
Vano menerbangkan drone miliknya itu menuju ke arah mansion Marvel. Di memantaunya melalui tablet yang ada di tangannya.
"Penjaganya ketat banget." gumam Vano setelah melihat situasi sekitar mansion.
Vano mengarahkan drone itu ke arah belakang mansion, setelah itu dia mengarahkannya ke samping.
"Keknya lewat sini bisa deh."
Vano terus mencari dan menyiapkan semua hal yang di perlukan buat melancarkan aksi nanti.
-
Sementara Vanya dan Fira, mereka sekarang tengah memilih tas di sebuah toko. Dengan menajamkan pendengarannya, Fira mengamati sekitar. Saat merasa ada beberapa orang yang tengah mengawasi mereka, Fira tersenyum smirk.
"Van, lo siap siap aja. Mereka sudah ada di sekitar kita." bisik Fira pada Vanya.
"Hah, seriusan lo." Vanya akan menolehkan kepalanya mencari keberadaan orang orang itu tapi segera di tahan oleh Fira.
"Lo jangan cari mereka, nanti kita ketahuan."
"Terus gw harus gimana."
Vanya panik, meskipun dia sudah mempersiapkan diri tapi tetap saja rasa panik dan takut itu ada.
"Lo harus tetap tenang, ingat kata Vano."
Vanya pun menarik nafasnya dalam-dalam setelah itu menghembuskan nya dengan perlahan guna menenangkan dirinya.
"Gimana, udah tenang?" tanya Fira di jawab anggukan kepala oleh Vanya.
"Ya udah kalau gitu gw mau pura pura ke toilet dulu." lanjut Fira.
"Lapor, target sudah mendekat." laporan Fira berikan pada yang lain.
Fira pun segera pergi meninggalkan Vanya di sana.
Vanya merasa ada beberapa orang yang mendekat kepada nya. Vanya berusaha tetap santai meskipun hatinya dag dig dug ser.
Sementara orang yang berada di belakang Vanya memberikan kode kepada temennya melalui lirikan mata untuk mendekap mulut mulut serta hidung Vanya dengan obat bius.
Orang itu maju satu langkah,dua langkah sampai benar benar berada di belakang Vanya dan...
"Hmmtt...emmm...emmm." Vanya berusaha bersuara untuk meminta tolong, tapi terlambat karena dia sudah pingsan duluan.
"Woy lepasin teman gw." teriak Fira.
Pengunjung yang berada di sana pun ikutan panik dan akan menolong Vanya yang sudah pingsan di tangan orang orang yang berpakaian hitam itu. Tapi nyali mereka menciut saat salah satu dari mereka menodongkan sebuah pistol ke udara.
__ADS_1
"Jangan mendekat atau kalian akan mati di sini." ucap salah satu dari penculik itu.
-
Sementara Lucas di buat kalang kabut di ruangan cctv, karena saat momen momen menegangkan saat Vanya di dekati beberapa orang tiba tiba semua cctv di mall itu eror.
"Loh ini kenapa?" panik Lucas.
Lucas pun segera mengotak-atik keyboard komputer tapi hasilnya tetap sama, di layar hanya ada warna abu abu yang bergerak seperti semut.
"Aduh gimana ini."
"Monitor monitor." pangil Lucas melalui alat yang ada di telinganya tapi tidak ada yang menjawab juga.
"Halo halo." pangil Lucas lagi.
"Loh ini kenapa juga." Lucas segera memeriksa alat itu, dan benar saja alat itu sudah mati dan tidak bisa di gunakan lagi.
"Vanya, iya Vanya dalam bahaya." Lucas segera berlari menuju tempat Vanya berada tadi, karena saking paniknya dia sampai lupa untuk menghubungi Farrel dan Vano melalui telepon genggam yang dia punya.
-
"Lepasin teman gw, atau kalian mati." ucap Fira mengeluarkan pistol dari punggungnya.
"Oooh, jadi ini sudah di rencanakan." ucap salah satu dari orang yang menculik Vanya tadi sambil tersenyum mengejek.
"Kalian bawa dia ke mobil, biar dia kita yang urus." perintah orang itu yang sepertinya orang yang penting di white Devil.
Mereka pun segera membopong Vanya keluar dari toko itu, sementara Fira berusaha mengejar mereka tapi di hadang oleh orang yang tadi.
"Mau kemana nona cantik?" cegah orang itu.
"Monitor monitor." Fira berusaha memangil Farrel agar mengarahkan anak buah untuk menyelamatkan Vanya, tapi tidak bisa.
"Monitor monitor." ulang Fira.
"Kenapa nona, tidak bisa ya." ejek orang itu.
"Sial*n."
Bug.
Fira segera menendang perut orang yang ada di depannya itu.
"Oooh jago beladiri juga nona." ejek orang itu.
"Kalian semua, serang."
__ADS_1
Bug bug bug.
Baku hantam pun terjadi antara Fira sendiri alias solo lawan squad laki laki berbadan besar besar.
-
"Nih mereka pada kemana sih, kok belum ada yang lapor." gumam Farrel.
"Kok perasaan gw gak enak gini ya." lanjutnya.
Farrel mengamati sekitar, dia mencoba menghubungi Fira dan Lucas tapi tidak bisa.
"Kok gak bisa?" gumam Farrel lagi.
"Jangan jangan...." Farrel yang merasa Vanya dalam bahaya pun segera mengerahkan anak buahnya yang lain untuk masuk ke dalam mall mencari keberadaan Vanya dan Fira. Dan yang lainnya lagi agar bersiap di luar mall dan di mobil yang sudah di siapkan.
"Gw harus hubungi Vano." Farrel pun segera menghubungi Vano.
-
Di depan mansion Marvel, tepatnya di posisi Vano. Dia tengah menurunkan drone dan menyimpannya di dalam tempatnya tadi.
"Gw harus periksa tempatnya secara langsung." gumam Vano.
Vano hanya membawa senjata dan beberapa peralatan yang sudah dia buat beberapa waktu lalu dan segera keluar dari mobilnya. Vano meninggalkan ponselnya karena takut nanti bunyi saat dia tengah beraksi.
"Fokus Vano, lo harus bisa masuk ke dalam." ucap Vano memberikan semangat untuk dirinya sendiri.
Vano pun segera berjalan dengan mengendap endap dan mengamati sekitar ada cctv atau tidak, agar dia tidak ketahuan.
-
"Sia* ini Vano kemana sih kok gak bisa di hubungi." kesal Farrel, karena sudah menghubungi Vano berkali-kali tapi tidak di angkat.
"Apa gw masuk ke dalam aja ya."
"Iya deh, gw harus masuk ke dalam."
Farrel keluar dari mobil dan memberi tahu anak buahnya yang bersiap di mobil agar nanti jika ada yang mencurigakan segera mengejar mereka. Dan setelah itu dia segera masuk ke dalam mall lewat pintu belakang. Farrel melupakan apa yang Vano perintahkan agar tetap di dalam mobil saja untuk mengikuti penculik nanti.
-
Lucas berlari menuju tempat yang tadi terakhir kali dia melihat Vanya dan Fira. Hingga dia tidak menyadari di sampingnya ada orang yang tengah mendorong sebuah kado yang besar. Lucas tidak mengira itu di dalamnya ada Vanya, Lucas kira itu kado biasa saja. Lucas terus berlari mencari Fira dan Vanya.
Sementara Farrel saat dia melewati parkiran yang sepi, dia melihat beberapa orang berpakaian hitam dan ada logo di lengan kirinya bertuliskan white Devil tengah membopong seseorang dengan tubuh di tutupi sebuah kain. Farrel pun segera berlari menghampiri beberapa orang itu, karena dia mengira itu adalah Vanya.
"Woy berhenti kalian." teriak Farrel membuat orang orang itu berbalik melihat Farrel dan setelah itu berjalan agak cepat untuk menghindari Farrel.
__ADS_1
"Halo kalian semua bersiap dalam mobil, mereka keluar lewat pintu belakang mall." perintah Farrel pada anak buahnya melalui sambungan telepon.
...***...