
Mama Fara membawa Vanya ke rumah sakit dengan di temani asisten pelayan Sri. Karena saking paniknya mereka sampai lupa mengabari Vano dan para keluarga yang lain.
-
Sedangkan di posisi Vano, dia baru saja menginjakkan kakinya di tanah Singapura. Vano langsung menuju apartemen miliknya yang berada di sana.
Entah mengapa perasaan Vano sangat tidak tenang, dia ingin sekali pulang kembali ke tanah airnya. Vano pun memutuskan untuk menghubungi Vanya sebagai pengobat rasa kangennya.
"Kok gak di angkat angkat sih." ucap Vano lantaran telfonnya tak kunjung di terima.
"Sayang ayo lah, kamu jangan bikin aku khawatir dong."
Beberapa kali Vano mencoba untuk menghubungi Vanya, dan tetap saja tak kunjung di jawab. Akhirnya Vano memutuskan untuk menghubungi asisten pelayan Sri.
Lama Vano menunggu akhirnya Sri menerima panggilan telefon nya.
'Halo Sri, istri saya di mana kok telfon saya gak di jawab?' tanya Vano melalui sambungan telepon.
'Anu tuan,'
'Vano cepat kamu pulang, istri kamu mau melahirkan.' teriak mama Fara dengan nada panik.
Mama Fara tadi merebut ponsel Sri karena dia tidak telaten melihat Sri seperti akan ngomong atau enggak.
'Iya ma Vano pulang sekarang, sekarang Vanya nya man? Udah mama bawa ke rumah sakit kan?' tanya Vano memberondong.
'Ini Vanya ada bersama mama, udah pokoknya kamu cepat pulang. Mama udah bawa Vanya ke rumah sakit.'
Tut.
Sambungan telepon terputus, Vano segera bersiap untuk kembali menuju negara kelahirannya kembali.
"Rudi siapkan pesawat sekarang juga, kita balik ke Jakarta. Istri saya mau melahirkan." ucap Vano pada asisten Rudi yang baru saja masuk ke dalam kamar Vano.
"Tapi tuan bentar lagi ada meeting."
"Batalkan semuanya, gak papa say rugi asal saya bisa menemani istri saya melahirkan." balas Vano.
"Baik tuan."
Asisten Rudi pun segera pergi mengurus kepulangan Vano dan membatalkan meeting penting dengan pengusaha yang ada di negara itu.
Setelah semuanya siap Vano pesawat jet pribadi Vano pun mengudara kembali menuju Jakarta.
Dalam pesawat Vano selalu berdoa semoga saja istrinya baik baik saja di sana.
__ADS_1
-
Mobil yang Vanya tumpangi pun sampai di rumah sakit, Vanya segera di papah keluar oleh Sri dan mama Fara, sedangkan mang Udin memangil para suster agar membawa bangkar untuk Vanya.
"Suster, dokter tolong. Majikan saya mau melahirkan." teriakkan mang Udin.
Para suster yang ada di sana pun berbondong-bondong membawa bangkar untuk Vanya, Vanya di baringkan di atas bangkar dan setelah itu dia di bawa ke ruangan bersalin.
"Maaf nyonya anda di larang masuk ke dalam." ucap suster menahan mama Fara yang hendak ikut masuk ke dalam ruangan bersalin.
Mama Fara pun menurut, dia gak akan bertindak bodoh yang nantinya malah akan membahayakan nyawa menantunya dan calon cucunya yang sebentar lagi akan melihat dunia.
"Nyonya apakah anda sudah menghubungi nyonya Vani?" tanya Sri pada mama Fara.
"Astaga aku lupa, mana handphone kamu aku pinjam. Aku lupa tadi naruh handphone aku di mana."
"Ini nyonya." Sri menyodorkan handphonenya yang di belakangnya ada logo anggur di gigit. (Dilarang menyebutkan merk)
Mama Fara pun segera menghubungi papa William terlebih dahulu untuk datang kerumah sakit sekaligus mengambilkan tasnya yang sepertinya tadi tertinggal di taman belakang mansion Vano. Setelah itu dia menghubungi mama Vani dan mengabarkan kalau Vanya akan melahirkan.
-
"Papa ayo cepat." teriak mama Vani yang sudah tidak sabar untuk pergi ke rumah sakit.
"Iya ma, ini papa masih jalan." jawab papa Wijaya yang berjalan menuruni anak tangga di rumahnya.
"Mama seriusan ke rumah sakit mau pakai sendal itu?" tanya papa Wijaya yang melihat sendal yang di gunakan istrinya adalah sendal rumah yang ada bulu bulunya.
"Astaga mama belum ganti sendal. Bentar papa tunggu mama di mobil aja mama mau ke atas dulu ganti sendal." mama Vani pun segera berlalu menaiki tangga dengan setengah berlari untuk berganti sendal.
"Ada ada aja, panik sih boleh tapi jangan sampai teledor lah." ucap papa Wijaya sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap istrinya.
Papa Wijaya pun memutuskan untuk menunggu mama Vani di mobil sesuai perintah mama Vani tadi.
"Ayo pa kita jalan sekarang." ucap mama Vani yang menyerobot masuk kedalam mobil.
"Astaga ma, papa sampai kaget. Untung aja papa gak punya riwayat penyakit jantung." kaget papa Wijaya.
"Maaf pa mama buru buru."
Mereka pun segera berangkat menuju rumah sakit yang sudah mama Fara bilang tadi. Tak lupa mereka juga menghubungi Farrel agar datang ke sana juga.
-
"Uuhh..hah hah hah." nafas Vanya tersengal sengal.
__ADS_1
"Tahan nyonya jangan menyejan dulu, ini masih pembukaan tujuh." ucap dokter yang menangani kelahiran bayi Vanya.
"Sakit dok." keluh Vanya.
"Iya nyonya sabar, nanti juga sakitnya akan hilang." bohong dokter itu, nyatanya rasa sakitnya bukannya malah hilang tapi malah semakin menjadi.
"Aaahh sakit dok." teriak Vanya.
"Vano, tolong pangil Vano dok." pinta Vanya.
"Sus tolong panggilkan." perintah dokter itu pada suster yang berada di sana.
"Baik dok."
Suster itu pun keluar hendak memanggilkan orang yang Vanya maksud.
"Gimana keadaan menantu saya sus?" tanya mama Fara pada suster yang keluar dari ruangan bersalin.
"Ibu Vanya mencari orang atas nama Vano." ucap suster itu tak menjawab pertanyaan mama Fara.
"Vano, Vano mana Vano." linglung mama Fara.
Mungkin saking paniknya sampai sampai mama Fara lupa kalau Vano masih dalam perjalanan pulang.
"Tuan Vano lagi dalam perjalanan menuju ke sini sus." jawab Sri.
"Harap segera sampai, karena pasien menyebutkan nama itu terus." balas suster itu lagi.
"Fara gimana keadaan anakku?" tanya mama Vani heboh saat sampai di sana.
"Vanya masih di tangani di dalam. Dia nyari Vano terus, sedangkan Vano masih dalam perjalanan pulang." jawab mama Fara.
"Astaga anakku, ya udah saya boleh masuk kan sus? Saya mamanya." ucap mama Vani pada suster yang tadi itu.
"Silahkan nyonya, tapi hanya satu orang saja yang boleh." balas suster itu memberikan izin buat mama Vani masuk.
"Pa aku kedalam dulu ya." izin mama Vani dan segera masuk ke dalam ruang bersalin untuk menemani Vanya.
-
Sedangkan di tempat lain, pesawat yang di tumpangi Vano baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Vano berlari keluar dari dalam pesawat dan mencari mobil yang sudah menunggunya di sana.
"Ayo pak cepat." perintah Vano pada sopir yang mengemudikan mobil itu.
"Baik tuan."
__ADS_1
Mobil itu pun segera melesat jauh menuju rumah sakit, Vano sampai lupa membawa barang barangnya yang ada di pesawat tadi karena saking paniknya.
...***...