My Ketos My Lady

My Ketos My Lady
part 125


__ADS_3

"Itu apa Vin?" Tanya Farrel yang melihat Vino memasukkan sesuatu ke kantong celananya."


"Hah, itu...anu, apa itu..anu.." bingung Vino memutar otaknya agar mengeluarkan ide yang berlian.


"Anu apa Vin?"


"Eemmm...ini su.."


"Su apaan sih Vin, sini coba kak Farrel lihat." mau mengambil sesuatu yang ada di kantong celana Vino tapi segera di cegah oleh Vino.


" Susu iya ini susu botolan yang tadi kakak belikan tadi. Vino berniat mau bagi ini buat kak Vano, kan pasti kak Vano juga haus sehabis joging tadi, karena Vino baik hati dan tidak sombong makanya Vino mau bagiin ini ke kak Vano." alasan Vino.


"Oooh susu. Trus kenapa kok gak jadi kamu kasih ke Vano?" tanya Farrel menyelidik.


"Itu anu... apa namanya... nah iya kak Vanonya lagi mandi jadi nanti aja Vino kasihnya. Ya udah kak Vino mau ke kamar dulu, mau mandi." Vino cepat cepat lari ngibrit ke kamarnya sebelum di tanya tanya Farrel lagi.


"Ehh Vin, bibir kamu kenapa kok merah gitu?" tanya Farrel agak berteriak tapi tak di hiraukan oleh Vino.


"Anak itu, untung gw orangnya sabaran, coba kalau enggak. Udah gw buang di jalan tadi tuh anak." monolog Farrel.


Tok tok tok.


"Van." pangil Farrel setelah mengetuk pintu kamar Vano.


Dalam kamar Vano.


"Sayang dengerin aku dulu." pangil Vano menghampiri Vanya yang sedang berdiri di depan cermin dengan wajah tampa ekspresi.


""Sayang." pangil Vano lagi dari belakang Vanya.


Tok tok tok.


"Van." pangil seseorang dari luar.


Tanpa mengatakan apapun Vanya melengos pergi untuk membukakan pintu.


"Hufft sabar Van, lagian lipstik siapa sih itu." gumam Vano pusing.


Ceklek.


"Ehh kakak, Vanya kira siapa tadi." ucap Vanya saat melihat ternyata Farrel yang ada di depan pintu.


"Hai princess nya kakak, gimana liburannya kemaren di Bali seru gak?" tanya Farrel sambil berjalan memasuki kamar Vano mengikuti langkah Vanya.


"Ya gitu deh, kakak kok gak bilang sih kalau semalam nginap di sini. Tau gitu Vanya tungguin kakak sampai pulang semalam."


"Duduk sini kak." mempersilahkan Farrel untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar Vano.

__ADS_1


"Kan kakak nginapnya juga dadakan kemaren. Sebenarnya kakak mau pulang cuma sama Om William suruh nginap di sini jadi ya kakak ikut aja, sekalian kakak mau kenalan sama Vino." terang Farrel.


"Ooh gitu, trus gimana udah kenalan sama Vino, gimana anaknya seru gak?"


"Kakak kira yang namanya Vino itu gemesin, penurut gitu, ehh tau taunya gak ada akhlak sama kayak kakaknya."


"Kamu tahu gak?" lanjut Farrel.


"Enggak." jawab Vanya memotong omongan Farrel yang belum selesai.


"Iiiss kakak belum selesai ngomong." kesal Farrel.


"Jangan bilang kamu ngeselin gara gara suka kumpul sama Vino." memicingkan matanya kepada Vanya.


"Hahaha enggak enggak Vanya becanda, ya udah kakak tadi mau ngomong apa?"


"Kakak itu kesel banget, masak nih ya Vino tadi waktu di taman itu minta beliin jajan, mainan trus minta gendong juga. Dan lagi nih ya, masak kakak yang beliin mainan pakai uang kakak, kakak juga yang bawa mainannya sampai dalam mobil." curhat Farrel.


"Buahahahaha." tawa Vanya mendengar cerita kakaknya yang di kerjain Vino.


"Kok kamu ketawa sih, kamu gak kasian sama kakak." dengan wajah sok sedih.


"Hehehe maap, habisnya Vanya kira tuh kakak gak bakal di kerjain sama Vino karena baru kenal, ehh tau taunya di kerjain juga. Kakak masih mending si cuma sehari, Vano malah hampir tiap hari kalau ketemu mereka selalu ribut."


"Nah Vano juga ngeselin, masak tadi dia gak mau bantuin kakak, kan kakak jadi makin kesel."


"Oh iya ngomong ngomong Vano kemana kok gak kelihatan?" tanya Farrel menetap sekitar kamar yang tak terdapat Vano.


"Tadi ada kok mungkin lagi di kamar mandi." jawab Vanya asal, sebenarnya dia juga gak tahu di mana keberadaan Vano sekarang.


"Ooh."


"Kakak ada apa nyamperin Vanya ke sini, pasti kangen ya." sok kepedean Vanya.


"Enggak sih biasa aja kakak gak kangen, kakak tadi ke sini karena di suruh Tante Fara buat manggil kalian untuk sarapan."


"Yah, kirain kakak kangen sama aku." merajuk.


"Atututu gemes banget sih princess kalau kayak gini, jadi pengen karungin trus di lempar ke jurang." rangkul pundak Vanya dengan erat sehingga membuat Vanya susah bergerak.


"Enak aja mau buang Vanya, Vanya bilangin papa nanti biar kakak di marahin. Lepasin dulu kak Vanya sesak nih." meronta ronta ingin melepaskan diri.


"Coba aja kalau bisa." makin mengeratkan rangkulannya.


"Iiih kakak, Vanya cubit nih." mencubit pinggang Farrel.


"Gak sakit gak sakit wlee." ejek Farrel.

__ADS_1


"Satu, dua,ti..." hitung Farrel.


Hahahaha...


Tawa Vanya lantaran Farrel menggelitik perutnya.


"Stop kak stop, Vanya geli, hahahaha...." berusaha kabur dari Farrel.


Farrel terus menggelitik Vanya hingga wajah Vanya memerah lantaran kegelian, tanpa menyadari di balik pintu walk in closed yang ada kacanya terdapat sepasang mata yang tengah menatap mereka dengan wajah wajah cemburu.


"Farrel, awas aja lo. Gw bejek bejek nanti." menonjok nonjok tangannya sendiri sambil meremas tangannya dengan kuat.


"Vanya juga, gak mikirin perasaan gw apa, awas aja nanti malam kalau sudah pulang ke rumah gw hukum sampai gak bisa jalan." kesal Vano melihat adegan di depan matanya tanpa mau menampakkan dirinya.


Bukannya takut ketemu Farrel, tapi Vano gak mau kalau sampai masalah Vanya dan dirinya di ketahui oleh orang lain, meskipun itu keluarganya sendiri.


-


"Huhhh... dah kakak ke bawah dulu, nanti kamu ajak Vano buat turun sarapan ya." pamit Farrel setelah menghentikan glitikan nya.


"Iya kak." jawab Vanya.


Farrel pun keluar dari kamar Vano, dan Vano pun keluar juga dari tempat persembunyiannya tadi.


"Sayang." pangil Vano yang membuat Vanya menoleh ke arahnya.


"Kamu dengerin aku dulu ya, aku beneran gak selingkuh sama kamu. Lagian siapa sih yang bilang kalau aku pelukan di taman hmm?" ucap Vano menghampiri Vanya.


"Yang bilang itu si..."


Tok tok tok.


"Kakak ayo cepat turun udah di tungguin mama sama papa." suara teriakkan Vino dari luar kamar.


"Huh bocil satu ganggu aja." gumam Vano.


"Ya udah yuk kita turun aja, kita bicarakan nanti saja." ajak Vano mengandeng tangan Vanya keluar dari kamar.


Di depan kamar mereka melihat Vino yang tengah menunggu mereka berdua dengan tangan yang berada di dadanya.


" Ngapain kamu masih di sini?" tanya Vano pada adiknya.


"Ya nungguin kakak lah, kakak lama kayak tante tante kalau lagi dandan." ucap Vino dan setelah itu dia pergi meninggalkan Vanya dan Vano yang bengong melihat tingkah adiknya.


"Gini amat ya punya adik satu." gumam Vano yang membuat Vanya tertawa tapi hanya di dalam hati, karena Vanya masih marah sama Vano.


...***...

__ADS_1


__ADS_2