalau ada masalah yang lebih penting dari pada itu.


"Om Wili tuh yang mulai."


"Lah kok saya, bukannya kamu yang mulai duluan." tak terima papa William.


"Udah stop, Lucas kamu rentas semua cctv yang ada di kota ini. Cari keberadaan orang itu." tegas papa Wijaya.


Lucas pun langsung menuruti perintah papa Wijaya. Tangannya dengan lincah menari nari di atas keyboard. Vano yang tak bisa tinggal diem pun membantu Lucas, dia duduk di posisi tempat Farrel duduk tadi. Mereka berdua tengah mencari di mana keberadaan orang yang tengah menghancurkan acara Vano tadi.


"Ketemu." seru Vano.


Mereka bertiga pun langsung melihat ke arah layar komputer yang ada di hadapan Vano, dan benar saja Vano sudah mendapatkan keberadaan orang itu. Lucas benar benar takjub dengan kecepatan juga kecerdasan Vano, bisa bisanya dia yang sedari tadi mencari tapi belum ketemu, sedangkan Vano yang baru saja duduk di situ sudah mendapatkan keberadaan orang itu.


"Mobilnya ada di jalanan pinggiran kota, kalau di lihat lihat sih sepertinya dia hendak keluar kota. Bisa jadi dia udah tahu kalau kita udah tahu pelakunya dan dia hendak kabur." jelas Vano.


"Enak aja mau kabur, gak akan bisa." ucap dingin plus datar papa William.


Papa William segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel miliknya guna menghubungi asisten Rudi supaya menutup jalan akses keluar masuk kota Jakarta.


'Rudi kamu tutup semua akses keluar masuk kota, buronan kita mau kabur.' perintah papa William melalui sambungan telepon.


'Baik tuan.' balas asisten Rudi.


Tut.


"Kita tinggal tunggu kedatangan orang itu di markas, ayo kita ke sana sekarang." ajak papa William.


"Kalian duluan aja, gw masih mau nyari sesuatu." ujar Vano.


Papa William dan papa Wijaya pun mengerti, sepertinya Vano masih ada kesibukan lain. Mereka berdua pun berjalan duluan meninggalkan ruangan cctv di mansion Vano.


"Ya udah kalau gitu gw ikut para orang tua ini ya!" pamit Lucas, setelah mendapatkan anggukan dari Vano Lucas pun pergi menyusul papa William serta papa Wijaya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2